Beranda / Keluarga / Ibu Indonesia: Marco Kartodikromo dan Gus Dur

Ibu Indonesia: Marco Kartodikromo dan Gus Dur

Marco Kartodikromo (1890-1932) tak sempat terlibat atau menjadi saksi dalam dua kongres bersejarah di Indonesia. Pada 1928, tanah jajahan mulai berubah gara-gara Kongres Pemuda II dan Kongres Perempuan I. Di sekian buku sejarah, Marco Kartodikromo jarang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah “resmi” untuk tonggak-tonggak pemuliaan Indonesia. Pada 1927, ia justru dibawa ke Boven Digul akibat dianggap “merah” oleh pemerintah kolonial.

Dua kongres pada 1928 diselenggarakan oleh kaum terpelajar. Kongres Perempuan I mula-mula digagas para guru muda. Mereka mengerti modernitas dan gejolak perubahan-perubahan di tanah jajahan. Kita perlahan mengetahui ikhtiar Marco Kartodikromo dalam mengisahkan “student” atau gairah kaum muda masa kolonial dalam menanggapi feodalisme, kolonialisme, dan kapitalisme. Di novel berjudul Student Hidjo (1919), para pembaca mengenali corak-corak kaum muda awal abad XX. Mereka dalam bimbang kiblat Barat dan Timur. Novel itu jarang dianggap berpengaruh dalam kemunculan gerakan kaum muda masa 1920-an.

Kongres-kongres itu diadakan setelah Indonesia geger oleh perlawanan kaum kiri (1926-1927) di Jawa dan Sumatra. Orang-orang dituduh bikin onar dan mengganggu pemerintah kolonial itu dihukum berat. Mereka dibuang dan hidup dalam derita di Boven Digoel. Di tempat jauh dari pusat-pusat pergerakan politik, Marco Kartodikromo tak sanggup lagi menggubah puisi atau cerita untuk membarakan perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Kini, kita mengandaikan ada sekian “putra dan putri Indonesia” sebelum mencipta sejarah 1928 berperan sebagai pembaca buku-buku Marco Kartodikromo atau mengikuti artikel-artikel menimbulkan debat hebat di kalangan pergerakan politik.

Pada masa 1930-an, Marco Kartodikromo terasing, terpencil, dan tersingkir. Tokoh-tokoh baru bermunculan dalam kancah politik, pers, dan sastra. Di buku berjudul Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel, warisan catatan-catatan Marco Kartodikromo, kita menemukan pengakuan mengharukan:

“Wahai kalian, kaum cendekiawan dan kaum nasionalis, kami mohon kalian tidak terlalu keras menilai kami orang buangan, sampah masyarakat kalian, kaum buangan politik di Digoel. Kepada kalian orang Indonesia, kami tujukan kata-kata ini. Renungkanlah, untuk apa kami berjuang dan menderita. Ingatlah bahwa kami telah berkorban untuk Ibu Indonesia.”

Kalimat-kalimat ditulis di Boven Digoel, 9 Desember 1931. Kita mengerti kesanggupan berkorban dan mengabdi kepada “Ibu Indonesia”, sebutan berbeda dari orang-orang pergerakan memilih “Ibu Pertiwi”.

Peristiwa 22-25 Desember 1928 di Jogjakarta dinamakan Kongres Perempuan memunculkan mufakat dalam mencipta Hari Ibu (1938). Mufakat itu menunggu sepukuh tahuh dari peristiwa 1928. Kita menilik sejarah Indonesia dengan sebutan “ibu”. Marco Kartodikromo memang bukan pelaku sejarah dalam tonggak 1928 tapi kita mengerti ia memiliki pengaruh-pengaruh meski mendapat tekanan dan “penghapusan” dari pemerintah kolonial atau pihak-pihak berlawanan.

Di buku berjudul Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang (2007) susunan Susan Balcburn, kita mendapat dokumentasi pidato dan laporan pelaksaan kongres di Jogjakarta. Para tokoh mengajukan masalah-masalah perkawinan, pendidikan, bahasa, nasionalisme, dan lain-lain. Mereka tampil dalam keterbatasan tapi berani dalam menggerakkan sejarah. Di situ, kita mengetahui pengaruh-pengaruh Soekarno, Ki Hadjar Dewantara, Soetomo, Ali Sastroamidjojo, dan lain-lain.

Marco Kartodikromo mungkin nama asing dan tak dikenal. Peran terpenting dan terbesar tetap kaum perempuan. Mereka bersuara dan menentukan arus sejarah di Indonesia, berpengaruh sampai sekarang. “Para tokoh nasionalis, komentator surat kabar, dan pejabat kolonial – semuanya menyambutnya sebagai suatu keberhasilan luar biasa dan diakui sebagai titik awal sejarah gerakan perempuan Indonesia,” tulis Susan Blackburn.

Pada masa berbeda, Abdurrahman Wahid (1940-2009) berusaha menulis album sejarah Nusantara (Indonesia). Gus Dur meneropong sejarah dalam fragmen-fragmen tak lengkap. Ia condong ke babak-babak jauh ketimbang kecamuk-kecamuk berlatar abad XX. Ketekunan menilik sejarah menghasilkan buku berjudul Membaca Sejarah Nusantara (2010).

Gus Dur (2002) mengingatkan:

“Selama ini, kita menganggap perempuan berperan sebagai pelengkap saja. Padahal, secara sosiologis, antropologis, dan kesejarahan, kita sangat menghargai perempuan jauh lebih tinggi daripada di kawasan Asia Selatan, Asia Barat, dan Timur Tengah.”

Pengakuan tentang posisi dan peran perempuan dalam alur sejarah Indonesia. Gus Dur memang tak menjadikan 1928 sebagai sumber terpenting tapi menguak keinginan besar membabar sejarah bertokoh perempuan, dari masa ke masa.

Gus Dur melakukan pengamatan lakon perempuan di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan lain-lain. Nasib mereka seperti “terputus” dari sejarah menghendaki kemuliaan dan kemajuan perempuan. Pada 1928, para tokoh perempuan “bersumpah” dan “bermufakat” agar terjadi perubahan besar bagi kaum perempuan Indonesia dalam pemenuhan hak-hak pendidikan, sosial, ekonomi, kultural, dan lain-lain. Kaum perempuan berhak dalam arus “kemadjoean”. Latar sejarah itu berbeda dengan kondisi kaum perempuan masa Orde Baru meski Soeharto mengadakan menteri mengurusi nasib perempuan dalam kabinet berjanji mewujudkan misi-misi pembangunan nasional.

Kita mengandaikan Gus Dur membaca dan membuat perbandingan nasib para (tokoh) perempuan dalam novel-novel gubahan Marah Roesli, Abdoel Moeis, Soetan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan lain-lain. Bacaan-bacaan sejarha itu mendukung ikhtiar menguak sejarah perempuan di Indonesia. Gus Dur itu pembaca sastra meski tak kebablasan sebagai kritikus sastra. Ia sanggup memberi penilaian untuk gubahan sastra Ahmad Tohari, Gus Mus, AA Navis, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, dan lain-lain. “Sastra adalah makanan saya sejak kecil,” pengakuan Gus Dur (1992).

Kita mungkin wajib mengusut lagi daftar bacaan Gus Dur, berharap ia pun membaca buku-buku Marco Kartodikromo. Pada masa Orde Baru, perhatian Gus Dur untuk tema-tema perempuan atau wanita muncul meski “tertutupi” oleh pembesaran tema demokrasi dan pluralisme. Gus Dur (1992) pernah berujar mengenai kaum perempuan:

“Mereka adalah makhluk yang luar biasa rumitnya. Jauh lebih rumit daripada pria. Karena faktor-faktor emosinya lebih banyak, lebih bervariasi. Tapi, justru di situ letak potensi lebih besar dari wanita untuk membuat capaian-capaian yang lebih bervariasi, lebih banyak daripada pria.”

Gus Dur pasti terpengaruh oleh sosok ibu: menunaikan tanggung jawab besar dalam keluarga dan umat. Di buku berjudul Biografi Gus Dur susunan Greg Barton, kita memahami pengenalan dan pemahaman Gus Dur terhadap perempuan atau ibu. Di tataran tinggi, ia mungkin bakal berseru sama dengan Marco Kartodikromo mengenai pemuliaan: “Ibu Indonesia”. Sejarah itu “ibu” jika kita membuka halaman-halaman sejarah. “Ibu” menjadi sebutan atau metafora dalam tonggak dan babak penting sejarah Indonesia. Begitu.

 

Bandung Mawardi

Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah

 

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/mozaik/ar-LpkuN/ibu-indonesia–marco-kartodikromo-dan-gus-dur