Menu

Mode Gelap

Milenial · 7 Mei 2022 12:00 WIB ·

Ismail Yusanto Ingin Jadi Tiktokers Demi Mengedarkan Paham Khilafah?


					Ismail Yusanto Ingin Jadi Tiktokers Demi Mengedarkan Paham Khilafah? Perbesar

Jalanhijrah.com. Dakwah milenial menurut Islamil Yusanto, adalah mendirikan sistem Khilafah. Karena menurutnya, Khilafah adalah solusi kehidupan umat Islam di dunia. Bukan sekadar mengatur eksistensi agama Islam, Khilafah baginya adalah tentang kepemimpinan yang esensial untuk mengatur agama, negara, dan bangsa.

Ismail Yusanto Melirik Tiktok

Ismail Yusanto kini melirik tiktok untuk dijadikan sebagai platform dakwahnya. Sampai-sampai ia membuat webinar hanya sekadar bertanya bagaimana berdakwah di dalam tiktok. Secara serius Ismail menyimak obrolan narasumber dalam memproduksi konten tiktok (lihat channel UIY Official).

Ismail Yusanto ingin mengetahui betul kondisi atau suasana keagamaan di tiktok. Ia bertanya konten keislaman apa yang cocok diproduksi. Ia juga bertanya apakah dakwah keislaman juga bisa diterima secara luas di dalam tiktok. Ia membandingkan antara platform FP, Youtube, dan Instagram tentang kondisi penggunanya. Dan dari gesturnya, Ismail ingin segara mungki meluncur mengisi dakwahnya di dalam tiktok.

Dengan webinar tema Dakwah Ala Milenial, bisa dikatakan bahwa Ismail Yusanto, sebagai ketua HTI, kemungkinan kini ia akan menyasar pada generasi milenial. Apakah ini kabar yang membahayakan? Bisa dikatakan seperti itu. Tapi seberapa kuat dakwah ala HTI diterima? Kita belum tahu.

Dakwah Khilafah Perusak Bangsa

Jika tawaran dakwahnya adalah Khilafah, ini menjadi krusial. Sebab banyak tiktokers yang belum mengetahui perihal khilafah yang sering diedarkan oleh Ismail Yusanto. Tiktok(ers) sesuatu dunia baru yang belum bisa dipetakan pemilik dan kecendrungan ideologi pemiliknya.

Baca Juga  Kajian Nasionalisme Bangsa: Merawat Wawasan Kebangsaan Melalui Spirit Sejarah

Kita tahu, konsep khilafah sebagai satu-satunya format dalam membentuk pemerintahan Islam, dengan mengharuskan adanya persatuan wilayah kepemimpinan, dan juga syariat sebagai landasan aturan bernegara, bagi Ismail menjadi keharusan diedarkan dan ditegakkan.

Padahal Khilafah, sama sekali tidak wajib bahkan bisa jadi haram karena tidak sesuai dan malah lebih membahayakan. Doktrin tauhid yang dibungkus dengan desentralisasi politik adalah penyakit bagi agama, negara dan bangsa. Karena, bukan cuma agamanya yang rusak, melainkan negara dan bangsanya.

Khilafah ini adalah penyakit bagi Indonesia. Karena ia bisa merusak bukan membuat kemaslahatan. Khilafah sebagaimana sering digemakan Ismail Yusanto lewat Hizbut Tahrir adalah memprioritaskan kehancuran itu. Karena jika menginginkan kedamaian, ia hari ini seharusnya mendukung sistem dan pemerintahan yang ada. Demokrasi dan Pancasila sudah membuat damai dan nyaman bagi Indonesia.

Antisipasi Sejak Dini

Khilafah dengan tujuan untuk membentuk imperium yang otoriter, dan menguasai secara penuh pada bidang politik dan keagamaan, adalah kebalikan dari Pancasila. Khilafah sistem radikal, yang menyebabkan pemberontakan dan carut marut dunia. Untuk itulah ia harus ditolak.

Indonesia dan bangsanya harus menolaknya. Seperti Malaysia, Bangladesh, Mesir, Tunisia, Turki, Qatar, Pakistan, Kyrgistan, Denmark, Tanzania, Australia, Rusia, Sapnyol, Kuwait, Arab, dan negara lainnya sudah menolaknya. Khilafah tawaran HT ini telah telah merusak ketertiban umum. Ia kebalikan dari Pancasila, UUD 1945, dan aktivitasnya menimbulkan kebangkrutan bagi peradaban, negara dan bangsa Indonesia.

Baca Juga  Kelompok Teroris, Menawarkan Kenyamanan Semu yang Harus Dilawan

Kini, hendaknya kita lebih hati-hati pada dakwah Ismail Yusanto jika ia benar-benar tiktok menjadi propaganda dakwah khilafahnya, sebua kedok agama untuk menguasai negara. Ambisi Ismail untuk berkuasa dengan cara menanamkan sistem Khilafah kepada generasi milenial dan Z tak pernah surut. Bahkan berkibar. Oleh karena itu, kita bisa menakarnya sebelum ia betul-betul mencuci otak generasi hebat bangsa Indonesia

Penulis: Agus Wedi

Peminat Kajian Sosial dan Keislaman
Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Bom JW Marriot, Kongo, dan Gaza: Apakah Tragedi Itu Akan Terjadi Lagi di Indonesia?

8 Agustus 2022 - 12:30 WIB

Bom JW Marriot, Kongo, dan Gaza: Apakah Tragedi Itu Akan Terjadi Lagi di Indonesia?

Urgensi Kerjasama NU dan Muhammadiyah Ciptakan Moderasi Islam Global

8 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Urgensi Kerjasama NU dan Muhammadiyah Ciptakan Moderasi Islam Global

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

7 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Literasi Moderat, Kontra-Narasi, dan Upaya Melawan Khilafahisasi NKRI

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

7 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Rahasia Dibalik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

Mengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?

6 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Mengapa Hijrah adalah Topik Paling Ciamik Antek-Antek Khilafah dalam Berdakwah?

Etika Penulis Ketika Salah Mengirim Naskah

6 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Etika Penulis Ketika Salah Mengirim Naskah
Trending di Milenial