Home / Taubat / Bagaimana Sikap Muslim saat Non-Muslim Tertimpa Musibah?

Bagaimana Sikap Muslim saat Non-Muslim Tertimpa Musibah?

Peristiwa kebakaran hebat masih menimpa wilayah Los Angeles di Amerika Serikat sejak (02/01/2025) hingga sekarang. Kantor berita CNN Weather dalam laman resminya pada (14/01/2025) bahkan menyebutkan bahwa kebakaran tersebut masih akan meningkat intensitasnya seiring cuaca yang tidak stabil. Dalam dua hari ke depan, angin kencang akan melanda wilayah Los Angeles sehingga akan semakin membuat api cepat menyebar dan mempersulit petugas dalam upaya menanggulangi kebakaran.

ACCU Weather mengestimasi bahwa kerugian akibat kebakaran ini telah mencapai 250 miliar dollar AS, merupakan angka termahal dalam sejarah musibah di Amerika Serikat. Jumlah tersebut diyakini akan semakin bertambah banyak seiring kebakaran yang masih belum kunjung mereda.

Untuk korban jiwa, setidaknya telah ada 24 orang yang tewas akibat kebakaran ini. Ditambah dengan ribuan yang terluka dan ratusan ribu yang terpaksa mengungsi karena kondisi yang tidak aman dan sebagian besar di antaranya memang telah kehilangan tempat tinggal akibat rumah mereka luluh lantak dilahap si jago merah.

Kebakaran ini memunculkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk di Indonesia. Sebagian netizen ada yang berkontroversi bahwa peristiwa kebakaran ini adalah azab akibat Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump yang berjanji akan membuat Timur Tengah khususnya Gaza seperti neraka.

Bukannya Timur Tengah yang menjadi neraka, malah sekarang Los Angeles yang nampak seperti neraka akibat kebakaran.

Tulisan ini tidak akan menyikapi persoalan apakah bencana kebakaran yang melanda Los Angeles tersebut merupakan azab atau bukan. Fokus akan kami arahkan pada apa sebaiknya sikap yang dilakukan oleh kita sebagai Muslim ketika melihat saudara dalam kemanusiaan kita yang non-Muslim mengalami musibah.

Sikap Mulia Seorang Muslim

Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, seorang Muslim diajarkan untuk menunjukkan sikap mulia terhadap siapa pun, termasuk kepada non-Muslim, terutama ketika mereka tertimpa musibah. Prinsip ini selaras dengan nilai-nilai universal Islam yang menekankan kasih sayang, keadilan, dan kemanusiaan. Berikut adalah beberapa sikap yang dapat ditunjukkan oleh seorang Muslim:

1. Menunjukkan Empati dan Kepedulian

Empati adalah sikap memahami perasaan orang lain. Ketika seorang non-Muslim tertimpa musibah, seorang Muslim seharusnya turut merasakan kesedihan dan mencoba meringankan beban mereka. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”

Redaksi hadits ini menggunakan kata “manusia”; tidak melulu pada seorang mukmin atau muslim, namun menyeluruh kepada seluruh manusia. Sehingga sudah seyogyanya jika kita juga berupaya untuk memberikan kemanfaatan bagi Muslim maupun non-Muslim.

Prinsip kemanfaatan ini merupakan bagian dari rasa kasih-sayang yang menjadi tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Terlebih jika kita adalah seorang Muslim, maka menjadi tugas bagi kita untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Dalam QS. Al-Anbiya ayat 107, Allah SWT berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

2. Memberikan Bantuan Secara Langsung

Islam menganjurkan umatnya untuk membantu siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang agama, ras, atau status sosial. Bantuan dapat berupa materi, tenaga, atau sekadar mendengarkan keluh kesah mereka. Rasulullah SAW pernah membantu seorang Yahudi yang sedang sakit, menunjukkan bahwa bantuan kepada non-Muslim adalah bagian dari akhlak seorang Muslim.

3.  Menghindari Sikap Diskriminatif

Dalam memberikan bantuan, seorang Muslim harus menghindari sikap pilih kasih. Memberikan bantuan kepada non-Muslim tidak akan mengurangi pahala seorang Muslim, justru hal tersebut mencerminkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam Islam.

4. Mengedepankan Kebaikan

Meski terdapat perbedaan keyakinan, Allah SWT tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada non-Muslim selama mereka tidak memerangi kita dan tidak mengusir kita dari negeri kita sendiri. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8-9, Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

5. Menggunakan Momen untuk Menunjukkan Akhlak Mulia

Musibah sering menjadi momen untuk menunjukkan nilai-nilai Islam melalui tindakan nyata. Sikap yang baik, tutur kata yang lembut, dan perbuatan yang tulus dapat menjadi dakwah secara tidak langsung. Hal ini dapat menanamkan kesan positif tentang Islam dan umatnya di hati non-Muslim.

Dikisahkan bahwa ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pelayan Nabi sedang sakit. Nabi kemudian menjenguk pemuda tersebut dengan penuh kelembutan hingga membuat pemuda tersebut luluh hati dan tergerak masuk Islam:

أن غلاما من اليهود كان يخدم النبي صلى الله عليه وسلم فمرض فأتاه النبي صلى الله عليه وسلم يعوده فقعد عند رأسه فقال أسلم فنظر إلى أبيه وهو عند رأسه فقال له أطع أبا القاسم صلى الله عليه وسلم فأسلم فخرج النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقول الحمد لله الذي أنقذه من النار

Artinya: “Sesungguhnya ada pemuda Yahudi yang melayani Nabi SAW. Suatu hari dia sakit dan Nabi SAW datang menjenguknya, dan beliau duduk di sebelah kepalanya. Nabi Saw berkata, ‘Hendaklah kamu masuk Islam.’ Pemuda tersebut melihat pada bapaknya yang duduk di sebelah kepalanya. Kemudian bapaknya berkata pada pemuda (anaknya) tersebut, ‘Ikutilah Abul Qasim, Nabi SAW.’ Kemudian pemuda tersebut masuk Islam dan Nabi setelah itu keluar seraya berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’”

6. Menguatkan Ukhuwah Insaniyah (Persaudaraan Kemanusiaan)

Islam mengajarkan konsep ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia. Dalam musibah, nilai ini menjadi sangat relevan untuk mempererat hubungan antarumat beragama. Seorang Muslim yang menunjukkan kasih sayang kepada non-Muslim berarti telah menjunjung tinggi nilai persaudaraan kemanusiaan.

Sikap seorang Muslim ketika non-Muslim terkena musibah adalah mencerminkan nilai-nilai luhur Islam yang menekankan kasih sayang dan kemanusiaan. Dengan menampilkan empati, kepedulian, dan akhlak mulia, seorang Muslim tidak hanya membantu meringankan beban orang lain, tetapi juga menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat dan keindahan. Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang untuk semua, tanpa memandang perbedaan keyakinan. Wallahu a’lam bish shawab.

 

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/syariah/ar-DYGYe/sikap-muslim-saat-non-muslim-tertimpa-musibah