Menu

Mode Gelap

Perempuan · 23 Mei 2022 12:00 WIB ·

Perempuan Afghanistan Semakin Tersudut, Potret Muslimah Kaffah ala Taliban?


					Perempuan Afghanistan  Semakin Tersudut, Potret Muslimah Kaffah ala Taliban? Perbesar

Jalanhijrah.com– Perempuan adalah pihak yang paling keras bersuara pasca penguasaan kembali Taliban di Afghanistan pada Agustus 2021 lalu. Bayangan akan bagaimana Taliban memperlakukan perempuan pada era Taliban pra 2001 sepertinya belum lekang dari ingatan. Tak hanya diskriminatif, namun Taliban menempatkan perempuan layaknya barang. Ia diperlakukan semena-mena tanpa diberi wewenang dan hak untuk menyampaikan pendapatnya sebagai manusia

Kehidupannya diatur sedemikian rupa bahkan untuk sekedar menentukan busana. Perempuan diwajibkan menggunakan chandri. Pakaian panjang yang menjuntai ke tanah dengan topi yang menutupi bagian kepala dan muka. Cara berjalannyapun juga tak luput dari aturan. Perempuan dilarang berjalan terlalu cepat, dan dilarang berbicara terlalu keras. Akses perempuan untuk berpartisipasidi ranah publik dikebiri. Bagi yang melanggar ketentuan syariat Islam sebagaimana meraka pahami, Taliban pra 2001 juga tak segan memberikan sanksi berupa fisik.

Maka tak berlebihan kiranya jika tepat sehari setelah penguasaan Taliban di Afghanistan atau pada 17 Agustus 2021, Zarifa Ghafari menyatakan siap untuk dieksekusi Taliban sewaktu-waktu. Zarifa Ghifari adalah seorang walikota perempuan di Maidan Shahr, salah satu provinsi di Afghanistan.

Sebagai perempuan yang bekerja di ranah publik, tentunya berseberangan dengan ideologi Taliban tentang perempuan dalam Islam. Perempuan haram untuk menampakkan dirinya dan harus banyak berada di rumah agar menjadi perempuan muslimah yang sesuai dengan syariat Islam.

Petinggi Taliban langsung merespon kontroversi atas penguasaan kembali Taliban di Afghanistan terutama dari golongan perempuan. Dalam konferensi pers yang diadakan pada 17 Agustus 2021, juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid memberikan responnya. Ia menyatakan bahwa kegelisahan Zarifa Ghafari tidak akan pernah terjadi. Karena Taliban yang saat ini bukanlah Taliban pra 2001.

Baca Juga  Lima Cara Mudah Menemukan Ide Menulis yang Harus Anda Kuasai

Mereka mengklaim akan mengedepankan idelogi moderat sehingga hak-hak perempuan akan tetap diprioritaskan. Sama dengan laki-laki, Zabiullah Mujahid menyatakan Taliban akan memberikan hak yang sama baik di wilayah publik dan domestik, dan akan memberikan kebebasan bagi perempuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang tinggi.

Saat itu, saya termasuk pihak yang optimis dengan janji Zabiullah Mujahid. Saya membayangkan Afghanistan akan lebih berdaya karena tak lagi di bawah penguasaan Amerika. Afghanistan bisa menjadi negara yang sepenuhnya merdeka dan memiliki kekuasaan untuk mengatur negaranya sendiri.

Dan hak perempuan juga akan diberikan sepenuhnya sebagaimana sebelumnya. Perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk berkiprah di ranah publik dan domestik sebagaimana laki-laki.

Kemerdekaan Perempuan Afghanistan Dikebiri Secara Perlahan Namun Pasti

Belum ada setahun setelah janji Zabiullah Mujahid diucapkan, hak perempuan Afghanistan dikebiri secara perlahan. Dengan berdalih menegakkan syariat Islam, perempuan didomestikasi secara perlahan. Pada Maret 2022 ini, Taliban secara resmi melarang remaja perempuan untuk berangkat ke sekolah.

Dengan alasan pemerintah Taliban sedang menyusun aturan untuk seragam yang akan diberlakukan. Namun hingga artikel ini ditulis, pemerintah Taliban masih menutup sekolah-sekolah. Pun jika ada perempuan yang melanjutkan pendidikan, itu hanya berlaku bagi putri pejabat ataupun tokoh petinggi Taliban.

Tak cukup sampai disitu, pada Sabtu 7 Mei 2022 Hibatullah Akhundzaka seorang pemimpin spiritual Taliban menyerukan kewajiban perempuan untuk menggunakan chadori. Burqa yang terjulur dari kepala hingga ujung kaki ini diyakini sebagai pakaian kehormatan perempuan dan melanggengkan aturan dalam syariat Islam. Tujuannya adalah agar tidak memancing syahwat saat bertemu dan berkumpul dengan lawan jenis.

Baca Juga  Kisah Shahabiyah Perempuan Memberi Nafkah Keluarga

Jika aturan pemakaian chadori ini dilanggar oleh perempuan, maka sanksi akan diberlakukan bagi ayah dan saudara laki-laki dari perempuan. Sanksi tersebut berupa penjara bagi masyarakat sipil, dan pemecatan jika berasal dari unsur pejabat. Perempuan juga harus didampingi oleh mahram jika melakukan perjalanan dengan jarak lebih dari 45 mil.

Aturan tak masuk akal lainnya ditetapkan pada Desember 2021. Berkaitan dengan larangan menempuh perjalanan yang lebih dari 72 km tanpa disertai mahram. Bahkan untuk menjalankan aktivitas keseharianpun, perempuan dianggap tidak mampu. Padahal sebagai manusia, baik laki-laki dan perempuan diberi potensi dan akses yang sama untuk mengembangkan kapasitas yang dimiliki. Namun pemahaman fikih literalis tampaknya menutup hati dan fikiran kelompok Taliban.

Larangan menempuh perjalanan yang lebih dari 72 km tanpa disertai mahram berdampak sangat fatal. Di awal 2022, kasus covid-19 di Afghanistan meningkat drastis hingga 70%. Lantaran adanya aturan perempuan dilarang mendapatkan pelayanan kesehatan jika tidak didampingi oleh  mahram. Bahkan untuk keadaan yang sangat darurat sekalipun, yang berhubungan dengan keselamatan jiwa tidak diperhatikan.

Bagaimana mungkin seorang penderita covid-19 masih harus mencari mahram untuk mendapatkan penanganan. Bukankah pasien covid-19 seharusnya dijauhkan diri dari orang-orang yang ada disekitarnya untuk alasan keselamatan?

Pada September 2021, Taliban juga menghapus Kementerian Urusan Wanita Afghan (MOWA). Diganti dengan Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan.  Tak ada alasan logis yang disampaikan oleh Taliban, kecuali hanya untuk menghormati perempuan. Tidak jelas apakah standar penghormatan yang ditetapkan Taliban tersebut dengan menghapus kementerian yang paling dekat dengan urusan perempuan?

Baca Juga  Ummu Haram binti Milhan ra., Wanita Syahid dan Penyabar

Menegakkan Perintah Tuhan  ataukah Menuruti Nafsu Belaka?

Kebijakan Taliban atas perempuan menuai kecaman penduduk Afghanistan bahkan masyarakat dunia. Hal ini direspon oleh pejabat Taliban bernama Mohammad Yahya Arep. Ia menyatakan bahwa kebijakan untuk perempuan bukanlah kehendak manusia pun bukan atas ambisi pemerintah melainkan perintah Tuhan. Tuhan melarang laki-laki dan perempuan berkumpul di ruang publik. Tuhan juga memerintah perempuan untuk memperbanyak diri di dalam rumah.

Klaim Taliban yang selalu mendalihkan penegakan syariat Islam dibawah aturan yang diskriminatif ini justru bertentangan dengan apa yang dilakukan Rasulullah kepada perempuan. Islam mengedepankan misi kemanusiaan, dan dicontohnya secara nyata oleh Rasulullah. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Dr. Nur Rofiah Bil.Uzm dalam bukunya Nalar Krits Muslimah. Bahwa Islam selama 23 tahun masa kerasulan Nabi Muhammad SAW berproses membebaskan perempuan dari aneka bentuk ketidakdilan.

Antara lain dengan memberinya hak waris, nilai kesaksiannya diperhitungkan, dan posisinya dalam perkawinan disetarakan.  Dan setelah perjalanan panjang Islam dalam memanusiakan perempuan, Taliban meletakkan kembali posisi perempuan sebagaimana kehidupan sebelum datangnya Islam.

Maka apakah kebijakan Taliban atas perempuan benar sebagai perintah Tuhan? Ataukah  hanya cara Taliban untuk melampiaskan nafsu belaka demi menunjukkan superirotasnya?

Penulis: Lutfiana Dwi Mayasari Anggota Puan Menulis sekaligus alumni Magister Kajian Timur Tengah UI. Saat ini mengajar Sejarah Peradaban Islam di IAIN Ponorogo. Minat pada kajian gender, perdamaian, hukum, dan politik Timur Tengah.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan