Home / Keluarga / Menanamkan Sikap Tawazun dalam Keluarga Maslahah

Menanamkan Sikap Tawazun dalam Keluarga Maslahah

Tawazun adalah sikap seimbang dalam berkhidmah. Menyelaraskan khidmah kepada sesama manusia dan alam dalam rangka khidmah pada Allah. Menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa mendatang.

Tawazun juga adalah sikap berimbang dalam melakukan pertimbangan-pertimbangan apapun. Misalnya berimbangnya dalil naqli dan aqli, kepentingan pribadi dan umum, ibadah ritual dan sosial, kerja-kerja keluarga dan khidmah keumatan, dan lainnya.

Sikap ini antara lain berdasarkan pada QS. al-Hadid ayat 25:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasuk-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan meraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan bebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. al-Hadid ayat 25)

Dalam konteks keluarga, sikap tawazun dapat kita terapkan misalnya dengan berimbangnya pemenuhan kewajiban suami dan istri, orang tua dan anak. Termasuk keluarga inti dan besar, perlakuan orang tua pada anak-anak, antar saudara dan lain-lain.

Keseimbangan pemenuhan kebutuhan setiap anggota keluarga mesti mempertimbangkan kebutuhan yang dimiliki secara bersama-sama. Sekaligus kebutuhan yang setiap pihak perlukan sesuai dengan kondisi khusus masing-masing. Sehingga semua pihak sama-sama bisa menikmati kemaslahatan keluarga.

Dalam kehidupan keluarga, keseimbangan atau tawazun merupakan salah satu kunci utama dalam menciptakan keharmonisan. Konsep tawazun tidak hanya mencakup keseimbangan dalam hal materi dan spiritual, tetapi juga dalam aspek komunikasi, peran, dan tanggung jawab setiap anggota keluarga.

Dalam Islam, keluarga dipandang sebagai institusi yang mendidik dan membentuk karakter individu yang memiliki kontribusi besar dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk menerapkan sikap tawazun guna mewujudkan keluarga maslahah, yakni keluarga yang membawa manfaat dan kebaikan bagi anggotanya maupun lingkungan sekitarnya.

Keseimbangan dalam keluarga dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Pertama, dalam aspek spiritual, keluarga harus menanamkan nilai-nilai agama secara proporsional. Suami dan istri sebagai orang tua harus menjadi teladan dalam menjalankan ibadah dan menanamkan akhlak yang baik kepada anak-anaknya. Pendidikan agama yang diterapkan dengan moderat akan membantu anggota keluarga memahami pentingnya menjalani kehidupan dengan prinsip keadilan, kasih sayang, dan toleransi.

Kedua, keseimbangan dalam peran dan tanggung jawab. Dalam sebuah keluarga, suami dan istri memiliki peran yang saling melengkapi. Suami sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan istri berperan dalam mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga. Namun, dalam realitas modern, pembagian peran ini bisa lebih fleksibel dan adaptif sesuai dengan kondisi serta kesepakatan bersama. Yang terpenting adalah adanya kesadaran bahwa peran dan tanggung jawab dalam keluarga harus dijalankan dengan adil dan saling mendukung.

Ketiga, keseimbangan dalam komunikasi. Komunikasi yang sehat dalam keluarga menjadi fondasi kuat dalam menjaga keharmonisan. Dialog yang terbuka dan jujur antara suami-istri serta antara orang tua dan anak-anak akan menciptakan suasana yang nyaman dan penuh kepercayaan. Dengan komunikasi yang baik, setiap anggota keluarga merasa dihargai dan didengar, sehingga mampu mengatasi konflik dengan cara yang bijak.

Keempat, keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan emosional dan material. Keluarga yang maslahah bukan hanya keluarga yang sejahtera secara ekonomi, tetapi juga memiliki ikatan emosional yang kuat. Memberikan perhatian, kasih sayang, serta waktu berkualitas kepada anggota keluarga akan menciptakan suasana harmonis yang berdampak pada kesejahteraan psikologis seluruh anggota keluarga.

Dalam membangun keluarga maslahah, prinsip tawazun harus selalu dijadikan pegangan agar tidak terjadi ketimpangan yang dapat merusak keharmonisan. Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Dengan menerapkan nilai-nilai tawazun, keluarga tidak hanya akan menjadi tempat yang nyaman bagi anggotanya tetapi juga menjadi pilar utama dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera dan harmonis.

Sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga yang menerapkan prinsip tawazun akan melahirkan individu-individu yang memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawab, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, mari kita jadikan sikap tawazun sebagai bagian dari nilai utama dalam membangun keluarga yang maslahah, penuh berkah, dan membawa kebaikan bagi semua.