Beranda / Live / Kisah Cinta yang Terburai di Kota Gaza

Kisah Cinta yang Terburai di Kota Gaza

Di tempat penampungan sementara di Gaza selatan, Abdullah Hassan Abdo, 31 tahun duduk termenung. Dia menatap masa depannya, yang menurutnya masih jauh dari jangkauan. “Sudah setahun ini, saya tidak lagi memiliki pekerjaan,” katanya masygul.

Abdallah adalah seorang dokter gigi. Namun di Deir Al-Balah, tidak ada lagi klinik gigi yang tersisa. Satu hal yang bisa dilakukan dengan keahlian yang dimilikinya yakni dengan bergabung dengan tim kecil sukarelawan untuk memberikan perawatan gigi pada keluarga pengungsi.

“Ini adalah cara kecil untuk membawa harapan dan bahkan senyuman. Ini adalah cara saya untuk membantu,” kata pada Middle East Monitor, pertengahan November silam.

Pekerjaan ini tidak mudah. Pasiennya sering kali adalah anak-anak yang menderita infeksi yang lama tidak diobati. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali memberikan obat untuk mengurangi rasa nyeri. “Ini tidak seperti bekerja di klinik, tetapi ini sesuatu,” kata Abdallah sambil tersenyum tipis.

Abdallah teramat mencintai tanah kelahirannya, Tel Al-Hawa, yang terletak di wilayah selatan Gaza. Satu keinginannya adalah mengabdi di sana. Pilihannya adalah menjadi dokter gigi. Setelah meraih gelar kedokteran gigi di Mesir, ia kembali ke Gaza untuk membuka klinik di kamp pengungsi Shati yang padat.

Modern Dental Clinic, yang didirikannya itu menyediakan perawatan yang terjangkau bagi para pengungsi. Selama enam tahun, ia mengabdikan dirinya untuk pekerjaannya. Sedikit demi sedikit kliniknya pun berdiri.

Pada saat itu pula, dia bertemu dengan Reham Haboush- seorang sarjana administrasi bisnis. Pada wanita cantik itu dia menemukan cinta dan merencanakan untuk menikah. Semua dipersiapkannya dengan baik.

Langkah besar dilakukan pada Juli 2023. Mereka bertunangan dan menetapkan tanggal pernikahan pada 20 Oktober 2023. Mereka telah merencanakan setiap detail —tempat pernikahan, gaun dan jas pengantin dan  tentu saja undangan yang disebar ke sanak famili.  Abdallah dan Reham pun tak sabar untuk menanti hari bahagia itu.

Namun semua itu hancur seketika. Pada  7 Oktober tahun lalu, impian dan rencana itu tercerai berai. Hanya dalam hitungan menit di hari-hari awal perang, rudal tank Israel menghancurkannya sepenuhnya – termasuk kliniknya. Tentara Israel menyerbu dan merusak semua peralatan di sana.

“Perang dimulai di daerah kami, di Tel Al-Hawa, tempat kami dengan gembira membangun rumah dengan bata demi bata, menuangkan cinta dan harapan kami. Semuanya telah hilang,” katanya.

Abdallah pun dilempar pada ketiadaan. Dia harus berpisah dengan belahan hati, Reham. Tentara Israel (IDF) memerintahkan mereka untuk keluar dari Tel Al-Hawa. “Keluarga saya memutuskan untuk mengungsi ke selatan, Reham dan keluarganya tetap terjebak di utara,” katanya.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan memperkirakan masih ada sekitar 75  ribu hingga 95 ribu orang di Gaza utara. Sejak itu, mereka tidak pernah bertemu lagi.

Dibanding dengan daerah di utara, kondisi tempat Abdallah mengungsi terbilang lebih baik. “Di sini, terkadang saya bisa makan dengan sederhana, dengan beberapa sayuran. Saya membayangkannya tanpa cukup makanan. Itu adalah pikiran yang menyakitkan,” tambahnya dengan lembut.

Meski begitu toh kehidupan dalam pengungsian tetaplah sebuah mimpi buruk. Abdallah menggambarkan rutinitas kesulitan yang tak ada habisnya – menunggu berjam-jam untuk mendapatkan roti, berjuang untuk mendapatkan air bersih, mengisi daya perangkat mereka di stasiun tenaga surya darurat.

Menjaga hubungan dengan Reham pun sulit dan lebih sering menyayat hati. Pemutusan komunikasi dan internet yang tidak dapat diandalkan membuat mereka terisolasi. “Terkadang, selama pengeboman, saya mencoba menghiburnya dengan kata-kata. Namun sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat. Bahkan kata-kata itu malah terasa hampa,” katanya.

Ketika pengeboman semakin intensif di malam hari, ketakutan dan kekhawatiran Reham meningkat. “Dia mengatakan betapa dia merindukanku dan berharap dia bisa berada di sisiku,” katanya. “Terlepas dari segalanya, kami mengungkapkan cinta kami satu sama lain, meskipun harus melalui rasa sakit dan kesulitan sehari-hari yang tidak pernah berakhir.”

***

Aksi Israel telah banyak menimbulkan duka. Abdallah sendiri kehilangan 15 anggota keluarga besarnya, termasuk keluarga istri saudara laki-lakinya, yang tewas dalam satu serangan udara. “Saya kehilangan keluarga saya dalam sekejap,” katanya.

Semua terasa menyakitkan. Terlebih saat dia menyaksikan sendiri saat sepupunya, Anas Mahani, terluka parah. Pecahan peluru dari sebuah ledakan menembus trakea—saluran udara vital yang membawa udara ke paru-paru—membuatnya kesulitan bernapas.

Tak hanya keluarga tapi juga sahabat. Dari lebih dari 60 dokter gigi yang tewas tak sedikit adalah rekan-rekannya. Setiap nyawa yang hilang terasa seperti bagian lain dari dunianya sendiri yang hilang.

“Tidak seorang pun dapat benar-benar memahami semua ini, yang di luar apa pun yang dapat kita bayangkan. Perang ini seperti hidup dalam mimpi buruk yang tak berujung,” kata Abdallah.

Kini bom masih meledak, senapan pun terus menyalak. Bagi Abdallah dan semua warga Gaza lainnya, hidup mereka dipenuhi dengan ketidakpastian. Mereka tidak pernah tahu hingga kapan bisa bertahan hidup atau bisa berjumpa lagi dengan orang-orang yang mereka cintai. “Saya tidak punya cara untuk menghubungi Reham, dan dia tidak punya cara untuk datang kepada saya,” katanya.

Saat ia merenungkan semua yang telah hilang – rumahnya, kliniknya, teman-temannya – Abdallah tetap berharap dalam keyakinannya akan cinta dan harapan, betapapun rapuhnya perasaan mereka.

Semua itu tak lain dilakukan sebagai upaya menyalakan harapan yang selalu dijaganya bahwa suatu hari, ia dan Reham akan bersatu kembali. Bersama-sama, mereka akan membangun kembali tidak hanya kehidupan mereka sendiri, tetapi juga kehidupan komunitas mereka, membantu menyembuhkan luka-luka orang-orang yang telah terkoyak oleh perang yang tak berkesudahan ini.

Dalam penantian – yang tak berujung, kini ia melewati hari-harinya dengan berbuat baik – dengan menawarkan perawatannya kepada orang lain. Seperti halnya orang-orang di Gaza, upaya itu tak lain untuk menjaga agar mimpi keadaan yang lebih baik, tetap hidup.

 

Irfan Budiman

Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.

*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/human/ar-1rMPn/kisah-cinta-yang-terburai-di-kota-gaza