Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 23 Apr 2022 09:00 WIB ·

Hukum Menimbun Minyak Goreng dalam Islam?


					Hukum Menimbun Minyak Goreng dalam Islam? Perbesar

Jalanhijrah.com- Salah satu fenomena yang sempat menyita perhatian publik dan seketika menjadi buah bibir di tengah masyarakat Indonesia, adalah tentang minyak goreng. Pasalnya, di beberapa toko atau market-market minyak goreng mengalami kelangkaan stok belakangan ini. Akibatnya, masyarakat Indonesia banyak yang mengeluh dan resah dikarenakan ia termasuk bagian dari barang yang dikonsumsi oleh masyarakat setiap harinya (kebutuhan pokok). Seolah-olah, tanpa minyak goreng dia tak akan mampu bertahan hidup.

Saking urgennya barang ini, maka pemerintah Indonesia tengah mengupayakan pelbagai hal demi menyediakan kebutuhan masyarakat yang satu ini. Salah satunya adalah dengan pengadaan program minyak goreng. Alih-alih pemerintah memudahkan masyarakat, justru program tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk kepentingan pribadi; menimbun minyak goreng yang kemudian dijual dengan harga relatif meroket. Sebagaimana terjadi beberapa hari ini.

Perilaku demikian, tentu saja, berimplikasi terhadap banyak hal. Misalnya, masyarakat banyak yang merasa kesulitan bahkan memberatkan bagi mereka untuk mendapatkan dikarenakan harga barang (minyak goreng) naik secara drastis di pasaran. Karena itulah, perilaku ini dapat dikategorikan kepada tindakan tercela dan kriminal. Bukan hanya dari sisi agama, melainkan juga dari sisi ekonomi maupun sosial.

Di dalam Islam, perilaku menimbun dan memonopoli akan suatu barang diistilahkan dengan ihtikar. Ihtikar sendiri bisa diartikan sebagai tindakan menyimpan harta, manfaat atau jasa dan enggan untuk menjual apalagi memberikan kepada orang lain, sehingga mengakibatkan melonjaknya harga pasar dua kali lipat dari harga lazimnya. Hal ini disebabkan karena persediaan barang terbatas atau tidak ada sama sekali. Sementara masyarakat (konsumen) sangat membutuhkan produk, manfaat atau jasa dari barang tersebut.

Baca Juga  MUI Itu Pengayom Apa Provokator?

Menurut Imam Al-Ghazali (1111 W), ihtikar adalah penyimpanan barang dagangan oleh seorang pedagang untuk menunggu melonjaknya harga dan menjualnya ketika harga barang-barang naik. Sementara Yusuf Al-Qardhawi, seorang mujtahid di era kontemporer mengartikan ihtikar dengan perilaku menahan barang dari perputaran di pasar sehingga mengakibatkan harganya naik.

Dari definisi di atas, maka ulama sepakat bahwa perbuatan menimbun atau memonopoli adalah haram, meskipun masih terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama ihwal barang yang diharamkan. Keharaman ini didasarkan pada hadis Nabi;

مَنِ احْتَكَرَ حُكْرَةً يُرِيْدُ اَنْ يُغلِيَ بِهَا عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ فَهُوَ خَاطِئٌ

Barang siapa yang melakukan penimbunan dengan maksud agar harganya melonjak jika dijual kepada orang Islam, maka dia telah berbuat dosa”. (HR. Hakim)

Ancaman Bagi Penimbun

Selain perilaku ini diharamkan, juga para pelaku ihtikar diancam dengan sanksi yang setimpal sesuai perbuatannya. Ihwal ancaman tersebut dinyatakan dalam hadis Nabi yang berbunyi;

مَنِ احْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعامَهُمْ ضَرَبَهُ اللهُ بِالْجُذَامِ وَالإِفْلَاسِ

Barang siapa yang suka menimbun makanan orang-orang Islam, maka Allah akan mengutuknya dengan memberikan penyakit kusta dan kebangkrutan”.(HR. Ibnu Majah)

Sementara dalam hadis lain juga ditegaskan tentang ancaman bagi para penimbun barang, yaitu;

اَلْجَالِبُ مَرْزُوْقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُوْنٌ

Seseorang yang mendatangkan barang akan diberi rezeki dan penimbun barang akan dilaknat”. (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga  Hukum Haji Bagi Anak Kecil

Juga, dipertegas dalam hadis yang riwayatkan oleh Imam Thabrani;

مَنْ دَخَلَ فِى شئٍ مِنْ أَسْعَارِ الْمُسْلِمِيْنَ لِيُغْلِيَهُ عَلَيْهِمْ فَإِنَّ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُقْعِدَهُ بِعُظْمٍ مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang masuk ke dalam (memonopoli) harga (barang-barang) kaum muslimin untuk menaikkan harganya, maka sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mendudukkannya pada tulang yang terbuat dari api kelak di hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Sementara itu, dalam hukum negara penimbun barang juga dikenakan sanksi berupa ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda paling banyak Rp 50 miliar. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perdagangan pasal 107 bahwa: “Jika ada pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat kelangkaan barang maka dipidana penjara paling lama 5 tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 50 miliar rupiah”.

Dari sini, jelaslah bahwa perilaku menimbun atau memonopoli barang amat sangat dilarang (haram) bahkan pelakunya diancam dengan siksa yang pedih. Bukan hanya dari sisi syariat Islam, melainkan juga oleh negara. Mengingat hal ihwal termasuk salah satu perbuatan tercela dan zalim dikarenakan merugikan masyarakat luas.

Saidun Fiddaraini, Alumnus Pesantren Nurul Jadid, Paiton, kini mengajar di Pesantren Zainul Huda, Arjasa Sumenep

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

16 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Doa Nabi Daud Untuk Membentuk Keluarga Sakinah

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Trending di Fikih Harian