Pada tulisan-tulisan yang lalu di Jalanhijrah ini, sudah dijelaskan tentang faedah dari kalimat pertanyaan dalam ayat pertama dalam surah al-Insyirah. Tulisan ini akan sedikit membahasa tafsir dari firman Allah pada ayat tersebut. Apakah yang dimaksud dengan ‘melapangkan dada’?
Secarah tekstual أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ mempunyai arti “Bukankah telah kami lapangkan dadamu untukmu?”. Selanjutnya ada dua tafsir yang akan dikemukakan mengenai hal tersebut. Yang pertama berpenpadapat bahwa maksud dari melapangkan dada adalah peristiwa pembelahan dada Rasulullah saw. yang terjadi pada saat masih kecil.
Diceritakan bahwa Rasulullah saw. sedang bermain dengan saudara sepersusuannya. Kemudian datanglah dua malaikat. Mereka membelah dadanya dan membuang bagian hati yang akan condong pada maksiat. Dengan begitu hati dada lebih lapang dan hati menjadi condong dan tertarik dengan ketaatan.
Ini adalah fenomena luar biasa yang terjadi pada seseorang yang akan diangkat menjadi nabi. Fenomena ini disebut irhash. Irhash adalah peristiwa yang tidak biasa seperti mukjizat bedanya ini terjadi sebelum diangkat menjadi nabi. Jadi hal ini seperti tanda-tanda awal bagi seorang nabi.
Dengan menggunakan tafsir ini seakan-akan ayat tersebut bermakna: “Bukankah kami telah melapangkan dadamu untukmu dengan membelah dadamu dan menyucikan hatimu dari bagian yang condong pada kemaksiatan?”
Tafsir yang kedua berpendapat bahwa maksud dari lapang adalah hal-hal yang merujuk pada kemakrifatan dan ketaatan. Teorinya ditarik mulai dari saat Rasulullah saw. diutus kepada jin dan manusia, hati Rasulullah saw. menjadi sempit dalam menghadapi pertentangan dan perlawanan dari jin dan manusia. Kemudian Allah memberikan ayat-ayat yang bisa membuat beban yang ia pikul menjadi ringan dan membuat ia menganggap remeh segala kesulitan yang ia tanggung.
Dengan ayat-ayat itu, Nabi Muhammad saw. diberikan pengetahuan sehingga di dalam hatinya tidak ada tujuan, kegundahan, cita-cita lain selain dalam menyelasaikan misi dari Allah swt. Sehingga Rasulullah saw. tidak lagi khawatir mengenai nafkah keluarga, tidak tertarik dengan harta dan lain-lain.
Kesimpulan dari teori ini adalah bahwa ‘lapang dada’ adalah sebuah idiom atau ungkapan tentang pengetahuan Nabi Muhammad saw. mengenai sepelenya dunia dan sempurnyanya akhirat. Dan ini sesuai dengan ayat 125 di surah al-An’am. Di dalam ayat tersebut menghubungkan petunjuk dan lapang dada. Sedangkan orang yang diberi petunjuk pasti mendapat ilmu.
Sebuah Riwayat menceritakan bahwa ada sahabat yang bertanya Nabi Muhammad saw. Ia bertanya: “Wahai Rasul. Apakah dada bisa menjadi lapang?” Rasulullah saw. menjawab: “iya.” Sahabat tadi bertanya: “lalu apa tandanya?” Rasulullah saw. menjawab: “tidak tertipu oleh dunia, ingin menggapai akhirat dan mempersiapkan bekal untuk mati sebelum ajal datang.”




