Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 13 Jan 2022 12:00 WIB ·

Haruskah Menghapus Make-Up Saat Akan Berwudhu?


					Haruskah Menghapus Make-Up Saat Akan Berwudhu? Perbesar

Jalanhijrah.com-Tidak dapat dipungkiri. Saat ini, make up dan perempuan adalah dua hal yang cukup sulit dipisahan. Sebab, berhias sudah menjadi kebutuhan bagi setiap perempuan. Bahkan, banyak dari kalangan Perempuan saat ini yang tidak mau keluar rumah sebelum ber-make up dan berhias.

Hukum make up dalam islam memang bukanlah sesuatu yang haram dilakukan. Sebab, itu adalah bentuk merawat diri dan menjaga anugerah yang Allah SWT berikan. Allah SWT juga mememerintahkan kepada kita untuk berhias dengan syarat tidak berlebih-lebihan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 31:

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Namun, yang menjadi masalah saat ini yaitu, bagaiamana hukumnya jika seorang perempuan berwudhu sedangkan Make Up-nya masih menempel di wajah? Mengingat, hakikat dari berwudhu harus mengenai seluruh anggota tubuh tanpa terhalang sesuatupun. Celakalah bagi siapa yang berwudhu tapi tidak sempurna. Sebagai mana Hadits Rasulullah SAW:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

Artinya : “Celaka atau lembah wail (di neraka jahanam) bagi para pemilik tumit yang tidak terkena air wudhu. Sempurnakan wudhu kalian!” (HR. Muslim)

Baca Juga  Parlemen Baru Irak Langsungkan Pertemuan Pertama pasca Pemilu

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis kosmetik yang digunakan untuk berhias. Karena jika dikategorikan, make up perempuan pada umumnya itu ada dua jenis:

Pertama, Make up water resistant. Make up ini memiliki kandungan yang ringan sehingga mudah dihapus oleh penggunanya. Cukup dengan dibasuh sedikit aja, maka bahan make up yang tertempel akan hilang bersama air.

Kedua, Make up waterproof. Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa, make up jenis ini memiliki sifat anti air yang dapat menghalangi air wudhu yang terkena kulit. Make up ini juga memiliki ketebalan yang membentuk lapisan. Lapisan inilah yang dapat menghalanngi air wudhu mengenai kulit.

Dari dua jenis make up di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa, sah atau tidaknya wudhu seseorang yang ber-make up tergantung dengan jenis make up yang digunakan. Kalau make up yang digunakan memiliki kandungan yang ringan maka wudhunya sah-sah saja. Akan tetapi, jika jenis make up yang digunakan memiliki kandungan anti air, maka harus dihapus terlebih dahulu sampai tidak ada bahan make-up yang dapat menghalangi kulit terkena air.

Hukum ini juga diperkuat dengan pendapat Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj :

وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيُّرًا ضَارًّا أَوْ جُرْمٌ كَثِيفٌ يَمْنَعُ وُصُولَهُ لِلْبَشَرَةِ

Baca Juga  Ini yang Dimaksud dengan Seribu Bulan dalam Lailatul Qadar

“Hendaklah pada anggota tubuh tidak ada sesuatu yang dapat merubah air dengan perubahan yang berpengaruh (pada sifat air) atau sesuatu yang tebal yang mencegah sampainya air pada kulit.” (Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Asy-Syarwani, I/187).

Muhamad Firdaus, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Mahasantri Monashmuda Institute, Alumni MTA Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi

26 Juli 2022 - 14:00 WIB

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi
Trending di Fikih Harian