Pertengahan tahun 2024 lalu, saya duduk bersama teman-teman di boarding lounge Bandara Adi Soemarmo. Sambil menunggu kedatangan pesawat yang masih satu jam lagi, saya mendekati rak buku di sudut ruangan. Sebuah bacaan bertajuk The Things You Can See Only When You Slow Down (2017) mencuri perhatian saya.
Sampulnya apik, berlatar hijau lembut dengan banyak bunga berwarna putih. Di atas kavernya tertulis kalimat bercetak tebal dengan huruf kapital: “Terjual Lebih Dari Tiga Juta Eksemplar”. Konon, buku itu menjadi panduan dalam bermeditasi dan menghadapi tantangan sehari-hari. Penulisnya, Haemin Sunim, merupakan sosok berpengaruh di Korea Selatan sekaligus guru agama Buddha Zen.
Buku itu mengandung buah pikiran yang amat kontekstual dengan keadaan dunia saat ini. Haemin mengajak pembaca untuk menyadari bahwa ketika melambatkan diri, dunia akan melambat bersama kita. Beberapa kutipan bisa menjawab kegelisahan yang terus-menerus menghantui kehidupan banyak orang.
Ada sebuah kalimat yang masih saya ingat hingga kini: “Ketika segala sesuatu di sekitarku bergerak sangat cepat, saya berhenti dan bertanya: Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?” Kalimat itu menjadi gambaran keadaan dunia yang semakin riuh memenuhi beragam ruang kehidupan. Keriuhan itu terkadang menarik kita untuk hidup dengan cepat, tanpa jeda dan pemaknaan. Akibatnya, kita rawan terjebak pada berbagai masalah, seperti brain rot hingga popcorn brain.
Apa itu Popcorn Brain?
Popcorn menjadi makanan yang lezat ketika disejajarkan dengan film. Lebih puitik lagi ditemani sebait puisi dari orang terkasih. Namun, lain cerita ketika disandingkan dengan kata brain. Maknanya menjadi berubah nyaris 180 derajat. Dari yang semua manis, lezat, dan gurih, menjadi kosong, hampa, dan meaningless.
Popcorn brain adalah istilah yang menggambarkan kondisi otak manusia yang terus-menerus terpapar stimulasi digital dalam jumlah besar, seperti notifikasi media sosial, pesan instan, video, dan berbagai konten digital lainnya. Individu dengan popcorn brain sering kesulitan untuk fokus, memiliki perhatian yang mudah teralihkan, dan kurang mampu menikmati momen di dunia nyata.
Forbes dalam artikel bertajuk A Psychologist Explains The Rise Of ‘Popcorn Brain’ (2024) menukilkan bahwa istilah Popcorn Brain diperkenalkan oleh David Levy, seorang peneliti di Universitas Washington pada tahun 2011. Sebutan itu merujuk pada kondisi mental yang ditandai dengan pikiran yang tidak fokus dan terbagi-bagi dengan cepat layaknya biji jagung yang meletus menjadi popcorn. Fenomena ini semakin relevan di era teknologi yang serba cepat, ketika perangkat digital menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Apa yang Membuat Kita Terjebak pada Popcorn Brain?
Digital Citizenship Indonesia menuliskan bahwa sejak tahun 2000 hingga 2015, kemampuan manusia untuk tetap fokus mengalami penurunan hingga 25 persen. Menurut penelitian, rentang perhatian manusia kini berada di angka 8,25 detik, lebih rendah dibandingkan ikan mas yang memiliki rentang perhatian rata-rata 9 detik. Kondisi itu salah satunya dipicu oleh popcorn brain. Berikut adalah beberapa faktor yang membuat kita terjebak dalam kondisi ini:
- Terlalu Banyak Informasi Information overload adalah kondisi ketika otak kewalahan memproses banyak informasi dalam waktu singkat. Informasi itu bisa berasal dari email, berita, video, dan aplikasi lainnya. Ketika otak terus dibombardir oleh data, pikiran menjadi penuh dan berdampak pada kemampuan untuk fokus, mengambil keputusan, dan memahami informasi secara mendalam.
- Multitasking Digital Kebiasaan beralih antara aplikasi, tab, atau perangkat dengan cepat membuat otak terbiasa berpindah-pindah fokus tanpa mendalami satu tugas secara penuh. Awalnya, ini hanya terjadi pada cara kita menggunakan gawai, tapi seiring berjalannya waktu, kecenderungan ini akan merambat pada banyak aspek kehidupan.
- Algoritma yang Menjebak Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna dengan konten yang menarik dan relevan. Algoritma media sosial mampu mendeteksi hal-hal yang kita sukai dan terus menghadirkannya pada gawai. Kondisi ini membuat kita sulit berhenti menggunakan perangkat.
- Kecanduan Media Sosial Setiap kali menerima notifikasi, menyelesaikan level dalam permainan, atau mendapatkan like di media sosial, otak melepaskan dopamin, zat yang memberikan rasa senang. Proses ini menciptakan semacam ‘lingkaran hadiah’ yang membuat kita terus-menerus mencari stimulasi serupa. Akumulasi kebiasaan itu membuat kita terbiasa dengan aliran informasi cepat, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam menjadi terasa membosankan atau bahkan tidak nyaman.
Bagaimana Melepaskan Diri dari Popcorn Brain?
Melepaskan diri dari popcorn brain memang bukan hal yang mudah. Tubuh biasanya mengalami kecanduan pada stimulus yang serba cepat, banyak, dan melimpah. Akan terasa aneh ketika kita memulai hidup yang berkebalikan dengan hal tersebut. Namun, berani memulainya adalah langkah terbaik untuk menyelamatkan diri kita dari beragam masalah di masa kini maupun masa depan.
Berikut beberapa langkah yang bisa membantu kita terlepas dari popcorn brain:
- Berfokus pada Satu Tugas Biasakan diri dengan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi penuh, seperti membaca buku, meditasi, atau menulis jurnal. Hal ini membantu melatih otak untuk fokus lebih lama.
- Nikmati Kesunyian Menikmati kesunyian adalah seni menghargai momen tanpa gangguan atau kebisingan, baik dari luar maupun dari pikiran kita sendiri. Kesunyian adalah ruang yang berharga untuk introspeksi, pemulihan, dan kedamaian.
- Mindfulness Berlatih mindfulness adalah praktik yang melibatkan kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa menghakimi. Kita bisa berlatih memusatkan perhatian pada apa yang sedang kita alami—baik itu sensasi tubuh, emosi, pikiran, maupun lingkungan sekitar—dengan sikap menerima dan tanpa tergesa-gesa.
- Digital Detox Tetapkan batasan waktu untuk penggunaan perangkat digital, seperti menerapkan aturan ‘bebas layar’ sebelum tidur atau saat berkumpul dengan keluarga. Manfaatkan aplikasi pengatur waktu atau mode fokus pada perangkat untuk membantu mengelola penggunaan teknologi dengan lebih baik.
- Mendekatkan Diri dengan Alam Cara efektif untuk menghindari dan mengatasi popcorn brain adalah menjalin interaksi dengan alam. Alam menawarkan ketenangan yang tidak ditemukan dalam kehidupan digital yang serba cepat. Berada di alam membantu kita memutus keterikatan dengan perangkat teknologi.
Yulita Putri
Bergiat di Bilik Literasi dan Kamar Kata Karanganyar.






