jalanhijrah.com – Arus informasi yang bergerak cepat sering membuat generasi muda merasa harus mengetahui, mengikuti, dan mencoba setiap hal yang sedang ramai. Perasaan takut tertinggal tersebut dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO. Seseorang dapat merasa gelisah saat melihat teman-temannya meraih pencapaian, menikmati pengalaman baru, atau menampilkan kehidupan yang terlihat lebih menarik di media sosial.
Kondisi itu mendorong banyak orang untuk terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka mengejar tren demi memperoleh pengakuan, mengikuti gaya hidup tertentu agar terlihat berhasil, bahkan memaksakan diri untuk selalu tampak bahagia. Padahal, unggahan di layar tidak selalu menunjukkan keadaan yang sebenarnya.
Islam mengajarkan setiap muslim agar tidak menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama kehidupan. Sebaliknya, kita perlu menjalani hidup dengan iman, rasa syukur, dan ketaatan kepada Allah. Karena itu, hijrah dari FOMO menuju istikamah menjadi langkah penting bagi generasi muda untuk menemukan ketenangan dan arah hidup yang benar.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Tolok Ukur
Media sosial menyajikan berbagai informasi hanya dalam hitungan detik. Melalui layar, kita dapat melihat keberhasilan, pekerjaan, perjalanan, pernikahan, hingga gaya hidup orang lain. Walaupun media sosial memberikan banyak manfaat, kebiasaan mengamati kehidupan orang lain secara berlebihan dapat mengubah cara kita memandang diri sendiri.
Tanpa sadar, seseorang mulai bertanya, “Mengapa hidupku belum seperti mereka?” atau “Apakah aku tertinggal dari orang lain?” Pertanyaan semacam itu dapat menumbuhkan rasa rendah diri, iri, kecewa, dan kurang bersyukur atas nikmat yang telah diterima.
Namun, setiap manusia menjalani jalan, waktu, ujian, dan rezeki yang berbeda. Kecepatan seseorang dalam mengikuti tren bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah. Sebaliknya, ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh menjadi nilai utama dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menegaskan bahwa popularitas, jumlah pengikut, penampilan, dan pencapaian duniawi tidak menentukan kemuliaan seseorang. Ketakwaanlah yang menjadi ukuran utama di hadapan Allah.
Istikamah Lebih Penting daripada Pengakuan
Istikamah berarti tetap teguh dalam menjalankan kebaikan dan menaati perintah Allah. Sikap ini mungkin tidak selalu terlihat besar atau mengagumkan di mata manusia. Meskipun demikian, keteguhan tumbuh dari komitmen yang terus seseorang jaga tanpa bergantung pada pujian maupun perhatian.
Orang yang istikamah tidak merasa wajib mengikuti setiap tren. Ia berani menolak sesuatu yang dapat menjauhkannya dari Allah. Selain itu, ia mampu mengendalikan diri saat lingkungan mengajaknya melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Keteguhan juga membantu seseorang menentukan arah hidup yang jelas. Komentar atau penilaian orang lain tidak mudah mengubah prinsip yang telah ia pegang. Baginya, tujuan hidup bukan sekadar terlihat sukses di hadapan manusia, melainkan meraih rida Allah.
Rasulullah saw. bersabda:
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristikamahlah.”
(HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim perlu menjaga keimanannya dengan keteguhan. Ucapan iman harus hadir dalam sikap, pilihan, dan kebiasaan sehari-hari.
Mengubah FOMO Menjadi Semangat Kebaikan
Kita dapat mengarahkan rasa takut tertinggal menjadi dorongan untuk memperbanyak kebaikan. Daripada takut melewatkan tren dunia, seorang muslim seharusnya lebih khawatir kehilangan kesempatan untuk beribadah, belajar, membantu sesama, dan memperbaiki diri.
Saat orang lain berlomba mencari popularitas, kita dapat berlomba memberi manfaat. Di tengah orang-orang yang sibuk menunjukkan pencapaian, kita bisa fokus meningkatkan kemampuan dan kualitas diri. Jika lingkungan mengajak kepada kegiatan yang tidak bermanfaat, pilihlah aktivitas yang mendekatkan hati kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)
Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki semangat, cita-cita, dan keinginan untuk maju. Namun, ajaran Islam mengarahkan semua itu agar menghasilkan manfaat, bukan sekadar memenuhi keinginan memperoleh pengakuan.
Langkah Sederhana Menjaga Istikamah
Perjalanan menuju istikamah memerlukan proses. Seseorang tidak harus mengubah seluruh kebiasaannya dalam satu malam. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru dapat membawa perubahan besar.
Pertama, luruskan niat sebelum melakukan suatu aktivitas. Tanyakan kepada diri sendiri apakah kegiatan tersebut benar-benar memberi manfaat atau hanya muncul karena takut dianggap tertinggal.
Kedua, batasi penggunaan media sosial saat kontennya mulai memicu kegelisahan, iri hati, atau kebiasaan membandingkan diri. Manfaatkan media sosial untuk belajar, bekerja, berdakwah, dan menyebarkan kebaikan.
Selanjutnya, pilih lingkungan yang mendukung perubahan. Dekatlah dengan orang-orang yang mengingatkan kita kepada Allah, mendorong aktivitas positif, dan membantu kita menjaga komitmen dalam kebaikan.
Selain itu, jagalah ibadah wajib, terutama salat lima waktu. Melalui salat, hati memperoleh ketenangan dan kembali mengingat bahwa kehidupan dunia bukan satu-satunya tujuan.
Apabila melakukan kesalahan, jangan memilih untuk berhenti. Seorang muslim yang istikamah bukanlah orang yang tidak pernah jatuh. Sebaliknya, keteguhannya terlihat dari kemauan untuk bangkit, bertaubat, dan kembali berjalan menuju Allah.
Menjalani Hidup dengan Tenang
Hijrah dari FOMO menuju istikamah mengajarkan kita untuk memindahkan perhatian dari penilaian manusia menuju rida Allah. Perubahan tersebut membantu seseorang menghadapi pencapaian orang lain tanpa rasa gelisah. Dengan begitu, ia dapat menghargai proses, mensyukuri nikmat, dan menjalani kehidupan sesuai kemampuan.
Tidak semua tren perlu kita ikuti. Setiap kesempatan juga tidak harus kita ambil. Bahkan, seluruh pencapaian tidak wajib kita tunjukkan kepada orang lain. Terkadang, ketenangan hadir saat kita berhenti mengejar pengakuan dan mulai memperkuat hubungan dengan Allah.
Oleh sebab itu, jangan terlalu takut tertinggal dalam urusan dunia. Sebaliknya, waspadalah saat hati mulai menjauh dari Allah, ibadah mulai terabaikan, dan kesempatan berbuat baik terus berlalu. Dunia selalu menghadirkan tren baru, sedangkan iman memberikan arah yang tetap.
Mari berhenti menjalani hidup hanya untuk terlihat sempurna. Mulailah hidup dengan lebih jujur, bersyukur, dan istikamah. Kebahagiaan sejati tidak tumbuh dari kemampuan mengikuti semua hal yang sedang ramai. Hati akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya ketika mampu merasa cukup bersama Allah.








