Inilah Hukum Thawaf Sambil Menyentuh Ka’bah

Jalanhijrah.com- Salah satu ciri khas orang menunaikan ibadah haji dan umrah adalah banyak melaksanakan ‎thawaf. Thawaf berarti mengelilingi Baitullah tujun putaran yang di mulai dari hajar aswad, ‎dan di akhiri di hajar aswad. Tetapi, dalam prakteknya hingga kini, masih banyak jamaah haji yang menyentuh ka’bah saat thawaf. Lantas, bagaimanakah hukum thawaf sambil menyentuh ka’bah?

Dalam literatur kitab fikih, salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam thawaf adalah melakukannya dengan keadaan semua anggota badan di luar Ka’bah. Apabila seseorang thawaf di atas Syadzarwan atau dalam Hijr Ismail maka thawafnya tidak sah, karena pada saat demikian dia thawaf didalam Ka’bah bukan diluar Ka’bah, sedangkan Allah memerintahkan thawaf diluar Ka’bah. Sebagaimana dalam keterangan kitab Al-Idhoh Fi Manasik al-Hajj wal-Umrah, Juz 1 halaman 225-226 berikut,

الواجب الخامس: أنْ يكونَ في طَوَافِهِ خَارجاً بجميع بدَنِهِ عن جميعِ البيت فلو طاف على شَاذَروَانِ الْبَيْتِ أو في الحَجْرِ لم يَصحّ طَوَافُهُ لأنه طَافَ في الْبَيْتِ لا بالبيت وقد أمر اللهُ تعالى بالطَّوَافِ بالبَيْتِ، والشَّاذَروَانُ والْحِجْرُ مِنَ البيتِ.

Artinya : “Kewajiban yang kelima: Agar thawafnya dilakukan dengan keadaan semua anggota badan di luar Ka’bah. maka apabila seseorang thawaf di atas Syadzarwan atau dalam Hijr Ismail maka thawafnya tidak sah, karena pada saat demikian dia thawaf didalam Ka’bah bukan diluar Ka’bah, sedangkan Allah memerintahkan thawaf diluar Ka’bah. adapun Syadzarwan dan Hijr merupakan bagian dari Ka’bah.”

Baca Juga  Revitalisasi Maqashid Syariah Sebagai Kontra Narasi Radikalisme-Terorisme

Seseorang yang melaksanakan thawaf sambil menyentuh dinding Ka’bah dapat membatalkan thawaf itu sendiri apabila sentuhan dilakukan di sisi Ka’bah yang terdapat Syadzarwan dan kedalaman tangan atau anggota badan yang menyentuh Ka’bah sejajar dengan syadzarwan. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Al-Idhoh Fi Manasik al-Hajj wal-Umrah Juz 1 halaman 226 berikut,

ولَوْ طافَ خَارِجَ الشَّاذَرْوَانِ وكَانَ يَضَعُ إحْدَى رجْلَيْهِ أَحياناً علَى الشَّاذروَانِ ويقفزُ بالأخْرَى لَمْ يَصحَّ طَوَافُه ولوْ طَافَ خَارجَ الشَّاذروَانِ وَلمسَ بيده الجدَارَ في مُوَازَاةِ الشَّاذروَانِ أو غيرِهِ من أجزاء الْبيتِ لم يصحَّ

Artinya : “Apabila seseorang thawaf diluar Syadzarwan dan terkadang salah satu kakinya menginjak di atas Syadzarwan maka tidak sah thawafnya. Dan apabila seseorang thawaf diluar Syadzarwan dan tangannya menyentuh dinding Ka’bah yang (kedalamannya) sejajar dengan syadzarwan atau selainnya yang termasuk bagian dari Ka’bah maka tidak sah thawafnya.”

Masih dalam kitab dan halaman yang sama, Imam Nawawi menjelaskan mengenai bagian ka’bah yang disebut Syadzarwan dalam keterangan berikut,

قَالَ أصْحابُنَا وغَيرُهمْ مِنْ العُلَمَاءِ هَذَا الشَّاذرْوَانُ جُزءٌ من الْبَيْتِ نَقصَتْه قُرَيشٌ مِنْ أَصْلِ الْجِدَارِ حينَ بَنَوا الْبَيْتَ وهوَ ظَاهرٌ في جَوَانِبِ الْبَيْتِ لكن لا يَظْهَرُ عنْدَ الْحَجَرِ الأسودِ

Artinya : “Para sahabat kami (Ulama Syafi’iyah) berkata: Syadzarwan merupakan bagian dari bangunan Ka’bah, suku Quraisy sengaja membiarkannya saat merenovasi Ka’bah sebagai pondasi / kaki-kaki tembok bangunan. Syadzarwan tampak kelihatan di samping Ka’bah akan tetapi tidak tampak di sisi Hajar Aswad.”

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *