Beranda / Perempuan / Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Jalanhijrah.com-Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia. KH Abdurrahman Wahid dalam tulisan yang berjudul ‘Pondok Pesantren Masa Depan,’ menyebutkan bahwa pesantren memiliki tiga elemen utama yang menjadikannya sebagai sebuah subkultur. Pertama, pola kepemimpinan pesantren yang mandiri. Kedua, penggunaan kitab-kitab rujukan (kitab kuning) untuk mendalami ajaran Islam. Ketiga, sistem nilai (value system) yang dianut pesantren.

Tiga elemen tersebut yang menjadikan pesantren berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Seiring berjalannya waktu, kini pesantren berkembang tidak hanya untuk menimba ilmu agama saja. Tetapi menjadi lembaga multiperan yang juga harus memperhatikan terkait kebudayaan, kesenian, kewirausahaan, sosial, pemberdayaan masyarakat secara luas, dan juga menjaga ekosistem lingkungan hidup di pesantren. Pelaksanaan prinsip dasar tersebut semata untuk mencapai tujuan kemaslahatan yang lebih luas. Dalam hal ini bersifat inklusif atau terbuka tidak eksklusif atau tertutup hanya pada bidang-bidang tertentu saja.

Tentu peranan pesantren yang banyak tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak yang tinggal di pesantren. Salah satunya adalah Bu Nyai yang memiliki banyak peran strategis. Dengan kepiawaiannya, banyak sekali para Bu Nyai yang menjadi garda terdepan di pesantren dalam menjaga kemandirian dan kebersihan lingkungannya.

Para Nyai Pemimpin Pesantren

Peranan Bu Nyai ini acapkali masih dianggap sebatas sebagai istri Kiai. Anggapan ini juga berujung menafikan kemampuan manajerial para Bu Nyai dalam mengelola pesantren. Padahal banyak sekali Bu Nyai yang juga memimpin pesantren seorang diri sepeninggal suaminya. Berdasar situasi aktual, peran Bu Nyai merupakan bentuk nyata bagaimana konsep kepemimpinan khususnya di lembaga pendidikan pesantren telah membuka jalan sekaligus peningkatan peran untuk mendukung tercapainya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan.

Bahkan tidak hanya mampu, para Bu Nyai ini juga berhasil mengembangkan pesantren jauh lebih maju dari sebelumnya. Beberapa pesantren tersebut antara lain Pesantren Kebon Jambu Cirebon yang dipimpin Nyai Masriyah Amva; Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Magetan yang dipimpin Hj. Siti Fauziyah; Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor yang dipimpin Umi Waheeda; dan Pesanten Al-Hidayah Putri Karang Suci Purwokerto Utara yang dipimpin Nyai Hj. Nadhiroh.

Selanjutnya, Umi Waheeda pengasuh Pesantren Al Ashariyyah Nurul Iman Parung Bogor tidak hanya mampu memimpin pesantren. Ia juga berhasil memajukan perekonomian dan kemandirian pesantren melalui strategi Socio Preneurship sebagai lembaga sosial mandiri yang menghidupi para santrinya. Umi Waheeda mendorong para santri untuk berperan aktif memajukan ekonomi demi tercapainya kemandirian pesantren yang berdikari.

Para santri mengakui peran kepemimpinan Bu Nyai, sebagaimana peran Bu Nyai Hj. Nadhiroh pengasuh Pesantren Al-Hidayah. Ia lebih intens dalam membimbing keagamaan, menegakkan tata tertib, menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup, memperhatikan kesehatan santri, menjalin berbagai kerjasama, mengikuti kegiatan organisasi masyarakat, serta mengontrol semua kegiatan para santri. Pola-pola tersebut merupakan bentuk dorongan progresif untuk menciptakan karakter kehidupan seorang santri yang religius, kreatif, dan humanis dalam berbagai aspek kehidupan.

Begitu juga dengan Nyai Masriyah Amva, meskipun pada awalnya banyak sekali yang meragukan kepemimpinannya. Namun ia berhasil menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi mandiri dan lebih maju dari kepemimpina sebelumnya. Bu Nyai sekaligus penulis dan penyair ini menjadikan pesantrennya tempat yang inklusi dan menerima tamu dari berbagai etnis dan agama. Ini merupakan wujud progresivitas dalam membangun moderasi beragama. Seperti halnya dengan memupuk rasa toleransi terhadap perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

Selain tokoh-tokoh tersebut, banyak sekali para Bu Nyai yang dengan kepiawaian manajerial dan mengasuh para santri, berupaya untuk mengelola sampah pesantren dalam rangka menjaga lingkungan alam. Salah satunya adalah Nyai Maftuhah Mustiqawati Pengasuh Pesantren Al-Hikam Jombang yang berhasil meraih penghargaan ecopesantren dari Provinsi Jawa Timur.

Di pesantrennya, Nyai Maftuhah Mustiqawati melakukan berbagai upaya dalam menjaga alam. Yakni dengan penghijauan, pembersihan lingkungan pondok dan madrasah secara berkala, pemanfaatan limbah plastik menjadi ekobrik, sampai pada pemanfaatan teknologi robotik.

Bu Nyai Bukan Hanya Istri dari Kiai

Upaya dan peranan para Bu Nyai tersebut tentu saja bukan karena sekedar sebagai istri dari Kiai. Bukan juga hanya karena terpaksa saat suaminya telah tiada. Namun sebagai sosok penting yang berperan menjadi garda terdepan pesantren dalam mewujudkan kemandirian dan pengelolaan lingkungan hidup di sekitarnya

Hal tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana peran perempuan dalam urusan kepemimpinan suatu organisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan organisasi atau lembaga pendidikan seperti pondok pesantren. Urgensi dari hal ini adalah untuk membuka pandangan yang lebih luas tentang keterlibatan serta peran aktif perempuan dalam bidang-bidang yang umumnya dibatasi oleh sekat jenis kelamin  atau gender.

 

Tag: