Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 7 Mar 2022 08:00 WIB ·

Rukhsah Shalat Seorang bagi Pengantin


					Rukhsah Shalat Seorang bagi Pengantin Perbesar

Jalanhijrah.comShalat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim yang baligh, berakal, dan dalam keadaan suci, kapanpun dan dimanapun. Artinya Ketika tidak dalam keadaan haid atau nifas, sedang gila atau ketika pingsan dan kewajiban shalat tidak tergoyahkan oleh ruang dan waktu.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An Nisa 103).

Namun, terdapat kondisi-kondisi yang tidak mengizinkan seseorang menjalankan shalat secara sempurna, misalkan orang tersebut sedang dalam perjalanan. Oleh karena itu, dalam hukum Islam terdapat rukhsah terhadap orang yang berhalangan melakukan ibadah shalat dengan jamak dan qashar serta menqodho’ shalat. Menurut para ulama’ bahwa diperbolehkan menjama’ shalat ketika dalam kondisi berikut: bahaya (takut), bepergian, sakit, dan hujan lebat. Namun ada sebagian ulama’ yang memperbolehkan menjamak shalat walaupun sedang di rumah dan tanpa udzur syar’I dikarenakan keadaan yang sangat sibuk, seperti ketika walimatul ‘ursy.

Walimah merupakan suatu perayaan (pesta) perkawinan dengan memberikan jamuan makan yang diselenggarakan untuk memberitahu masyarakat bahwa telah terjadi pernikahan agar terhindar dari fitnah. Walimah mempunyai beberapa hikmah yang merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT bahwa telah menjalani ibadah sesuai dengan syariat Islam yaitu menikah dan telah sah menjadi pasangan suami istri dan juga dapat mempererat tali silaturahim antara kedua belah pihak dan keluarga besar kedua mempelai. Namun, terkadang pasangan pengantin tersebut tidak dapat melaksanakan shalat secara tepat waktu sehingga menjamak shalatnya. Hal itu dikarenakan kesulitan apabila setiap waktu shalat tiba harus mengulang riasan make up yang tebal dan mahal sehingga membutuhkan waktu lama dan mengeluarkan biaya lagi (mubadzir), repotnya mengenakan pakaian berlapis-lapis yang tidak mungkin setiap akan melaksanakan shalat harus melepas dan memakainya kembali, serta keadaan tamu undangan yang ramai membuat pengantin sulit meninggalkan pelaminan yang menurut mereka menjamu tamu dengan baik merupakan adab seorang muslim untuk menyambung tali persaudaraan dan ada juga yang melaksanakan upacara adat sehingga waktunya mepet sekali jika harus mengerjakan shalat tepat waktu.

Baca Juga  Cara Meraih Surga Tertinggi (VIP)

Agama Islam memiliki sifat yang fleksibel, salah satunya ialah dengan memberikan rukhshah dalam menjamak shalat pada saat keadaan yang darurat, itu agar tidak memberatkan umat islam. Rukhsah menurut para pakar ushul fiqh yaitu suatu perubahan hukum disebabkan adanya udzur(halangan). Adapun udzur secara umum yang dapat menyebabkan seseorang mendapat rukhsah (keringanan) sebagai berikut: ad-dharurah(keadaan darurat), almasyaqqah (kondisi sulit), as-safar (kondisi bepergian), al-ikrah (kondisi dipaksa), al-maradh (kondisi sakit), an-nisyan(kondisi lupa), al-khata (kondisi keliru), al-jahl (kondisi tidak tahu), umum al-balwa (kesulitan yang umum) dan an-naqsh (kondisi kekurangan).

وذهب جماعة من الأئمة الى جواز الجمع فى الحاضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشى الكبير من أصحاب الشافعى عن أبى إسحاق المروزى عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر

Sejumlah ulama’ berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirrin, Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir.

Berdasarkan pendapat para ulama’ diatas bahwa menjamak shalat dalam acara walimatul ursy bagi pengantin diperbolehkan, karena hal ini termasuk dalam keadaan darurat dan kesulitan untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya, untuk itu jika khawatir akan meninggalkan shalat, maka tidak ada salahnya menjamak shalat. Karena menjamak shalat adalah rukhshah yang telah diberikan Allah SWT yang merupakan suatu kemudahan dan keringanan sebab adanya keadaan darurat dan kesulitan. Namun, keadaan darurat dan kesulitan dalam hal ini tidak untuk keadaan yang dialami setiap waktu tetapi kesulitan yang memang jarang ditemui atau tidak sering dilakukan.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian