Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 3 Jun 2022 09:00 WIB ·

Ingin Terhindar Dari Bisikan Setan, Lakukan 3 Hal Ini


					Ingin Terhindar Dari Bisikan Setan, Lakukan 3 Hal Ini Perbesar

Jalanhijrah.com – Setan adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk menggoda manusia agar jatuh ke lubang kesesatan. Setan tidak akan pernah berhenti untuk membisikan dan mengganggu manusia sampai hari kiamat kelak. Oleh karena yang demikian, maka wajib hukumnya bagi manusia untuk senantiasa meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Setelah meminta perlindungan tentunya harus melakukan ikhtiar-ikhtiar aga terhindar dari bisikan setan.

Agar terhindar dari bisikan setan, maka lakukanlah 3 hal ini:

Pertama adalah memperkuat keimanan. Iman adalah pondasi utama manusia dalam beragama. Orang yang imannya kuat, niscaya setan tidak akan pernah berani untuk membisikan godaannya. Dalam Al-Quran disebutkan

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

Artinya: “Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang-orang yang beriman dan yang bertawakal kepada Tuhan mereka.”(QS. an-Nahl: 99)

إِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ

Artinya: “Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka.” (QS. al-Isrâ: 65)

Kedua adalah bertawakal. Orang yang tidak bertawakal tidak berusaha dalam segala kegiatannya, baik itu mencari rezeki, ilmu dan lain sebagiannya maka akan mudah sekali bagi setan untuk membisikkannya. Dalam ayat di atas, yaitu QS. an-Nahl ayat 99 diterangkan bahwa setan tidak akan bisa memengaruhi terhadap orang yang terhadap tuhannya senantiasa bertawakal.

Hal ketiga yang bisa dilakukan agar terhindar dari bisikan setan adalah dengan memperbanyak zikir kepada Allah. Orang yang selalu zikir (ingat) maka apabila setan berusaha menggodanya, maka ia akan selalu berpaling dari bisikan dan kembali mengingat Allah. Dalam al-Quran juga diterangkan orang yang sering berzikir selain bisa terhindar dari bisikan setan juga akan menjadikannya beruntung didunia dan akhirat.

Baca Juga  Kesetaraan Gender di Pondok Pesantren, Mengapa Tidak?

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوا إِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir) agar kalian beruntung.” (QS. al-Anfâl: 45)

Semoga dengan berpegang pada ini, kita akan selamat dari bisikan setan.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi

26 Juli 2022 - 14:00 WIB

5 Alasan Jangan Menyisakan Makanan Meski Hanya Sebutir Nasi
Trending di Fikih Harian