Menu

Mode Gelap

Milenial · 25 Jun 2022 12:00 WIB ·

Mengarang Tidak Asal Mengarang-ngarang


					Mengarang Tidak Asal Mengarang-ngarang Perbesar

Jalanhijrah.com– Menulis atau mengarang bagi sebagian orang adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya. Sementara sebagian lainnya, boro-boro sebuah kenikmatan, justru aktivitas menulis adalah sebuah siksaan. Hal ini dapat dibuktikan ketika seorang mahasiswa semester akhir berhadapan dengan tugas skripsi.

Menulis atau menyusun skripsi, selain (konon) sulit juga bisa membuat stres, tersiksa lahir dan batin. Karenanya, tak heran bila ada sebagian mahasiswa yang memutuskan berhenti kuliah, tak kuat menanggung pedihnya menggarap tugas skripsi.

Menulis atau mengarang mestinya harus dipelajari sejak dini oleh setiap pelajar atau mahasiswa. Ini penting, sangat penting malah. Paling tidak, agar saat berhadapan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan mengarang atau menulis, mereka tidak kelimpungan dan akhirnya memilih “membeli” tulisan pada para “ghost writer” alias penulis bayangan. Bagi saya, menulis itu sebenarnya bisa diupayakan.

Artinya, setiap orang bisa menulis. Kalau ada orang yang sehat lahir dan batinnya tapi mendakwa diri tidak bisa menulis, itu hanya alasan belaka atau karena tak kuasa melawan kemalasan dalam dirinya.

Sebenarnya ada sedikit perbedaan makna dari kata menulis dan mengarang. Dalam tulisan Ini Beda Mengarang dan Menulis, Bambang Trim menjelaskan bahwa sebenarnya istilah mengarang dan menulis dalam bahasa Indonesai digunakan sepadan dan bergantian. Namun, jika diselisik lagi maknanya, mengarang lebih dekat pada aktivitas berkhayal, sedangkan menulis lebih dekat pada aktivitas mekanis menata kata hingga membentuk sebuah karangan (bambangtrim.com).

Baca Juga  Radikalisme, Pelecehan Seks, dan Kecanduan Poligami

Meskipun “menulis” dan “mengarang” ada sedikit perbedaan makna, tetapi saya tak ingin membeda-bedakannya, apalagi berniat mengajak berdebat orang-orang yang pada dasarnya gemar mendebatkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Bagi saya, menulis dan mengarang itu pada intinya sama saja, yakni kegiatan menciptakan karya tulis yang bisa dinikmati (syukur-syukur bisa diambil manfaatnya) oleh para pembaca.

Namun, ada yang perlu digarisbawahi di sini, meskipun mengarang itu identik dengan mengkhayal, tapi bukan berarti kita asal mengarang, atau mengarang-ngarang tulisan belaka. Mengarang-ngarang sama dengan mengada-ada. Sebagaimana dijelaskan dalam KBBI, bahwa kesimpulan dari arti mengarang-ngarang adalah menceritakan (mengatakan) sesuatu yang tidak benar. Arti lainnya dari mengarang-ngarang adalah mengada-ada. Contoh: kami sudah yakin dengan kebenaran berita itu, tetapi ternyata dia hanya mengarang-ngarang saja (kbbi.lektur.id).

Manfaat Mengarang

Mengarang, sebagaimana menulis, tentu ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Salah satunya ialah menyehatkan otak. Dengan mengarang, otak kita jadi “lebih berfungsi” dan “lebih hidup”. Bukankah ketika mengarang atau menulis, secara otomatis kita sedang memikirkan beragam hal?

Misalnya berpikir tentang apa saja yang harus kita tulis, bagian mana saja yang tak perlu ditulis, memikirkan deretan kalimat yang efektif sehingga enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca, memikirkan diksi yang tepat, dan seterusnya.

Benar kiranya apa yang pernah disampaikan oleh Hamsad Rangkuti dalam buku Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? (Diva Press, 2022) bahwa mengarang adalah berpikir. Menimbang-nimbang komposisi, menyeleksi informasi, membangun unsur dramatik, dan memasukkan unsur keindahan.

Baca Juga  Konferensi Negev dan Sekuel dari Normalisasi Hubungan Arab-Israel

Sementara itu, dalam buku Menguangkan Ide: Kaya dari Menulis Artikel(Leutika, 2010) Sudaryanto memaparkan tiga manfaat menulis. Berikut penjelasan ringkasnya:

Pertama, manfaat psikologis. Penulis cilik asal Yogya, A. Ataka AR pernah berkata, “Dengan menulis, saya seolah-olah berada di dunia saya sendiri. Dunia yang saya ciptakan bersama tokoh-tokohnya. Saya bebas mengatur tokoh-tokoh itu seperti bermain catur.” Dari kata-kata itu, Sudaryanto dapat menangkap hal penting; bahwa melalui menulis seseorang bisa berimajinasi sesuai apa yang dia kehendaki sehingga ia seperti merasakan kebebasan berekspresi, tanpa ada pihak yang mengekangnya.

Kedua, manfaat sosiologis. Prof. Suyanto, PhD pernah berkata, “Apa yang kita pikirkan harus dituangkan dalam tulisan supaya orang lain tahu. Karena kalau tidak ditulis, tidak ada gunanya.” Sudaryanto mengamini ucapan beliau. Sebuah ide, sekalipun itu dimiliki orang yang bergelar sarjana (S1), namun jika dituliskan akan dimengerti oleh orang lain. Sebaliknya, ide secerdas apa pun dari seorang doktor (S3) jika tidak dituliskan pasti tidak akan dipahami oleh orang lain.

Ketiga, manfaat ekonomis. Atau kalau dalam bahasa saya, menulis bermanfaat mendatangkan pundi-pundi rupiah. Terkait manfaat ekonomis, Sudaryanto mengakuinya dengan jujur bahwa karier kepenulisan yang dirintisnya pertama-tama karena keterdesakan ekonomi. Ia menulis puisi dan artikel di koran, serta aktif mengirimkan karya untuk lomba penulisan karena didorong hal itu.

Baca Juga  BNPT Gandeng FPH Wasathiyah Cegah Intoleransi dan Radikalisme

Tentu saja, selain ketiga manfaat tersebut, masih ada manfaat lain dari kegiatan menulis atau mengarang. Misalnya, melegakan hati atau perasaan. Hal ini sebagaimana saya alami sendiri. Biasanya ketika saya menyakiskan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, saya merasa terpanggil untuk menuliskannya.

Ketika saya tak kunjung menuliskannya, biasanya saya merasa gundah, kepikiran terus. Namun ketika saya sudah berhasil menuangkannya dalam sebuah tulisan atau karangan (baik fiksi maupun nonfiksi) saya merasa lega tak terkira. Terlebih ketika manfaat ekonomis (sebagaimana diterangkan oleh Sudaryanto) juga saya dapatkan: mendapatkan imbalan saat tulisan tersebut berhasil menembus media massa.

Nah, bagi Anda yang tertarik menekuni dunia kepenulisan atau kepengarangan, ayo segera mulai dari sekarang. Tapi ingat, meskipun mengarang identik dengan mengkhayal, tapi bukan berarti kita asal mengarang-ngarang lho, ya?

Penulis: Sam Edy Yuswanto Bermukim di Kebumen, tulisannya dalam berbagai genre tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Koran Sindo, Jawa Pos, Republika, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dll.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

Baca Lainnya

Refleksi HUT RI 77: Bangkit Cepat Lawan Radikalisme dan Tebar Moderasi Beragama

17 Agustus 2022 - 09:00 WIB

Indonesia

HUT RI 77: Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Semakin Kuat Memberantas Radikalisme

16 Agustus 2022 - 15:00 WIB

HUT RI 77: Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Semakin Kuat Memberantas Radikalisme

Hijrah Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dan Transformasi Wacana Relasi Agama-Negara

16 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hijrah Ustaz Abu Bakar Ba’asyir dan Transformasi Wacana Relasi Agama-Negara

Bersiap Siaga Mengawal Kesucian HUT Kemerdekaan RI Dari Ancaman Radikalisme

15 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Membela Perempuan: Pemaksaan Jilbab dan Urgensi Sterilisasi Intoleransi di Sekolah

14 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Membela Perempuan: Pemaksaan Jilbab dan Urgensi Sterilisasi Intoleransi di Sekolah

Mahasiswa Baru, Terget Teroris, dan Urgensi Bantengi Kampus dari Terorisme

14 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Mahasiswa Baru, Terget Teroris, dan Urgensi Bantengi Kampus dari Terorisme
Trending di Milenial