Kita bisa mengumpulkan seribu omelan untuk Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Sosok menjadi sasaran kritik, benci, kecewa, dan bingung. Pada saat Gus Dur rajin berseru demokrasi atau berperan sebagai presiden, omelan-omelan dari pelbagai pihak bermunculan meski lekas terlupakan. Gus Dur justru tetap menjadi kiblat beragam tema. Orang-orang berhak membenci dan menggugat Gus Dur tapi sejarah bergerak dalam alur tak teramalkan.
Di majalah edisi khusus tahunan Matra (2001) kita membaca hasil wawancara bersama Bara Hasibuan. Ia memberi daftar panjang kritik kepada Gus Dur. Bara mengatakan: “Gus Dur tidak bisa menciptakan sistem manajemen modern. pemerintahan sekarang bersifat ungoverning government, pemerintahan yang tak memerintah. Tak ada kemajuan signifikan karena segala sesuatunya dilaksanakan secara sporadis. Tak ada visi dan prioritas yang jelas.” Omelan itu disampaikan saat Gus Dur mendapat ribuan serangan atas nasib pemerintahan dan perwujudan agenda-agenda demokrasi.
Kini, orang-orang agak kesulitan mengingat ketokohan dan peran Bara Hasibuan. Dulu, ia terlibat dalam partai politik dan menggerakkan kaum muda dalam kepentingan demokratisasi. Pada masa lalu, ia memang berani setor omelan atas pemerintahan Gus Dur. Tahun-tahun berlalu, cara kita menanggapi corak pemerintahan dan lagak demokrasi Gus Dur perlahan berbeda dengan kemunculan tafsir-tafsir baru.
Kita tergoda untuk masuk lagi dalam tulisan-tulisan (lama) Gus Dur diterbitkan menjadi buku berjudu Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (1997). Gus Dur menampilkan sosok dalam arus keagamaan, pemerintahan, demokrasi, dan keintelektualan. Pujian Gus Dur kepada Kiai Muchir: “Orangnya peramah tapi lucu. Raut wajahnya sepenuhnya membayangkan ke-kiai-an yang sudah mengalami akulturasi dengan ‘dunia luar’. Pandangan matanya penuh selidik tetapi kewaspadaan itu dilembutkan oleh senyum yang khas.”
Gus Dur sedang mengenalkan dan mengukuhkan Kiai Muchir dapat dijadikan contoh “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”. Ia berada dalam pengajian untuk umat dan pengajaran di universitas. Peran dalam ruang kekuasaan pun terjadi. Dulu, Kiai Muchir pernah berada di DPRD dan bersinggungan birokrasi lokal. Tulisan Gus Dur mengajak para pembaca memahami cara dan siasat bersikap kepada pemerintah. Dulu, Gus Dur tak membuat ramalan pasti bakal menjadi lokomotif pemerintahan setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Kita mengandaikan Gus Dur menghendaki protes, gugatan, kritik terhadap pemerintah tak harus “membara” atau “berkobar” mendingan mengandung kelembutan, tawa, dan “hiburan”.
Di majalah Matra edisi September 2001, kita membaca sosok Matori Abdul Djalil. Keterangan diberikan redaksi Matra bagi orang-orang telah lupa situasi politik pada masa pemerintahan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri: “Yang jelas, saat pemilihan presiden di Sidang Umum MPR (1999), hingga detik-detik terakhir Matori masih menyatakan dukungannya kepada Megawati. Meskipun saat itu Gus Dur jelas-jelas sudah mencalonkan diri. Hal yang sama terjadi di detik ‘turunnya’ Gus Dur dari kursi kepresidenan. Keikutsertaan dalam proses konstitusional menuai ‘badai’. Hubungannya terjerembab tak harmonis dengan Gus Dur, makin ‘meruncing’ dan mencapai puncak ‘keretakan’.” Orang-orang ingat pelbagai lakon politik mencatat Matori Abdul Djalil berada di PKB.
Kita menilik seribu omelan memang mengiringi babak awal dan akhir Gus Dur dalam lakon presiden. Gus Dur justru biasa memberi hiburan dan tawa agar “api” tak membara dalam kecamuk demokrasi. Matori Abdul Jalil mengatakan: “Saya pernah menangis di pangkuan Gus Dur. Saya sangat sedih, marah, dan jengkel, sebab orang yang saya cintai jatuh ke sarang penyamun.” Peran dan sikap Matori Abdul Jalil tampak samar dalam kaitan kekuasaan dan ketokohan Gus Dur. Ia berani memberi omelan-omenlan atas nama demokrasi atau konstitusi tapi mudah bercao “pengkhianat” dalam kaidah-kaidah (partai) politik.
Masa ruwet dengan seribu omelan itu berlalu. Orang-orang sulit mengingat semua tapi tak mungkin melupakan dengan sembarangan. Pada masa lalu, Gus Dur pun memberi omelan kepada pemerintah. Omelan-omelan Gus Dur berlatar Orde Baru memang kritis tapi mengikutkan pula siasat berpikir unik dan menimbulkan humor. Gus Dur (1992) mengatakan: “Sekarang memang tampak bahwa inisiatif politik tidak datang dari masyarakat tapi hanya dari organ-organ politik yang formal, termasuk dari birokrasi dan orsospol. Politik kita terlalu formal sekarang ini, yang menyebabkan gairah politik tidak bisa hidup.”
Pada situasi berbeda, Gus Dur berada dalam pemerintahan dan “mengharuskan” membesarkan gairah demokrasi. Pada saat bersikap atas rezim Orde Baru, Gus Dur kadang tampak membingungkan publik. Sikap memberi kritik dan membela pemerintah dalam batas tipis. Mohammad Sobary (1997) membantu publik memberi keterangan agar mengenali Gus Dur: “Sekarang ini, membela pemerintah dinilai lebih dari sekadar pengecut. Dalam perjuangan lebih besar, saya kira Gus Dur memang bersedia mempertaruhkan kredibilitasnya. Ia rela kehilangan kepercayaan umatnya sendiri. Baginya, mungkin, ada sikap politik yang tak perlu dijelaskan kepada umat. Dan, terbusannya mahal sekali; ia berani mengambil risiko menjadi korban umpatan massa.” Kita perlahan mengerti Gus Dur dalam babak-babak pemerintahan berbeda.
Di batas peralihan peran dan nasib Gus Dur dalam demokrasi, kita membaca buku berjudul Gila Gus: Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid (2000). Di situ, kita membaca pendepat atau omelan Franz Magnis-Suseno: “Gus Dur memang sudah lama menjadi figur nasional. Satu-satunya sosok yang sebobot Pak Harto, yang tidak dapat dikooptasi olehnya. Kita masih ingat, banyak lawan menghujat Gus Dur, dan cukup banyak teman dulu bingung, menyaksikannya di panggung politik. Banyak yang merasa jengkel dengan beliau. Misalnya, orang lain bicara serius, panjang, dan mendalam tapi tidak diperhatikan. Sedangkan, setiap kali Gus Dur celoteh menjadi berita nasional. Bahkan, kalau Gus Dur jelas omong nonsense, pers melaporkannya dengan kagum.”
Kita menanti Franz Magnis-Suseno mengajukan lagi pendapat mengenai Gus Dur dan demokrasi mumpung ia terbukti berani berseru kritis atas rezim Joko Widodo. Penulis buku-buku bertema etika itu penting untuk berpendapat agar kita masih mungkin melakukan ralat atau pembenaran atas ketokohan Gus Dur dan kekuasaan masa lalu. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/human/ar-nFLwq/gus-dur-dan-seribu-omelan






