Indonesia Tanpa Khilafah, Menjadi Negara Maju-Moderat

Jalanhijrah.com-Sejujurnya, umat Islam tanpa institusi politik bernama khilafah akan baik-baik saja. Umat Islam akan bisa menerapkan dan mewujudkan cita-citanya menjalankan syariat dan syiar sesuai ketentuan agama Islam. Dan tanpa khilafah, umat Islam Indonesia makin maju dan secara kafah (totalitas) bisa menerapkan seluruh syariat Islam.

Kalau diurutkan dalam sejarahnya, pangkal masalah umat Islam di Indonesia adalah keberadaan khilafah. Cita-cita mendirikan sistem Islam (khilafah) menjadi penyebab tercerabutnya umat Islam dari komunitas internasional dan pergaulan ilmu sains, teknologi, dan politik global, karena menurutnya semua itu adalah ulah kapitalis dan haram.

Akibat Tanpa Khilafah

Karena khilafah, umat Islam Indonesia menjadi kacau. Tanpa khilafah, umat Islam tambah nyaman dan tentram.

Khilafah bukan pelindung umat Islam Indonesia. Dan umat Islam tidak diwajibkan untuk mendirikan khilafah, karena hal tersebut bukan suatu kewajiban apalagi perintah Tuhan. Khilafah juga bukanlah perisai. Ia hanya proyek dari aktivis yang tidak memiliki pekerjaan dengan mengatasnamakan perintah Tuhan.

Lihat, Indonesia tanpa khilafah makin maju dan damai. Rakyatnya jauh dari keterpecahan dan peperangan. Tidak pernah tumpah darah yang melibatkan banyak orang atas dasar ideologi, agama dan lainnya. Jadi bohong besar bila ada orang yang mengatakan bahwa darah umat Islam yang terus tertumpah di mana-mana, serta nyawa umat Islam demikian murah di hadapan musuh-musuh Allah. Ini bohong.

Baca Juga  Jihad Jangan Dilahap Mentah-mentah, Umat Harus Hati-hati

Kesedihan yang terjadi di Indonesia justru karena, kok bisa Indonesia yang sudah adem, tentram dan damai, mau-maunya dirusak oleh golongan yang mengatasnamakan khilafah. Ini barangkali yang dinamakan golongan yang mencintai orang-orang yang salah. Mereka seperti berak di tengah-tengah banyak orang. Menyebarkan bau busuk di tengah banyaknya orang. Dan ini penyakit.

Khilafah Itu Penyakit

Ingat, khilafah itu penyakit. Bisa menular ke banyak orang. Khilafah bisa menghilangkan kebahagiaan yang sudah tertanam kuat di sanubari jutaan orang. Tanpa khilafah Indonesia tenang. Tapi karena datangnya khilafah Indonesia menjadi runyam. Aktivis khilafah berani melukai dan membunuh umat Islam yang lain. Mereka juga meluluhlantakkan gedung-gedung dan membinasakan banyak orang.

Indonesia tanpa khilafah menjadi bahagia dan sempurna. Umat Islam tanpa khilafah menjadi umat yang maju dan bisa melindungi diri sendiri. Ini bukan cuma karena akidah yang sama, melainkan Indonesia adalah negara nasionalis dan religios, yang tergambar di dalam diri Pancasila. Secara sistematis, Indonesia sudah mengakomodir kebutuhan umat Islam dan seluruh umat yang lain.

Lewat Pancasila umat terlindungi. Pancasila menanamkan jiwa religios, nasionalis, moderasi, toleransi dan pluralisme. Pancasil tidak mendoktrin dengan doktrin-doktrin kufur dan pembenci. Tujuannya jelas, untuk mendamaikan dan memajukan negara dan bangsa Indonesia, serta mendekatkan umat Islam kepada ajaran masing-masing agama yang sama-sama universal.

Pancasila Jadi Perisai

Dengan Pancasila dan tanpa khilafah kehormatan negara dan bangsa Indonesia terlindungi. Bahkan tanpa khilafah, sekali lagi, umat Islam benar-benar bisa mewujudkan ketakwaannya secara totalitas. Mereka benar-benar mengetahui esensi dari ajaran agama Allah Swt yang memerintahkan untuk berhukum hanya pada syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Baca Juga  Mengakhiri Ideologi Jihad Teroris Abu Bakar Ba’asyir

Tanpa khilafah negara dan umat Islam Indonesia menjadi adil. Tanpa khilafah Indonesia menjadi negara yang adil, moderat, dan jauh dari sikap fanatik, pengkhianat, dusta dan kezaliman. Ini berarti hanya dengan Pancasila umat Islam bisa tumbuh dan berkembang serta kezaliman bisa dihentikan.

Indonesia tanpa khilafah menjadi negara yang diridhai Tuhan dan semesta alam.

Agus Wedi

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *