Beranda / Opini / Iman Sebagai Pembimbing Kehidupan

Iman Sebagai Pembimbing Kehidupan

Jalanhijrah.com-Zaman sekarang banyak sekali orang demi untuk kepentingan sesaat, rela melakukan kebohongan-kebohonan dengan berbagai alasan. Bahkan, banyak orang yang demi untuk meraih kedudukan atau posisi tertentu berusaha melakukan sesuatu walaupun tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Kebiasan-kebiasaan tersebut akan menjadi sebuah nilai yang dianggap biasa saja. Walaupun pada saat yang sama merosotnya nilai-nilai kemanusiaan, karena situasi dan kondisi yang selalu diperkuat oleh kekuasaan “jahiliyah modern” maka lepasnya nilai-nilai kemanusiaan tersebut bukanlah sesuatu yang mesti dikhawatirkan selama tujuan dapat terlaksana tepat waktu dan tepat sasaran. Pada akhirnya manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi jasmani dan rohani  kemudian akan tertutup menjadi  makhluk yang tidak sempurna karena lepasnya sebagian nilai-nilai iman yang dimilikinya.

Disinilah perlunya kita meletakan nilai-nilai keimanan yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar dijadikan sebagai bahan hapalan saja, melainkan menjadikannya sebuah panduan hidup yang didalamnya melekat sebuah nilai operasional dan bukti implementasi dari keimananya. Jika ini terjadi, maka proses yang mengarah pada dehumanisasi tidak akan terjadi minimal pada diri sendiri sebelum menyebarkan pengaruhnya pada orang lain.

Manusia diberikan keleluasaan oleh Allah SWT untuk menyampaikan keinginan dan maksudnya, dan Allah SWT akan mengabulkan setiap doa yang disampaikan. Tapi tentunya disamping keluarbiasaan yang mungkin saja timbul, namun juga perlu diperhatikan, adanya petunjuk-petunjuk langsung yang tersurat dari kitab yang diturunkannya untuk mengembangkan ikhtiar yang semaksimal mungkin. Lalu diakhiri untuk bersikap tawakal menerima segala sesuatu yang sudah ditentukanya.

Namun, manakala kita sudah sampai pada tataran berusaha kemudian dihadapkan pada situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan, kita diharuskan bersikap tawakal menerima segala ketentuan-Nya. Namun bukan berarti menerima begitu saja lalu diam pada titik dirubahnya nasib oleh Tuhan kita, melainkan tawakal dalam arti menerima kemudian melakukan evaluasi atas apa yang telah dikerjakan dan kembali berdoa, berikhtiar, tawakal begitu dan begitu seterusnya.

Jika kondisi tersebut sudah terlaksana, maka janji Allah SWT untuk merubah nasib seseorang bukan lagi hanya sekedar dalil-dalil yang biasa kita dengar dari ceramah-ceramah yang hanya mampu menyejukkan hati kita, melainkan menjadi sebuah bukti nyata dari keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang mesti kita sembah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, iman terhadap segala ketentuan Allah SWT dengan segala kehendaknya, merupakan sebuah identitas manusia yang menyandarkan diri dalam sebuah kepatuhan terhadap-Nya. Iman memiliki tiga hal yang tidak pernah bisa lepas antara satu dengan yang lainnya. Yakni,  memiliki niat dalam melakukan segala sesuatu, mengucapkan dalam arti yang seluas-luasnya,  dan merealisasikan niat dan ucapannya tersebut dalam sebuah perbuatan. Ini merupakan sebuah manisfesati keutuhan dari sebuah konsep yang perlu tertanam dalam diri seseorang.

Orang yang dihinggapi oleh pemahaman yang benar mengenai iman akan selalu berupaya menyelaraskan setiap perbuatan dengan unsur-unsur iman yang dimlikinya. Meniatkan dalam hati membuahkan sebuah ide atau gagasan, kemudian mengucapkan sebagai upaya untuk mengkomunikasikan ide tersebut, kemudian mengembangkan kreasinya tersebut untuk mewujudkan harapan dari ide awal dalam segala hal dalam kehidupannya.

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki keimanan yang teguh, mereka biasanya tidak membuktikan sebuah konsep yang nyata dari ide yang dimilikinya. Seringkali antara niat dalam hati, ucapan serta perbuatannya tidak sejalan bahkan bertentangan satu sama lain, inilah yang biasa kita sebut munafik. Pada akhirnya, karena tidak memiliki kesatuan dalam memenuhi ketiga unsur iman tersebut membuat orang yang mengalaminya seringkali dihinggapi penyakit-penyakit yang lambat laun mengganggu keimanannya serta merusak kehidupanya dengan  penyakit hati yang ditimbulkannya.

Keimanan akan membuat seseorang hidup dengan sebuah keyakinan akan langkah yang dijalankannya. Setiap gerak yang dilaksanakan akan selalu berawal dari sebuah ide, kemudian selalu berupaya merencanakannya dengan matang kemudian melaksanaan dengan penuh ketelitian dan ketekunan. Iman mampu membuat seseorang menjadi seorang manager bagi dirinya sendiri, dan kemudian mampu menjadi manusia yang berhasil dalam mencapai tujuan dari kekhalifahannya di muka bumi.

*PenulisAcep Sutisna-Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Sukabumi

Tag: