Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur

Jalanhijrah.com– Eksploitasi terhadap perempuan kini semakin menemukan ruang untuk berkuasa pada Bangsa Indonesia. Kita tentu tidak bisa menyalahkan  perempuan sebagai biang keladi dari permasalahan patologi sosial yang semakin meruncing di lingkungan sekitar.

Akan tetapi, masyarakat Indonesia kini mulai dirasuki oleh sikap pragmatisme hingga matelialisme yang disokong oleh para elit kapitalisme menjadi kebiasaan yang memanfaatkan perempuan sebagai objek “menawan” untuk bisnis dan kepentingan.  Bahkan, perempuan menjadi perdagangan yang sah-sah saja tanpa memikirkan nilai-nilai kemanusiaan.

Perempuan merupakan sosok yang sangat inpiratif, kreatif, dalam menyebarkan perdamaian di dunia maya apalagi dibekali dengan pemahaman tentang bagaimana mencegah radikalisme dari berbagai lini kehidupan. Karenanya, tulisan menjadi salah satu senjata dalam bergerilya di media digital. Kekuatan tulisan akan menembus ribuan otak manusia yang ada di dunia digital apalagi ditambah dengan narasi-narasi videografi yang memberikan propaganda perdamaian.

Kreativitas perempuan dalam menulis harus senantiasa diasah, ide-ide inovatifnya dalam membuat konten video dan lain sebagainya harus diberdayakan. Selain sebagai bentuk resistensi perempuan terhadap keadilan gender dan kesetaraan, perempuan yang bisa memanfaatkan ruang digital ini dengan sebaik mungkin juga akan memiliki legitimasi dan eksistensi dari public bahwa perempuan juga bisa bersuara dalam menegakkan dan menyebarkan konten perdamaian.

Otak-otak konten kreator perempuan tentu sangat dinantikan di media digital. Karena mereka sebenarnya eksekutor perwajahan media digital yang berisi tentang perdamaian, anti terorisme dan radikalisme serta lainnya. Tidak hanya mengisi ruang website, anak-anak muda dari kalangan perempuan juga bisa memanfaatkan tiktok sebagai media dakwah menyampaikan konten-konten viral perdamaian agar semakin ramai dan menarik dalam benak pembaca.

Berbagai media online yang ada di Indonesia kini sudah beralih kepada gerak konten kreator. Ada beberapa perusahaan media yang sudah membuka subdomain hingga ke daerah. Tentunya hal ini memungkinkan dalam membentuk perempuan dengan skill yang mumpuni menjadi konten kreator dalam bidang apa saja: YouTube, Instagram, website, dan sosial media lainnya sehingga tingkat penyebaran nilai-nilai perdamaian semakin cepat dan pemahaman radikalisme yang disusupkan di dalamnya akan tercegah dengan maksimal.

Baca Juga  Cerita Nigin Ayeen Di Tengah Konflik Afganistan: Belajar Islam Wasathiyyah ke Indonesia

Peluru Perdamaian Perempuan

Gerakan melalui media dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian merupakan salah satu bentuk resistensi perempuan dalam menyuarakan hak-hak mereka yang terpinggirkan. Perempuan akan menjadi peluru di media sosial dengan senantiasa menyebarkan konten-konten yang positif dalam berbagai platform media sosial.

Peluang ini tentu semakin bisa dilakukan karena perempuan merupakan salah satu generasi yang aktif dan bisa melakukan gerakan-gerakan yang persuasif, bukan malah menjadi objek dari agenda-agenda kapitalisme yang semakin meraja lela dan menelanjangi mereka melalui media-media. Apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama dan bangsa Indonesia.

Ibarat sebuah senapan. Perempuan sejatinya sudah siap untuk menembakkan peluru perdamaian dengan konten konten yang ada di media. Hanya saja, perempuan perlu untuk diarahkan agar semakin produktif dan inovatif dalam melakukannya. Bisa dibayangkan bagaimana jika akun media perempuan yang ada di berbagai platform diarahkan kepada hal positif dan perdamaian atau setidaknya bisa membantu memviralkan perdamaian melalui medianya masing-masing.

Selain itu, cara untuk memviralkan konten perdamaian adalah dengan membuat hanstag dalam setiap postingannya di medsos. Sebagaimana yang dikatakan oleh Nuruddin dalam buku Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial bahwa fakta-fakta baru media massa salah satunya bagaimana peran hanstag sebagai salah satu pemicu sekaligus menjadi pemersatu.

Akan tetapi, gerakan hashtag ini merupakan gerakan spontan masyarakat dari berbagai macam kepentingan. Sehingga hashtag menjadi gerakan sosial masyarakat masa kini. Karenanya, perempuan juga harus iku andil dalam menyebarkan gagasan tentang perdamaian ini. Sebagai penikmat media digital tentu tidak boleh memandang sebelah mata hanstaq yang ada di media sosial.

Lebih lanjut, menurut Nuruddin bahwa hashtag bisa menjadi pisau bermata dua. Ia bisa membuat popularitas seseorang atau lembaga, mencari keuntungan dan lain-lain. Namun demikian, hashtag juga menjadi aturan hukum sementara hakimnya adalah individu. Netizen bisa menghakimi orang lain atau lembaga tertentu hanya dengan hanstaq sehingga kemudian menjadi trending topic di jagat media massa.

Baca Juga  Asma binti Yazid; Sang Intelektual dan Orator Perempuan (Khatibatun Nisa)

Biasanya di dalam membuat hanstaq seorang juga harus dibekali bagaimana personal branding yang baik atau bagaimana konten kreator yang menarik memposting segala isu perdamaian di media sosial. Konten kreator salah satunya berpikir bagaimana gagasan yang akan dibangun kepada pembaca sehingga bisa mempengaruhi ketertarikan seseorang dalam membaca konten yang dibuatnya.

Menulis Gaya “Features” dan Puisi   

Toto Sugiharto dalam buku Panduan Menjadi Jurnalis Profesional mengatakan bahwa Media massa berfungsi sebagai informasi. Selain itu, media massa menjadi hiburan dan mobilisasi yaitu menyampaikan keinginan dan tujuan masyarakat dalam bidang politik, pembangunan, ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial budaya dan keagamaan.

Ia melanjutkan bahwa fungsi pers sudah berkembang dalam bidang praksisnya yaitu menjadi media propaganda. Dari yang awalnya independen menjadi partisan. Media akan menjadi independen apabila menjalankan fungsinya sebagai penyebarluasan informasi. Sebaliknya, media akan menjadi partisan apabila dalam penyajian berita hanya mementingkan kelompok tertentu, terutama partai politik atau organisasi massa yang berafiliasi kepada kekuatan politik tertentu

Perempuan butuh bekal dalam menulis karya feature. Karena feature adalah cerita atau karangan khas yang berpijak pada data dan fakta yang diperoleh melalui proses jurnalistik. Cerita features merupakan cerita yang khas kreatif, berpijak pada jurnalistik sastra tentang situasi, keadaan atau aspek kehidupan dengan tujuan untuk memberi informasi sekaligus menghibur khalayak media massa. Seorang perempuan harus dididik dalam menulis dengan gaya-gaya bercerita tetapi menggunakan fakta sesuai kaidah jurnalistik. Kemasan dalam menyampaikan perdamain akan lebih tergugah terhadap pembaca.

Karya feature macam-macamnya di antaranya adalah: pertama, features yang berisi tentang minat insani (peraasaan, suasana hati), Feature sejarah (manusia, empati, dan simpati), Feature biografi (tokoh inpiratif), Feature perjalanan (kegiatan ditempat yang memiliki daya tarik), Feature petunjuk praktis, Feature ilmiah (ilmu pengetahuan). dengan berbagai macam, maka kemungkinan dalam memviralkan perdamaian akan semakin terjangkau bahkan bisa dimuat dari narasi-narasi perkampung di Indonesia yang damai sebagai salah satu pecontohan.

Baca Juga  6 Larangan Bagi Orang Junub, Apa Saja Itu?

Selain itu, perempuan juga harus dibekali dengan puisi. Karena sejatinya puisi dan perdamaian esensinya adalah dua entitas yang bisa saling berkolaborasi. Puisi memang berawal dari hati nurani. Sementara, perdamaian juga harus disemai dari dalam hati nurani masing-masing individu. Puisi dan perdamaian merupakan dua ruang yang saling melengkapi.

Ruang-ruang yang dibangun dalam penulisan puisi adalah ruang proyeksi dan imajinasi dari penyair atas fenomena sosial, ekonomi, agama, dan budaya yang seringkali mengalami distorsi antar individu maupun golongan. Sedangkan ruang yang dibangun dalam menciptakan perdamaian adalah kesadaran kolektif seluruh anggota masyarakat.

Konten kreator perempuan dengan konsep dan gagasannya lalu dibekali dengan gaya kepenulisan features dan puisi tentu akan menjadi peluru dalam menyebarkan perdamaian kepada otak-otak yang masyarakat yang ada di Indonesia. Mereka akan bergerilya di media sosial juga sebagai resistensi dan eksistensi dirinya di hadapan publik agar tidak direndahkan dan bisa berbuat positif terhadap agenda perdamaian di seluruh dunia bahkan bisa menyelamatkan bangsanya dari budaya budaya radikalisme dan terorisme.

Dalam buku Resiliensi Komunitas Pesantren Terhadap Radikalisme hasil penelitian CSRC UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bahwa perempuan tentu tidak boleh dipandang sepele dalam upaya menanggulangi radikalisme dan terorisme. Pemberdayaan tokoh agama perempuan atau ibu nyai atau pengasuh pesantren putri untuk menjadi pioner pembangunan resiliensi terhadap radikalisme di pesantren, sebagai upaya kaderisasi terhadap santri perempuan yang akan terjun ke tengah kehidupan masyarakat.

Sehingga konsep ulama ini tidak hanya mendapatkan legitimasi secara sepihak. Konsep ulama seharusnya tanpa sekat gender. Maka, perempuan juga menjadi agen dalam usaha resiliensi pesantren dalam menangkal radikalisme, ektremisme, di tengah-tengah masyarakat, lebih-lebih di media sosial.

Penulis: Abdul WaritPenulis lepas. Lahir di Grujugan, Gapura. Mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Instika Guluk-Guluk Sumenep.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *