Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 5 Apr 2022 12:00 WIB ·

Hukum Zakat via Transfer Bank Atau Online


					Hukum Zakat via Transfer Bank Atau Online Perbesar

Jalanhijrah.com– Saat ini banyak di antara kaum muslimin yang membayar zakat secara online, baik melalui transfer uang via internet dan mobile banking, ATM, atau aplikasi tertentu. Sehingga ketika membayar zakat, tidak ada pertemuan langsung antara orang yang berzakat dengan pihak penerima, baik itu mustahik atau amil zakat. Sebenarnya, bagaimana hukum membayar zakat fitrah secara online, apakah boleh?

Pada dasarnya, barang zakat hanya tertentu pada makanan pokok. Namun, terdapat sebagian ulama yang membolehkan untuk membayar dengan harga barang tersebut ketika dalam keadaan terdesak. Sebagaimana dalam keterangan kitab Majmuk Syarhil Muhaddab, juz 6, halaman 144 berikut,

مَسْأَلَةٌ لَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ فِي الْفِطْرَةِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَقَالَ أَبُو حَنِيْفَةَ يَجُوْزُ وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ وَالثَّوْرِي وَقَالَ إِسْحَقُ وَأَبُو ثَوْرٍ لَا تُجْزِئُ إلَّا عِنْدَ الضَّرُوْرَةِ. (المجموع شرح المهذب: 6/ 144)

Artinya : “Permasalahan : Menurut kalangan kita (Syafi’iyah) zakat fitrah tidak bisa ditunaikan menggunakan harga barang. Pendapat ini selaras dengan pendapat Imam Malik, Ahmad dan Ibn Mundzir.  Menurut Abu Hanifah hal tersebut diperbolehkan, sebagaimana diceritakan dari Ibn Mundzir dari  Hasan al-Basry , Umar Bin Abdul Aziz dan Tsaury. Imam Ishak berkata tidak mencukupi kecuali dalam kondisi darurat.”

Redaksi diatas kemudian didukung oleh redaksi lain yang menyatakan bahwa penyerahan uang menjadi sangat tepat ketika mustahiq zakat lebih membutuhkan saluran dana finansial ketimbang makanan pokok. Sebagaimana dalam kitab Hasiyah al-Tahawy halaman 724 berikut,

Baca Juga  Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

وَيَجُوْزُ دَفْعُ الْقِيْمَةِ وَهِيَ أَفْضَلُ عِنْدَ وجْدَانِ مَا يَحْتَاجُهُ لِأَنَّهَا أَسْرَعُ لِقَضَاءِ حَاجَةِ الْفَقِيْرِ.

Artinya : “Dan diperbolehkan menyerahkan harga dari barang. Bahkan hal tersebut dinilai lebih utama ketika adanya sesuatu yang dibutuhkan. Karena harga barang itu lebih cepat sebagai solusi memnuhi kebutuhan orang Fakir”

Pembayaran zakat fitrah menggunakan selain makanan pokok merupakan solusi bagi penderma dan pemilik derma yang memiliki kesulitan-kesulitan urgen serta tidak dapat dihindari. Walhasil, tindakan Muzakki di atas tentu dibenarkan oleh syariat dan kewajiban zakatnya pun sudah gugur. Demikian penjelasan mengenai hukum membayat zakat via transfer bank. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

*Oleh Zainal Abidin

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian