Perang Tabuk merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Perang ini memiliki makna yang mendalam dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan Islam di jazirah Arab. Berikut ini ulasan lengkap mengenai latar belakang, jalannya peristiwa, dan hikmah yang dapat diambil dari Perang Tabuk.
Latar belakang utama Perang Tabuk adalah kabar yang sampai kepada Rasulullah mengenai persiapan pasukan Romawi untuk menyerang wilayah perbatasan utara Arab. Menurut laporan dari sumber-sumber terpercaya, Heraklius, Kaisar Romawi, telah memberikan dukungan besar kepada suku-suku Arab Nasrani seperti Lakhm, Judzam, Ghassan, dan lainnya untuk memobilisasi pasukan menuju Balqa’, sebuah wilayah strategis di perbatasan Syam.
Ancaman ini memicu kekhawatiran besar di kalangan Muslimin. Romawi saat itu adalah salah satu kekuatan superpower dunia dengan reputasi militer yang sangat ditakuti. Bagi bangsa Arab, gagasan menghadapi pasukan Romawi seperti mimpi buruk. Namun, Rasulullah dengan bijaksana memutuskan untuk mengambil tindakan pencegahan dengan melakukan ekspedisi militer ke Tabuk.
Untuk menggambarkan situasi saat itu, Shafyurrahman al-Mubarakfuri dalam Rahiq al-Makhtum menjelaskan, saking khawatir dan takutnya umat Muslim terhadap ancaman Romawi tersebut, sampai-sampai jika terdengar suara yang tak biasa, mereka akan kaget karena dikira tentara Romawi datang. Sebuah riwayat berikut juga menggambarkan betapa gentingnya kondisi saat itu:
يقول عمر بن الخطاب: وكان لي صاحب من الأنصار إذا غبت أتاني بالخبر وإذا غاب كنت أنا آتيه بالخبر ونحن حينئذ نتخوف ملكا من ملوك غسان ذكر لنا أنه يريد أن يسير إلينا فقد امتلأت صدورنا منه فأتى صاحبي الأنصاري يدق الباب وقال افتح افتح فقلت جاء الغساني فقال أشد من ذلك اعتزل رسول الله صلى الله عليه وسلم أزواجه.
Artinya, “Umar bin Khattab berkata, ‘Aku memiliki seorang teman dari golongan Anshar. Ketika aku tidak hadir, dia datang kepadaku membawa berita, dan ketika dia tidak hadir, akulah yang datang kepadanya membawa berita. Pada waktu itu, kami sedang khawatir terhadap seorang raja dari Ghassan (sekutu Romawi) yang dikabarkan akan menyerang kami. Kekhawatiran kami begitu besar hingga memenuhi hati kami. Lalu, temanku dari Anshar datang mengetuk pintu rumahku sambil berkata, ‘Buka, buka!’ Aku bertanya, ‘Apakah pasukan Ghassan telah datang?’ Dia menjawab, ‘Lebih dari itu. Rasulullah ﷺ telah mengasingkan diri dari istri-istrinya.'” (HR Muslim)
Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa suasana mencekam ketakutan umat Muslim terhadap ancaman Romawi dan Ghassan terlihat dari perasaan Umar bin Khattab dan kaum Muslimin yang dihantui oleh kabar serangan. Ketakutan ini begitu mendalam hingga setiap suara dianggap tanda ancaman. (Al-Mubarakfuri, 2016: 297)
Memilih untuk Melawan
Dalam kondisi yang genting seperti ini, Rasulullah mengambil sikap tegas dengan memutuskan untuk menyerang pasukan Romawi dengan melakukan ekspedisi militer ke Tabuk sebelum mereka yang tiba terlebih dahulu ke wilayah kekuasaan umat Muslim dan berhasil merangkesek ke Madinah. Rasul menyadari jika hal ini sampai terjadi maka dampaknya akan sangat buruk bagi dakwah Islam dan reputasi militer kaum Muslimin.
Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap menghadapi perjalanan yang jauh, melelahkan, dan penuh tantangan. Situasi saat itu sangat sulit karena kaum Muslimin sedang mengalami masa paceklik dan kekurangan pangan. Namun, semangat kaum Muslimin untuk berjuang di jalan Allah tetap berkobar.
Salah satu tokoh yang menunjukkan kontribusi besar dalam persiapan Perang Tabuk adalah Utsman bin Affan. Ia menyumbangkan seribu dinar emas untuk membiayai perlengkapan pasukan, termasuk kebutuhan logistik dan transportasi. Rasulullah mendoakan keberkahan bagi Utsman atas pengorbanannya yang luar biasa. Kisah dukungan para sahabat ini dicatat oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tarikh al-Umam wal Muluk. (Ath-Thabari, 2017: juz 2, h. 196)
Namun, tidak semua kaum Muslimin memiliki niat tulus untuk ikut serta. Beberapa orang munafik mencari-cari alasan untuk tidak ikut serta dalam perang ini. Allah mencela mereka dalam Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 81:
فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْٓا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَرِّۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ
Artinya: “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira dengan duduk-duduk setelah kepergian Rasulullah (ke medan perang). Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka (justru) berkata, “Janganlah kamu berangkat (ke medan perang) di tengah panas terik.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Api neraka Jahanam lebih panas.” Seandainya saja selama ini mereka memahami.”
Jalannya Perang Tabuk
Rasulullah memimpin pasukan besar yang terdiri atas 30.000 prajurit, menjadikannya salah satu ekspedisi militer terbesar selama masa kenabian. Perjalanan menuju Tabuk penuh dengan rintangan, termasuk panas terik dan kekurangan air. Dalam satu kesempatan, para sahabat mengadu kepada Rasulullah mengenai kelangkaan air. Beliau kemudian berdoa, dan Allah menurunkan hujan sehingga pasukan dapat memenuhi kebutuhan mereka.
Setibanya di Tabuk, Rasul mendapati bahwa pasukan Romawi telah mundur dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Keputusan Romawi untuk tidak menghadapi pasukan Muslim disebabkan oleh rasa gentar mereka terhadap kekuatan kaum Muslimin yang semakin besar. Strategi Rasulullah untuk menunjukkan kekuatan pasukan berhasil menanamkan rasa takut di hati musuh.
Selain itu, Rasulullah menjalin perjanjian damai dengan beberapa pemimpin wilayah sekitar, termasuk Yohanna bin Ru’bah dari Ailah, serta penduduk Jarba dan Adzrah. Perjanjian ini melibatkan pembayaran jizyah sebagai bentuk pengakuan atas kedaulatan Islam di wilayah tersebut.
Hikmah dari Perang Tabuk
Abul Hasan an-Nadawi dalam Sirah Nabawiyah-nya menyebutkan sejumlah pelajaran penting dari sejarah Perang Tabuk. Menurutnya, peristiwa ini menggambarkan ketegasan Rasulullah dalam menghadapi ancaman. Beliau tidak menunggu serangan musuh, melainkan mengambil langkah proaktif untuk menunjukkan kekuatan Islam sekaligus mencegah serangan dan kekacauan di masa yang akan datang. Sikap ini menunjukkan keberanian dan visi strategis dalam menjaga stabilitas umat.
Momentum Perang Tabuk juga menjadi ajang solidaritas dan pengorbanan di antara kaum Muslimin. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, para sahabat rela menyumbangkan harta mereka demi kepentingan jihad. Sikap tersebut memperlihatkan komitmen kuat terhadap perjuangan agama, sekaligus membangun semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan.
Keberhasilan Perang Tabuk tanpa pertempuran langsung menunjukkan pentingnya strategi. Ekspedisi ini tidak hanya menghindari pertumpahan darah, tetapi juga berhasil menanamkan rasa takut di hati musuh dan memperkokoh posisi kaum Muslimin. Strategi ini membuktikan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh konfrontasi fisik, melainkan juga oleh kecerdasan dalam merencanakan langkah.
Rasulullah juga memanfaatkan diplomasi sebagai kekuatan utama. Beliau menjalin perjanjian damai dengan wilayah-wilayah strategis sebagai bukti bahwa kekuatan Islam tidak semata-mata bergantung pada militer, tetapi juga pada kecerdasan politik. Pendekatan ini mengokohkan posisi Islam di tengah dinamika regional yang kompleks. (An-Nadawi, 1989: h. 363)
Perang Tabuk menjadi ujian keimanan bagi para pesertanya. Perjalanan yang penuh tantangan tersebut memberikan pahala besar bagi mereka yang tulus berjuang. Sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 120:
مَا كَانَ لِاَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِّنَ الْاَعْرَابِ اَنْ يَّتَخَلَّفُوْا عَنْ رَّسُوْلِ اللّٰهِ وَلَا يَرْغَبُوْا بِاَنْفُسِهِمْ عَنْ نَّفْسِهٖۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ لَا يُصِيْبُهُمْ ظَمَاٌ وَّلَا نَصَبٌ وَّلَا مَخْمَصَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَطَـُٔوْنَ مَوْطِئًا يَّغِيْظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهٖ عَمَلٌ صَالِحٌۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya, “Tidak sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka untuk tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka untuk lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) dirinya (Rasulullah). Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah; tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir; dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Mari kenang bulan Rajab sebagai momentum keberanian dan kegigihan umat Muslim dalam menegakkan kebenaran. Perang Tabuk merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang mengajarkan banyak nilai, seperti keberanian, pengorbanan, dan pentingnya strategi dalam menghadapi tantangan. Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana Rasulullah memimpin umat dengan kebijaksanaan dan ketegasan.
Muhamad Abror
Dosen Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta. Alumnus Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/islami/ar-SY3sF/jejak-sejarah-di-bulan-rajab–strategi-dan-diplomasi-rasulullah-pada-perang-tabuk





