Hati-Hati! Penafsiran Keliru Bin Sesat Kelompok Radikal

Jalanhijrah.com-Doktrin radikalisme tidak dapat disepelekan. Paham ini benar-benar sangat membahayakan semua hal. Pelakunya berusaha keras untuk menafsirkan teks Al-Qur’an bukan sesuai dengan yang dimaksud Tuhan, tapi dipaksakan sesuai dengan hawa nafsunya sendiri.

Memaksakan penafsiran teks sesuai dengan hawa nafsunya termasuk sesuatu yang keliru. Ia seakan membuat kalam Tuhan “tunduk” terhadap hawa nafsu. Penafsiran yang semacam itu dikategorikan sebagai “ad-Dakhil fit Tafsir” (sesuatu yang menyimpang dari maksud Tuhan).

Ada yang penafsiran teks yang dipaksakan sesuai dengan hawa nafsu kelompok radikal. Pertama, penafsiran tentang jihad. Jihad bagi kelompok radikal dipahami secara sempit. Bahwasanya jihad adalah perang melawan orang kafir. Padahal, jihad itu tidak sebatas perang.

Jihad memiliki cakupan yang sangat luas. Bisa jadi salah satunya perang. Perang melawan hawa nafsu yang memusuhi kita. Bisa jadi juga jihad ada belajar. Karena, belajar adalah bentuk memerangi kebodohan. Dan seterusnya. Jadi, jihad termasuk usaha sekuat tenaga untuk mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik. Dan, terus meningkatkan sesuatu yang baik menjadi semakin lebih baik.

Kedua, penafsiran tentang kafir. Kelompok radikal memusuhi orang yang dianggap oleh mereka dengan kafir. Siapa kafir itu? Mereka sering mengalamatkan sebutan “kafir” kepada orang yang tidak sepemikiran dan sekeyakinan dengan mereka. Termasuk orang Indonesia sendiri, bahkan yang muslim karena tidak sekelompok dengan mereka diklaim kafir.

Baca Juga  Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Menampilkan Wajah Islam yang Rahmah dan Maslahah

Padahal, kafir tidak seperti yang kelompok radikal pahami. Kafir itu adalah orang menutup hatinya untuk beriman kepada Tuhan yang Esa. Pertanyaannya, apakah orang di luar Islam beriman kepada banyak tuhan alias musyrik? Pemeluk agama, muslim maupun non-muslim, meyakini Satu Tuhan. Jadi, tidak pantas pemeluk agama di luar Islam disebut dengan “kafir”.

Ketiga, penafsiran tentang Khilafah. Kelompok radikal, khususnya pengusung Khilafah meyakini Khilafah adalah syariat Islam. Mereka mendasarkan gagasannya dengan rencana Tuhan menciptakan Khalifah di muka bumi yang terekam dalam ayat Al-Qur’an. Padahal, khalifah yang dimaksud Tuhan bukan Khilafah yang diusung oleh kelompok radikal. Khalifah yang dimaksud Tuhan adalah Nabi Adam dan keturunannya yang diutus Tuhan untuk mengembangkan bumi.

Khalifah yang disenangi oleh Tuhan dibekali dengan ilmu. Karena, Khalifah yang tidak berilmu akan melakukan sesuatu dengan akibat yang fatal. Buktinya, kelompok radikal yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi dengan aksi-aksi terorisme. Mereka melakukan tindakan yang maha kejam itu kerena tidak dibekali dengan ilmu yang mapan. Mereka baru belajar dan itupun belum paham sudah “sok” mendakwahi orang lain.

Sebagai penutup, beberapa penafsiran keliru bin sesat kelompok radikal hendaknya dihindari. Sebab, mengonsumsi penafsiran tersebut akan mengotori pikiran dan akibatnya gemar melakukan tindakan radikal berwajah terorisme. Penafsiran tersebut bertentangan dengan pesan Tuhan yang disisipkan di dalam teks Al-Qur’an.[] Shallallah ala Muhammad.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *