jalanhijrah.com – Kisah Kapal Nuh sering dipahami sebagai narasi keselamatan religius: dunia yang rusak ditenggelamkan, lalu segelintir makhluk diselamatkan untuk memulai hidup baru. Dalam pembacaan populer, cerita ini biasanya dimaknai sebagai kisah hukuman dan anugerah ilahi. Namun, di tengah bencana ekologis yang terus muncul—banjir, longsor, kebakaran hutan, krisis air, hingga cuaca ekstrem—kisah itu relevan untuk dibaca ulang sebagai refleksi etika hidup bersama, bukan sekadar dongeng masa lalu.
Bencana Kebudayaan
Bencana modern tidak turun seperti air bah tiba-tiba. Ia muncul perlahan dari cara hidup manusia: pembabatan hutan, ekstraksi sumber daya tanpa kendali, tata ruang yang melampaui daya dukung alam, serta pembangunan yang menempatkan alam semata-mata sebagai sumber keuntungan ekonomi. Banyak bencana saat ini sebenarnya adalah bencana kebudayaan, buah dari hubungan manusia yang timpang dengan alam.
Dalam kisah Nuh, kapal dibangun sebagai ruang bersama bagi manusia dan seluruh makhluk hidup, tanpa hierarki. Keselamatan tidak dinikmati sendirian, tetapi bersama. Bahtera itu menjadi simbol bahwa keberlanjutan hidup hanya mungkin jika dijaga secara kolektif—kontras dengan kenyataan sekarang, di mana keselamatan sering diprivatisasi. Korban paling rentan, seperti masyarakat miskin, perempuan, anak-anak, masyarakat adat, dan satwa kehilangan habitat, hampir selalu yang pertama terdampak.
Etika modern yang antropocentris menempatkan manusia di pusat, dan alam sebagai alat. Ketika bencana terjadi, alam dianggap “murka”, sementara gaya hidup manusia jarang dikritisi. Filsuf Hans Jonas menekankan bahwa etika harus berlandaskan tanggung jawab terhadap kehidupan di masa depan—manusia maupun non-manusia.
Dari perspektif etis, Kapal Nuh menawarkan pandangan berbeda: keselamatan adalah urusan lintas makhluk. Ia menuntut transisi dari dominasi etis ke koeksistensi etis, bukan lagi menanyakan “bagaimana alam melayani manusia”, tetapi “bagaimana manusia hidup layak bersama alam.”
Perspektif Nusantara
Dalam banyak kosmologi lokal, alam bukan benda mati, melainkan entitas hidup dengan roh, hubungan, dan martabat. Konsep seperti ibu bumi, tanah pusaka, dan hutan larangan mengingatkan bahwa merusak alam berarti mengganggu tatanan hidup bersama. Bencana, dari sudut pandang ini, adalah tanda terganggunya keseimbangan kosmis akibat keserakahan manusia.
Modernitas Negara-Bangsa
Namun, negara modern sering meminggirkan pengetahuan semacam ini. Penanganan bencana bersifat teknokratis: evakuasi, bantuan logistik, rehabilitasi infrastruktur—penting, tetapi berhenti di permukaan. Akar masalah, seperti kebijakan tata ruang dan izin industri ekstraktif, jarang disentuh. Bencana dipandang sebagai anomali, bukan hasil sistemik dari gaya hidup yang salah arah.
Seharusnya, negara bisa menjadi nahkoda Kapal Nuh modern, menjaga keselamatan bersama. Tapi kenyataannya, sering menjadi bagian dari badai: izin tambang, sawit, dan proyek infrastruktur mengabaikan daya dukung ekologis. Kapal yang dibangun bukan bahtera bersama, melainkan sekoci eksklusif.
Spiritualitas pun kehilangan daya kritis. Iman tidak berhenti pada ritual; kisah Nuh menekankan tindakan nyata merawat kehidupan. Menyelamatkan makhluk lain adalah bagian dari kesalehan itu sendiri. Jacques Derrida menekankan bahwa cara manusia memperlakukan hewan mencerminkan batas kemanusiaannya—dan dalam bencana, hewan sering diposisikan hanya sebagai alat, bukan sesama makhluk hidup.
Pesan untuk Masa Kini
Kisah Kapal Nuh hari ini menjadi pertanyaan mendesak: apakah pembangunan kita membangun bahtera kehidupan bersama, atau justru mempercepat tenggelamnya yang paling rentan? Kebijakan publik harus membuka ruang hidup bagi semua makhluk, bukan hanya segelintir orang.
Bencana yang berulang seharusnya dibaca sebagai panggilan etis, bukan sekadar alarm teknis. Kapal Nuh modern harus dibangun atas dasar keadilan dan solidaritas lintas makhluk. Jika tidak, kita hanya menunggu air berikutnya dengan mata terbuka, bukan mengarungi keselamatan bersama. Cara kita merespons bencana mencerminkan siapa kita sebenarnya: penumpang yang merawat kehidupan atau penyebab karamnya bahtera sebelum sempat berlayar.






