jalanhijrah.com – Di tengah iklim sosial yang kian terbelah, saya menemukan secercah keharmonisan di tempat yang tak pernah terlintas sebelumnya: sebuah gereja Katolik di kota Cirebon. Selama tiga kali latihan, saya—seorang Muslimah—berdiri di antara sopran dan alto, ikut mengalunkan suara dalam paduan suara lintas iman di Gereja Bunda Maria.
Bersama para sahabat dari KOPRI PMII, Fatayat NU Kabupaten Cirebon, Fahmina Institute, serta ibu-ibu dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), saya mengalami sesuatu yang jauh melampaui aktivitas bermusik: lahirnya rasa saling percaya.
Awalnya, saya melangkah dengan ragu. Ini bukan ruang ibadah saya, bukan pula tradisi yang saya jalani sehari-hari. Ada rasa kikuk, bahkan sedikit takut akan pandangan orang luar. Namun seiring berjalannya waktu, kecanggungan itu perlahan luruh.
Tawa kecil di sela koreksi pelafalan, pencarian nada yang pas, dan kebersamaan dalam menyatukan harmoni, membongkar tembok-tembok pemisah. Tak ada yang mendominasi, tak ada prasangka, tak ada dikotomi “kami” dan “mereka”. Yang ada hanyalah sekelompok perempuan yang bernyanyi bersama—saling melengkapi kekosongan nada. Dari kesederhanaan inilah saya merasakan makna perdamaian yang begitu mendalam.
Perspektif WPS: Ketika Perempuan Jadi Penjaga Damai
Pengalaman ini bukan sekadar tentang spiritualitas pribadi. Ia merupakan cerminan nyata dari prinsip Women, Peace, and Security (WPS)—sebuah agenda global yang menekankan peran perempuan dalam membangun dan menjaga perdamaian.
Kami memang tidak duduk di meja negosiasi internasional atau merancang perjanjian damai. Tapi di ruang latihan sederhana itu, kami melakukan hal yang sama pentingnya: membangun jembatan kepercayaan antar komunitas dan memperkuat fondasi sosial yang menopang perdamaian jangka panjang.
Dalam kerangka WPS, perempuan kerap dianggap sebagai kunci pengikat kohesi sosial. Sayangnya, peran ini sering kali diabaikan karena berlangsung di ruang-ruang informal—seperti dapur, komunitas, atau bahkan latihan paduan suara.
Padahal, justru di ruang-ruang mikro inilah akar perdamaian ditanam. Kebersamaan yang tumbuh dari interaksi yang setara menjadi penangkal alami terhadap prasangka dan kebencian.
Laporan The Asia Foundation (2019) menggarisbawahi bahwa intensitas perjumpaan lintas agama dapat meredam prasangka dan memperkuat rasa saling percaya. Namun sayangnya, ruang-ruang seperti itu kian langka, tergerus oleh polarisasi identitas dan segregasi sosial yang menguat.
Inisiatif lintas iman yang digerakkan oleh perempuan, meski berskala kecil, layak dipahami sebagai bentuk nyata dari pencegahan konflik dan upaya merawat koeksistensi.
Melatih Harmoni, Melatih Perdamaian
Apa yang kami lakukan bukan sekadar menyuarakan toleransi lewat kata-kata, tapi sungguh-sungguh melatih harmoni—secara literal dan simbolik. Bernyanyi bersama menuntut kami untuk mendengarkan satu sama lain, menyeimbangkan suara, meredam ego, dan menemukan keharmonisan dalam keberagaman.
Prinsip-prinsip ini sejatinya juga merupakan fondasi dari masyarakat damai: menghormati perbedaan, mencari titik temu, dan tidak memaksakan diri di atas orang lain.
Repertoar lagu kami menjadi medium perjumpaan nilai-nilai. Dari “Indonesia Tanah Air Beta” yang membangkitkan semangat kebangsaan, “Manuk Dadali” yang energik, hingga “Yalal Wathon” yang penuh pesan nasionalisme, semuanya menyuarakan nilai universal.
Bahkan saat melantunkan lagu-lagu beraroma Kristiani, saya tidak merasa terasing. Justru saya menemukan irisan nilai bersama: cinta kasih, pengampunan, dan harapan—nilai-nilai yang berakar dalam semua keyakinan.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada konsep “agama kewargaan” yang ditawarkan Rumadi Ahmad (2016)—yakni keberagamaan yang menempatkan penghormatan terhadap hak-hak warga negara di atas kebenaran tunggal. Ini sangat relevan dalam kerangka WPS, yang menuntut agar semua warga merasa aman, dilindungi, dan diakui dalam ruang publik.
Menyeberangi Batas Identitas
Bagi sebagian orang, gereja mungkin masih dianggap sebagai wilayah “asing” jika mereka bukan pemeluk Kristiani. Tapi saya percaya, perdamaian tidak tumbuh jika kita hanya bertahan di dalam rumah sendiri.
Kita perlu berani melangkah ke luar, menyeberangi batas-batas identitas, dan menyadari bahwa yang berbeda tak selalu mengancam. Justru perjumpaan lintas identitas memberi ruang bagi kita untuk memperluas dan meneguhkan nilai-nilai yang kita anut.
Perdamaian, bagi saya, bukan tentang keseragaman. Tapi tentang kemampuan menyatu dalam keberbedaan—seperti paduan suara yang terdiri dari berbagai nada, namun membentuk satu harmoni.
Bernyanyi sebagai Tindakan Perdamaian
Latihan paduan suara di gereja itu mengajarkan satu hal: kita tidak harus menjadi tokoh besar untuk berkontribusi pada perdamaian. Cukup hadir sebagai perempuan yang mau mendengar, mau memahami, dan membuka ruang bersama.
Sering kali, perdamaian tidak lahir dari perundingan politik, tapi dari kesediaan untuk saling mendengar dan bernyanyi dalam harmoni.
Setiap saya pulang dari latihan, hati saya terasa lebih ringan. Keyakinan saya pun bertambah: bahwa perdamaian itu mungkin. Ia tidak datang sekaligus, tapi tumbuh perlahan, dari satu nada ke nada berikutnya—dari satu perjumpaan ke perjumpaan lainnya—hingga tercipta sebuah simfoni.
Di tengah dunia yang riuh oleh kebencian, mungkin inilah cara paling sederhana—dan paling manusiawi—untuk menjaganya: bernyanyi bersama dalam keberagaman.



