Jalanhijrah.com-Dalam pergerakan sosial, perempuan memiliki peran yang besar untuk menanamkan ideologi dan menjaga motivasi, meskipun sering dipandang sebelah mata. Stereotip patriarki yang menganggap perempuan sebagai manusia sekunder, membuat perempuan selalu dianggap lebih rendah dan kurang mendapat pengakuan dan penghargaan. Akan tetapi, bagaimanapun tantangannya peran perempuan dalam memotivasi dan menanamkan ideologi tetap signifikan.
Stereotip yang ada, tentu tidak mewakili kenyataan atau kebenaran universal mengenai perempuan. Masyarakat harus berusaha melawan stereotip dan memperjuangkan kesetaraan gender, serta mengakui peran dan kontribusi yang beragam dari perempuan dalam gerakan sosial. Perempuan sering kali memotivasi pelaku pergerakan lainnya melalui beberapa cara berikut:
a. Keteladanan dan Inspirasi
Dalam banyak kasus, perempuan yang berhasil melampaui hambatan dan mencapai kesuksesan di dalam pergerakan sosial memberikan motivasi bagi orang lain untuk terlibat dan berjuang.
b. Pemberdayaan dan Pendidikan
Dalam pergerakan sosial, perempuan sering mendirikan lembaga pendidikan alternatif dan mengadakan lokakarya. Selain itu ia juga terus menyebarkan informasi yang bertujuan untuk memberdayakan individu dan kelompok dalam melawan ketidakadilan.
c. Jaringan dan Solidaritas
Perempuan memainkan peran penting dalam membangun jaringan dan solidaritas di dalam pergerakan sosial. Mereka menciptakan ruang aman untuk berbagi pengalaman, ide dan dukungan yang memungkinkan pelaku pergerakan lainnya untuk saling mendukung dan bekerja bersama. Solidaritas antar perempuan juga dapat menghasilkan kekuatan kolektif yang memotivasi dan mendorong tindakan lebih lanjut.
Penting untuk terus memperjuangkan pengakuan terhadap peran dan kontribusi perempuan dalam pergerakan sosial. Hal tersebut dapat perempuan lakukan melalui peningkatan kesadaran, penghapusan stereotip gender, dan advokasi untuk kesetaraan gender.
Perempuan bisa memiliki peran dalam perlawanan terhadap perampasan lahan dan konservasi alam. Mereka sering kali terlibat dalam gerakan lingkungan dan memainkan peran penting dalam melindungi dan mempertahankan sumber daya alam. Perempuan sering menjadi penjaga lingkungan di komunitasnya. Ia menggunakan keahlian tradisional dalam pelestarian alam. Selain itu, perempuan juga berkontribusi dalam advokasi, penelitian, pendidikan, dan aktivisme terkait isu-isu lingkungan.
Salah satu contohnya adalah perjuangan seorang Kartini modern bernama Gunarti. Sebagai sosok ibu rumah tangga yang sederhana, sehari-harinya dengan tekun ia mengajari anak-anaknya membaca dan menulis. Gunarti lahir di keluarga Suku Samin atau sedulur sikep yang sering dipandang sebagai sosok yang keras, kolot, dan tidak berpendidikan. Namun stigma itu hancur ketika Gunarti berperan dalam melawan korporasi yang ingin mendirikan pabrik semen dengan berkedok memberdayakan masyarakat sekitar.
Dalam video “Samin vs Semen” yang diunggah oleh Youtube Watchdoc Image menerangkan perjuangan Gunarti dalam menyadarkan masyarakat. Pada tahun 2008 terdapat wacana untuk pembangunan pabrik semen oleh Semen Gresik yang akan berdampak pada 7 desa di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Secara organik Gunarti mendatangi satu persatu desa yang terdampak. Ia menemui ibu-ibu yang tinggal di sana sembari membawa misi untuk menolak pembangunan pabrik oleh Semen Gresik ini. Gunarti berpendapat jika tetap berdiri maka dapat mematikan mata air- mata air yang menjadi penghidupan di desa-desa. Hal itu tidak hanya berdampak pada kehidupan rumah tangga secara langsung tetapi juga mematikan sumber air untuk sawah dan perkebunan warga. Beliau juga menggaungkan untuk melawan pabrik dengan tidak menjual tanah mereka.
Gunarti mengaku berjalan setiap hari untuk menyerukan hal tersebut hingga tahun 2009 sampai keluar keputusan pengadilan yang melarang untuk pembangunan pabrik Semen Gresik di kecamatan Sukolilo tersebut. Tak berhenti di situ pada tahun 2010 pabrik Indocement ingin mendirikan pabriknya di kecamatan tetangga yaitu Kayen dan Tambakromo. Sebagai bentuk kepedulian Gunarti dan para ibu-ibu yang juga menolak pabrik semen, ia menyosialisasikan “virus” untuk menolak pabrik pada desa-desa yang terdampak di sua kecamatan tersebut.
Dalam video Watchdoc Image terlihat hasil advokasi yang Gunarti dan kawan-kawannya lakukan. Dalam video tersebut perlawanan digalakkan oleh para ibu-ibu yang rela melakukan segalanya demi melindungi tanah nenek moyang mereka. Dari menyanyikan lagu-lagu perjuangan penolakan, sosialisasi, hingga advokasi pada ranah hukum mereka tempuh demi mewujudkan bela tanah dan alam mereka. Tentulah perjalanan yang mereka lakukan tidak mulus banyak cobaan, tekanan, hingga ancaman melayang kepada para pejuang ini. Mulai dari pelabelan orang yang kolot, penawaran uang yang besar, hingga tekanan dari berbagai pemangku kepentingan.
Erwin Dwi Kristanto dalam bukunya “Menyelamatkan Lingkungan Berakhir di Penjara” menjelaskan terdapat tekanan secara struktural yang mendorong untuk pelegalan pembangunan pabrik Semen Gresik dan penyerangan terhadap warga yang menolak pabrik. Dari gubernur Jateng saat itu Bibit Waluyo menyatakan sikap penentangan dengan menolak datang ke Pati dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di sana.
“Kalau di sana kekurangan pupuk, mengeluh saja ke LSM, jangan ke saya. Kalau gabahnya kurang minta saja ke LSM!” ujar Bibit Waluyo.
Senada dengan pak gubernur, Bupati Pati saat itu, Tasiman, menyatakan “Aksi-aksi penolakan pabrik ditumpangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan bukan orang asli Pati.” Terlebih lagi beliau mengancam dengan “Jangan membangunkan macan tidur!”.
Pada tingkat desa mayoritas kepala desa tak hanya mendukung pembangunan juga merepresi warga yang menolak dan bersama-sama dengan makelar tanah menerjunkan preman-preman untuk memaksa warga untuk menjual tanah. Beberapa kali juga pemerintah Kabupaten Pati mengkriminalisasi para penolak dengan berbagai tuduhan palsu, tercatat 9 orang sudah pernah masuk penjara.
Dengan melihat tekanan yang berat diterima oleh para pejuang ini tentulah memerlukan keteguhan hati dan membutuhkan peran “penjaga ideologi”. Dalam kasus penolakan pabrik semen, secara rutin diadakan pertemuan warga untuk saling menjaga dan update perkembangan perjuangan mereka. Tak jarang juga masyarakat yang beragama Islam melakukan istighosah bersama sebagai bentuk birokrasi terhadap Allah untuk memberikan kekuatan kepada mereka untuk menjalani perjuangan ini. Selain itu para ibu-ibu saling menguatkan diri dan teman yang lain dengan menggunakan pendekatan persuasif.
Perjuangan yang perempuan-perempuan kuat ini lakukan mencapai puncaknya dengan melakukan aksi “menyemen” kaki beberapa hari dengan tujuan protes pembangunan semen di kabupaten Pati. Aksi yang mempertaruhkan nyawa ini berharap kepada pemangku kepentingan untuk mau mendengar suara mereka. Pertaruhan nyawa itu nyata adanya seperti yang dialami salah satu Kartini Kendeng bernama Patmi terpaksa menghembuskan nafas terakhir demi menjaga dan menyuarakan ideologinya.
Pendekatan melalui hati sangatlah efektif dilakukan para perempuan untuk mengajak dan menguatkan para pejuang ini. Sekeras ataupun seteguh apa pun pemikiran seseorang akan luluh juga jika terkait dengan perasaan. Perasaan yang dicoba untuk diraih adalah kasihan, kebaikan, dan ketegaan yang tentulah sangat bisa berseberangan dengan rasionalitas. Seperti ketika seorang anak yang tidak terlalu pintar secara akademik namun baik, masih bisa diperjuangkan untuk naik kelas, dan banyak yang akan setuju dengan usulan ini walaupun dengan berbagai skema. Namun jika seorang anak yang pintar namun tidak memiliki kepribadian yang baik maka sangat mungkin mendapatkan pembinaan yang serius bahkan pada tingkat yang parah dapat dikeluarkan tanpa melihat akademiknya.
Selain itu juga manusia memiliki sisi manusiawi yang tidak tahan melihat sesuatu yang mengusik sisi kemanusiaannya. Tidak ada yang bisa membenarkan suatu pembunuhan seorang yang baik dan tidak bersalah. Sisi kemanusiaan inilah yang “diincar” dalam aksi seperti yang dilakukan oleh Yu Patmi ini. Dengan mengusik sisi kemanusiaan, mereka menantang para pemangku untuk tetap dengan keputusannya dan tidak mau mendengarkan tetapi tega melihat Yu Patmi dan kawan-kawan meninggal, ataukah “meletakkan” rasionalitas dan bersedia menuruti Yu Patmi dan kawan-kawan.
Untuk mengambil hati seseorang tidak bisa menggunakan cara yang sembarangan. Perlu pendekatan yang sesuai untuk menyamakan “frekuensi hati” lawan bicara. Sebagai pelaksana langsung Gunarti dan pejuang Kendeng menempuh beberapa metode yang dapat megikat hati warga. Metode-metode yang digunakan oleh Gunarti dan ibu-ibu pejuang yang lain dapat dijabarkan seperti berikut :
a. Penceritaan Pengalaman Pribadi
Perempuan sering berbagi cerita pengalaman pribadi mereka yang terkait dengan ketidakadilan sosial atau perjuangan yang mereka hadapi. Melalui pengalaman ini, mereka dapat menggugah emosi dan kepedulian orang lain, serta mengilhami mereka untuk ikut bergerak.
b. Membangun Solidaritas
Perempuan sering berperan dalam membangun solidaritas antar anggota gerakan. Mereka menciptakan ruang aman di mana pejuang lain dapat berbagi pengalaman, dukungan, dan pengetahuan. Melalui solidaritas ini, perempuan memperkuat ikatan dan semangat pergerakan.
c. Kampanye dan Aksi Langsung
Perempuan terlibat dalam merencanakan dan melaksanakan kampanye, demonstrasi, dan aksi langsung untuk meningkatkan kesadaran dan mendesak perubahan. Mereka menggunakan strategi seperti unjuk rasa, mogok kerja, petisi, kampanye media sosial, dan pengorganisasian komunitas untuk mempengaruhi kebijakan dan opini publik.
Representasi perempuan dalam gerakan sosial bervariasi tergantung pada banyak faktor. Namun, banyak gerakan sosial saat ini menyadari pentingnya keterlibatan dan peran aktif perempuan dalam mencapai tujuan mereka.









