bersinergi menolak radikalisme

Jalanhijrah.com-Dalam perjalananan bangsa ini, kita dihadapkan banyak persoalan dan tantangan dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Salah satu tantangan terbesarnya yaitu radikalisme-terorisme. Tidak bisa dipungkiri lagi, ia menjadi ancaman nyata yang bisa memorak-perandakan tatanan dan kerukunan sosial di tengah masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan  dengan cara keras atau drastis. Banyak pandangan yang mengutarakan akar radikalisme. Mulai dari ketikdapuasan terhadap sistem politik, hingga persoalan ekonomi yang tidak merata.

Tidak hanya itu, pemahaman terhadap ajaran agama secara harfiah atau tekstual juga menjadi pemicu utama mudahnya individu atau kelompok mengafirkan (takfīr) orang lain. Padahal, syahadatnya sama. Padahal rukun Iman dan rukun Islamnya sama. Kekeliruan memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an membuat seseorang merasa benar sendiri.

Padahal, menafsirkan Al-Qur’an tidak bisa dilakukan secara sembrono menurut akal kita sendiri. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi ahli tafsir. Bahkan disyaratkan harus memahami beberapa bidang keilmuan sebelum menafsirkan Al-Qur’an.

Usamah Sayyid al-Azhary dalam pengantar bukunya, Islam Radikal: Telaah Kritis Radikalisme dari Ikhwanul Muslimin hingga ISIS (2015) menuturkan munculnya radikalisme Islam yang dimulai adanya pemikiran aliran-aliran politik yang menisbatkan kepada Islam dalam kurun waktu delapan puluh tahun terakhir.

Selama kurun waktu itu, umat Islam dihadapkan pada pandangan keagamaan segolongan orang yang mengatasnamakan diri mereka untuk membela syariat Islam dengan berjuang untuk mewariskannya ke generasi berikutnya.

Baca Juga  Nyai Hajjah Dlomroh Perempuan Tangguh di Balik Kebesaran Lirboyo

Mereka menciptakan metode dan pola berpkir sendiri dan mengaitkan pandangan mereka dengan syariat Islam. Mereka menawarkan sejumlah teori dan metodologi, menulis buku dan artikel, membuat puisi, menulis karya sastra lainnya, serta menerbitkan surat kabar dan tabloid.

Hemat saya, dari pandangan tersebut bisa kita sedikit menilai bahwa radikalisme terjadi tidak secara spontan dan tiba-tiba. Namun, bermula dari segolongan orang yang menunggangi syariat Islam untuk kepentingan kelompoknya.

Hal itulah yang menjadi warning tersendiri bagi kita. Apalagi, dalam beberapa kasus terungkap fakta bahwa kelompok radikal dengan jelas menentang segala paham kebangsaan kita.

Mereka dengan terang-terangan menolak Pancasila. Ini menjadi ancaman serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Memang, pemerintah kita sudah melarang hadirnya beberapa organisasi radikal di negara ini. Namun, kita tidak boleh merasa aman seratus persen dari ancaman radikalisme. Sebab, radikalisme tidak hanya berbicara tentang gerakannya, namun juga ide-idenya.

Bukankah ujaran kebencian dan ajakan permusuhan bisa dengan mudahnya dilontarkan di era digital sekarang? Hal itu mesti diwaspadai betul. Bisa jadi, kaum radikal tersebut menunggu momentum yang tepat untuk melancarkan aksi terornya. Bisa jadi, mereka sedang melakukan konsolidasi dan gerakan bawah tanah yang luput dari pengawasan intelijen negara. Semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Dalam rational action theory, pelaku gerakan adalah individu yang rasional. Dalam banyak kasus, mereka juga mendapatkan keuntungan pragmatis selain kepuasan ideologis yang diyakininya. Teori ini berseberangan dengan collective behaviour theory yang memandang bahwa pelaku gerakan sosial tidak sepenuhnya menyadari kekuatan-kekuatan luar yang mengatur kehidupan mereka.

Baca Juga  Rabi’ah ar-Ra’yi, Ulama yang Brilian

Teori ini melihat para pelaku gerakan sosial sebagai individu-individu emosional yang bereaksi terhadap situasi yang berada di luar kontrol mereka. Collective behaviour theory jika dikatikan dengan konteks gerakan Islam radikal, memperlihatkan bahwa aktivis Islam adalah kelompok irasional dan hanya mencari kemartiran (martyrdom).

Aktivisme yang mereka lakukan merupakan hasil dari keretakan sosial dan/atau akibat pengalaman-pengalaman kesengsaraan, ketertindasan, dan penderitaan yang terjadi baik di level individu maupun kelompok (Kuzman, 2003).

Ketidakpuasan terhadap sistem politik dan kondisi sosial memicu individu atau kelompok untuk membuat gerakan perubahan secara radikal dengan tujuan transformasi total keadaan masyarakat. Tentu saja, hal itu harus segera diantisipasi sedini mungkin. Pastinya, kita tidak ingin bibit-bibit radikalisme tumbuh subur di negeri ini.

Kita tidak ingin persatuan dan kesatuan bangsa ini terkoyak-koyak hanya karena ulah segelintir orang yang gagal paham mengenai teks agama. Kita tidak ingin bangsa ini terpecah belah dan hancur lebur karena segelintir orang yang menolak empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Sudah mesti bersatu padu dan bersinergi melawan segala macam potensi dan ancaman radikalisme. Baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam. Baik yang datangnya dari dunia nyata maupun dunia maya. Indonesia adalah rumah kita bersama.

Sudah menjadi tanggung jawab segenap komponen bangsa untuk menjaga dan merawatnya. Persatuan segenap komponen bangsa menjadi senjata paling ampuh untuk menangkal ancaman radikalisme. Kebaikan yang tidak terorganisir bisa saja terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.

Baca Juga  Menjaga Indonesia, Menjadi Manusia Pancasila

Mari mengambil peran untuk menciptakan kehidupan yang aman, damai, dan harmonis. Narasi radikalisme di dunia nyata maupun maya harus dilawan dengan narasi moderasi beragama.

Kita harus berani menyuarakan nilai-nilai keislaman yang inklusif, toleran, dan penuh dengan kasih sayang, terutama pada momentum Natal hari ini. Mari bersama-sama menjaga dan menegakkan empat pilar kebangsaan. Keutuhan bangsa dan negara ini berada di tangan kita.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *