Beranda / Live / Melongok Kemeriahan Lebaran Aboge di Banyumas Jateng

Melongok Kemeriahan Lebaran Aboge di Banyumas Jateng

Jalanhijrah.com – Jumat pagi, 12 April 2024 kemarin, jemaah Islam ‘Aboge’ (Alif Rebo Wage) di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah melaksanakan Sholat Idul Fitri. Mereka merayakan lebaran di hari ketiga yang ditetapkan pemerintah tahun ini. Penganut Islam Aboge memang banyak tersebar di Banyumas, antara lain di Desa Kracak dan Ciberung (Kecamatan Ajibarang), Kalitanjung, Tambaknegara (Kecamatan Rawalo), Banakeling, Pakuncen (Kecamatan Jatilawang), Desa Cikakak (Kecamatan Wangon) serta Desa Petahunan dan Tumiyang (Kecamatan Pekuncen).

Arina.id berkesempatan melongok lebaran (bada) Aboge di Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Di sini jemaah Aboge tersebar di dua dusun, yakni Dusun Cilongok dan Kebon Cikal. Daerah ini jarang mendapat perhatian media. Pemberitaan selama ini kegiatan Aboge di Banyumas yang sering muncul adalah di Desa Cikakak Kecamatan Wangon dengan masjid saka tunggalnya, atau di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang dengan Komunitas adat Bonokeling yang terkenal.

Sejak Kamis sore, takbir menggema dari dua masjid di Dusun Cilongok dan Kebon Cikal, melalui pelantang suara. Bedug yang dipukul para remaja bertalu-talu mengiringi, terdengar jelas hingga desa-desa tetangga. Gema takbir terus mengalun tanpa putus hingga Sholat Idul Fitri tiba. Sesekali–jauh dari masjid—terdengar dentuman petasan yang dimainkan anak-anak setempat.

Umat Islam Aboge di dua dusun itu telah bermukim sejak lama. Ajaran Aboge tetap lestari secara turun-temurun, karena Aboge sejatinya bukanlah suatu aliran keagamaan tersendiri. Jemaah Islam Aboge menjalankan syariat Islam seperti sholat lima waktu, sholat tarawih, puasa Ramadhan, dan menunaikan zakat.

Pada Sholat Idul Fitri Jumat pagi itu, tak hanya generasi sepuh yang selama ini dikenal menjadi mayoritas Aboge. Namun ratusan ibu-ibu, para pemuda dan putra-putri mereka juga hadir memadati halaman masjid untuk menunaikan kewajiban. Sekitar 300 jemaah mendengarkan dengan saksama khutbah Idul Fitri yang dibawakan oleh Suwarno, tokoh agama, di masjid Nurul Mukmin kampung setempat.

Usai Sholat Id, mereka bersalam-salaman diiringi sholawat, dilanjutkan dengan syukuran atau slametan di halaman masjid dengan aneka hidangan lezat di hari istimewa itu. Usai slametan di masjid, barulah warga saling berkunjung dari rumah ke rumah. Warga menyambangi para sesepuh yang masih tersisa di kampung itu, sebagai tetua yang sangat dihormati.

Ada ucapan khas yang kerap terucap warga saat sungkem pada kesepuhan atau orang tuanya, yakni: Ngaturaken sugeng riyadi, supadosa dosa kula lubar luwar, sedinten niki sedalu wau. Ingkang saged ngicalaken pidosa kula namung Gusti Allah Tangala, kula saderma ngge lantaran. (Menghaturkan Selamat di hari raya, agar dosa-dosa kami lebur, dosa hari ini dan masa sebelumnya. Hanya Allah yang Bisa Menghapus dosa, saya hanya perantara).

Usai sungkem, berbagai hidangan ala lebaran telah menanti, seperti aneka kue, sirup, hingga bakso dan soto tersedia untuk dinikmati bersama. Tak ketinggalan, pesta petasan selalu ada seperti ritual wajib yang dilakukan anak-anak dan remaja. Ada 6 renteng petasan disulut hari itu, sedang petasan gong-gongan telah ditabuh pada malam takbiran. Semua larut dalam kegembiraan lebaran.

Pengaruh Jawa

Menurut sesepuh Aboge setempat, Eyang Sodikin (87 tahun), kaum Aboge hidup berdampingan bersama masyarakat dengan sangat harmonis. Tidak ada yang merasa terganggu ataupun mengganggu, karena semua menghargai perbedaan serta menjunjung tinggi tatanan hidup yang damai penuh toleransi. Jika ada yang membedakan, adalah karena Aboge memiliki sistem penanggalan tersendiri. Hal itu membuat mereka merayakan Lebaran pada hari yang berbeda dengan yang ditetapkan Pemerintah.

“Sejak saya lahir ya sudah ada Aboge dan kami semua ikut orang tua. Perbedaan Aboge itu hanya pada penanggalannya, yakni perhitungan kalender berdasarkan perhitungan Jawa. Tentu saja hasilnya jadi berbeda dengan yang menggunakan kalender Hijriah atau Masehi,” kata Sodikin.

Menurutnya, Aboge mendasarkan aktivitasnya dengan perhitungan kalender Alif Rebo Wage. Kalender Aboge ini merupakan penggabungan kalender perhitungan dalam satu windu dengan jumlah hari dan jumlah pasaran berdasarkan perhitungan Jawa, yakni: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Sedangkan satu tahun tetaplah dua belas bulan dan satu bulan terdiri dari 29-30 hari.

Keteladanan tokoh

Pemuda setempat, Alim, merasa bersyukur jemaah Aboge di kampungnya bisa bertahan dan lestari hingga kini, meskipun tak sebanyak dulu.

Menurutnya, karakter masyarakat di kampung sangat dipengaruhi oleh keteladanan tokoh atau sesepuh panutannya. Jika pemimpin baik, warga semua akan kompak.

“Alhamdulillah, kaum Aboge di sini bisa lestari turun-temurun. Meski ada sebagian warga yang terpengaruh mengikuti lebaran yang ditentukan Pemerintah. Namun, semua bisa berjalan berdampingan dengan rukun,” ungkapnya.

Waljiro

Dosen Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Ahmad Muttaqin mengatakan Muslim Aboge memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal bulan tanpa melalui metode yang lazim digunakan, seperti hisab dan rukyat. Mereka menggunakan kalender tersendiri yang diperkenalkan Sultan Agung Mataram dengan mengintegrasikan kalender Hijriah dengan Jawa (Saka).

Bagi masyarakat Muslim Aboge, identitas tahun terdiri dari delapan siklus yang terus berlangsung selama 120 tahun. Yakn,i Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba, Wau, dan Jim Akhir. Setiap tahun, Muslim Aboge memiliki pola yang tetap baik dalam penetapan hari maupun pasarannya.

Dalam menentukan lebaran tahun ini, pola yang digunakan adalah Waljiro (satu sawal pada hari pertama pasaran ke dua). Hari pertama adalah Jumat dan pasaran kedua adalah Wage. Dengan pola yang tetap ini, muslim Aboge dapat menetapkan awal bulan termasuk menentukan Hari Raya Idul Fitri, yang sesuai dengan pola perhitungan waljiro, akan jatuh pada hari Jumat Wage tanggal 12 April 2024.

Akulturasi dakwah dengan kearifan lokal

Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia dengan jumlah pemeluk mencapai 86,7 persen dari 270,6 juta  jiwa. Angka fantastis ini menasbihkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.  Akulturasi budaya telah ditempuh menjadi strategi dakwah para wali songo di bumi nusantara. Akulturasi dakwah Islam dengan kearifan lokal itu menjadi media bagaimana Islam berkembang pesat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dengan damai.

Jauh-jauh hari, para wali telah sepakat berjuang di jalan dakwah Islam dengan kelembutan, tanpa mengusik budaya yang telah ada. Sehingga ajaran agama mudah diterima masyarakat, karena akomodatif dengan muatan budaya lokal. Maka hingga kini, wajah Islam di Jawa memiliki kecenderungan akulturasi yang kuat. Meminjam istilah Cak Nun, ‘Islam yang Njawani’ dan ‘Jawa yang Islami’.

Aboge merupakan sebuah sistem penanggalan yang dipengaruhi oleh budaya Islam dan Jawa, terutama dalam penghitungan penentuan tanggal hari-hari besar agama, termasuk puasa dan lebaran. Konon, ajaran Islam Aboge kali pertama diperkenalkan oleh Ngabdullah Syarif Sayyid Kuning atau Raden Rasid Sayyid Kuning.

Para penganut Islam Aboge meyakini bahwa sistem perhitungan kalender mereka telah dipergunakan oleh para wali di Nusantara sejak abad ke-14. Maka jika timbul perbedaan adalah hal yang wajar. Namun, adanya perbedaan itu tidak menjadikan konflik. Masyarakat Indonesia telah terdidik untuk dapat menerima dan menghargai sebagai bagian dari Rahmat Allah Taala.

Muji Prasetyo