Gejala depresi, seperti cemas dan kesedihan, bisa dialami oleh semua orang normal, tetapi juga mudah untuk hilang seiring dengan waktu dan keadaan. Kedua hal ini disebut dengan eustress atau stress yang berefek baik. Orang-orang yang dapat lepas dari gejala depresi itulah yang dikenal memiliki ketangguhan mental karena bisa mengelola stres dengan baik.
Pada sebagian orang, stres dapat menetap hingga berminggu-minggu bahkan hingga bertahun-tahun. Pada jenis orang seperti inilah, depresi menjadi penyakit gangguan mental yang mengganggu kesehatan. Bila orang jenis ini berusaha mengobati kondisi depresinya, ada peluang untuk sembuh dan tetap berprestasi sebagaimana orang yang normal.
Sebagai contoh, Abraham Lincoln yang melegenda sebagai Presiden Amerika Serikat, ternyata juga bisa memimpin negara meskipun mengalami gangguan depresi. Dia berjuang sepanjang hidupnya untuk mengelola kesedihan yang datang bertubi-tubi akibat ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya.
Depresi kronis bisa berasal dari kesedihan dan kecemasan yang tidak terkelola dengan baik sehingga dapat menimbulkan keinginan bunuh diri. Bila Abraham Lincoln mengalami depresi akibat kesedihan, banyak orang lain yang mengalami depresi dengan gejala kecemasan.
Pada gangguan kecemasan yang mengarah pada depresi, seseorang dapat dihantui oleh perasaan yang takut secara berlebihan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Varian dari beberapa gejala depresi tersebut menyebabkan jenis terapi yang diperlukan menjadi berbeda.
Gejala dan Terapi Depresi
Penulis Kitab At-Thibbun Nabawi, yaitu Al-Hafiz Adz-Dzahabi sepakat dengan pendahulunya, yaitu Ibnu Sina, Ar-Razi, dan Al-Balkhi tentang gejala depresi. Depresi yang disebut sebagai Al-Huzn memiliki ciri utama kesedihan dan kecemasan yang tak berkesudahan. Selanjutnya, para ulama klasik tersebut memberikan beberapa klasifikasi pada gejala depresi agar pengobatannya menjadi spesifik.
Menurut Adz-Dzahabi, salah satu penyebab penyakit adalah tertekannya emosi seperti yang terjadi pada kasus cemas, sedih, dan malu. Keadaan-keadaan ini mendorong terjadinya gerakan jiwa yang tidak hanya berdampak pada aspek batiniah, tetapi juga tampak secara lahiriah. Oleh karena itu, obatnya bisa beragam mulai dari pengobatan badan hingga terapi untuk mental.
Istilah yang digunakan oleh Adz-Dzahabi untuk menggambarkan kesedihan yang dapat hilang seiring waktu adalah Al-Hamm, sedangkan untuk menyebut kecemasan, ia menggunakan istilah Al-Ghummah. (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], hal 59). Bila gejala cemas dan sedih berkepanjangan, keduanya dapat membawa seseorang menjadi depresi.
Mengenai rasa cemas dan sedih, kedua emosi ini merupakan akar dari penyakit lanjutan yang akan bersifat kronis. Nabi Muhammad Saw biasa meminta perlindungan kepada Allah dari rasa cemas dan sedih. Hadits-hadits mengatakan bahwa barangsiapa banyak mengalami kecemasan dan kesedihan, maka tubuhnya akan menjadi sakit. Hal ini telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, salah seorang ulama klasik yang sering menjelaskan hadits-hadits tentang penyakit dan pengobatan.
Adz-Dzahabi juga merinci perbedaan antara rasa cemas dan sedih. Cemas melibatkan sesuatu yang diharapkan agar datang atau pergi, sedangkan kesedihan berkaitan dengan sesuatu yang telah terjadi atau berlalu. Selanjutnya Al-Hafidz Adz-Dzahabi merekomendasikan zikir yang bermanfaat untuk mencegah depresi dalam Kitab At-Thibbun Nabawi.
Nabi Muhammad Saw biasa memohon perlindungan kepada Allah pada akhir setiap shalat untuk membebaskan diri dari kecemasan dan kesedihan. Menurut Kitab At-Thibbun Nabawi, Ibn ‘Abbas merekomendasikan tata cara zikir untuk rasa cemas dan rasa sedih yang merupakan gejala depresi:
“Barangsiapa banyak cemas dan sedih, maka hendaklah dia sering-sering mengucapkan: La hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).”
At-Tirmidzi menjelaskan bahwa ada sikap doa berupa gerakan tangan sebagaimana riwayat hadits dari Abu Hurairah: “Manakala ada sesuatu yang merisaukan hati Nabi Muhammad Saw, Beliau akan mengangkat tangannya ke langit dan mengucap Subhanallaahil ‘Azhim (Maha Suci Allah Yang Maha Besar).” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], hal 59-60).
Sikap dalam berdoa dengan mengangkat tangan sangat relevan dengan upaya untuk mencegah berkembangnya depresi akibat stres. Hasil penelitian disertasi doktoral dari Universitas Pretoria menunjukkan bahwa mengangkat tangan merupakan salah satu posisi dalam terapi kondisi stres melalui relaksasi pernapasan untuk depresi (Nel, 2005, The Use of Play Therapy Mediums in A Stress Management Programme with Corporate Employees, Disertasi Doktor, Faculty of Humanities Department of Social Work, Pretoria: hal 188).
Selain terapi zikir, Al-Hafiz Adz Dzahabi juga merekomendasikan agar seseorang yang sedih mengalihkan pikirannya dengan kegiatan yang membuatnya sibuk. Salah satu kegiatan itu adalah terapi dengan olah raga seperti memanah.
Tentang rasa sedih, perasaan ini bisa berkaitan dengan keadaan yang terjadi sekarang. Jadi orang yang menderita banyak kesedihan hendaklah menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bisa membuatnya lupa akan kesedihan dirinya sendiri. Demikianlah, dikatakan tentang Nabi Muhammad Saw bahwa Beliau bersabda:
“Jika penderitaan hati memberatkan hati salah seorang di antaramu, hendaklah dia mengambil busur panahnya.” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi…, hal 60)
Olah raga memanah memiliki efek mengalihkan stres sehingga dapat mengurangi risiko depresi (Aysan, 2016, The Effects of Archery as a Sports Branch on Coping with Stress, Ethno Med, 10(1): hal 39-43). Lebih lanjut, peneliti juga menyatakan bahwa aktivitas olahraga yang menyenangkan memberikan efek positif terhadap gangguan perilaku, depresi, dan kecemasan pada anak maupun orang dewasa.
Selain terapi dengan aktivitas fisik, Adz-Dzahabi juga merekomendasikan terapi diet untuk kondisi depresi. Salah satu bahan pangan yang disebutkan dalam Kitab At-Thibbun Nabawi dan dapat berefek memperbaiki gejala depresi adalah talbinah, sejenis bubur terbuat dari tepung biji-bijian yang masih mengandung sekam dan kulit ari (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi…, hal 240).
Penelitian tentang talbinah menghasilkan fakta bahwa talbinah sangat potensial untuk mengurangi depresi dan meningkatkan kesehatan mental. Secara rinci, konsumsi talbinah dapat mengurangi tingkat kecemasan, stres, dan gangguan perasaan (Badrasawi dkk, 2013, Effect of Talbinah Food Consumption on Depressive Symptoms Among Elderly Individuals in Long Term Care Facilites, Randomized Clinical Trial, Clinical Interventions in Aging 2013:8, hal 279-285).
Talbinah di Timur Tengah biasanya terbuat dari Barley yang masih kasar (whole grain) sehingga mengandung karbohidrat kompleks dan dimasak bersama dengan madu agar berasa manis atau dicampur dengan kaldu dan daging untuk menghasilkan rasa gurih.
Karbohidrat kompleks, seperti talbinah, merupakan makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pada keadaan depresi karena mengandung serotonin, suatu zat yang dapat memperbaiki mood (Bikha dan Saville, 2014, Healing with Tibb, Ibn Sina Institute of Tibb, Afrika Selatan: hal 50).
Jika di Indonesia tidak dijumpai jenis biji-bijian berupa Barley, maka beras yang masih mengandung sekam seperti beras merah dapat digunakan sebagai alternatif diet untuk mengatasi depresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras merah, seperti halnya whole grain, bisa memperbaiki kondisi mood dan depresi ke arah yang lebih baik (Ross dkk, 2023, The Relationship between Whole-Grain Intake and Measures of Cognitive Decline, Mood, and Anxiety-A Systematic Review, an International Review Journal: hal 657).
Ada satu jenis depresi yang penyebabnya sulit dideteksi karena bersifat tiba-tiba, yaitu depresi endogen. Bila kondisi depresi ini terjadi, maka pasien memerlukan obat antidepresan karena terjadi ketidakmurnian di dalam darahnya. Al-Balkhi menuliskan dalam kitabnya Al-Masalihul Abdan wal Anfus tentang depresi yang tidak diketahui penyebabnya:
“Ini adalah penderitaan tiba-tiba berupa kesedihan (Hamm) dan tekanan kecemasan (Ghummah), yang berlangsung terus-menerus sehingga mencegah orang yang menderita dari aktivitas fisik atau menunjukkan kebahagiaan atau menikmati kesenangan atau syahwah (makanan dan seks). Pasien tidak mengetahui alasan yang jelas atas kurangnya aktivitas dan tekanan yang dialaminya. Jenis Huzn atau depresi tanpa alasan yang diketahui ini disebabkan oleh gejala-gejala fisik seperti ketidakmurnian darah dan perubahan-perubahan lain di dalamnya. Pengobatannya adalah pengobatan medis fisik yang bertujuan untuk memurnikan darah.” (Al-Balkhi, 1424 H, Mashalihul Abdan wal Anfus, Markaz Malik Faishal lil Buhuts wa Dirasat Islamiyah Saudi Arabia: hal 142)
Al Balkhi merekomendasikan obat antidepresan yang memiliki aktivitas biologis di dalam tubuh pasien untuk memperbaiki kondisi depresi endogen sebagai upaya medis fisik. Pada masa kini, obat antidepresan terus dikembangkan oleh ahli farmasi dan digunakan oleh dokter spesialis kejiwaan. Penggunaan obat jenis ini harus dengan resep dokter dan mendapatkan pemantauan dari apoteker agar pasien terhindar dari efek sampingnya.
Uniknya, Al-Balkhi merekomendasikan terapi nonfarmakologi bagi depresi endogen berupa persahabatan yang ramah, percakapan yang menyenangkan, dan mendengarkan lagu yang positif sehingga mampu mengurangi penderitaan pasien.
Dengan demikian, ulama klasik di bidang pengobatan telah meletakkan landasan kuat untuk terapi depresi secara holistik. Selayaknya kaum muslimin juga memberikan perhatian terhadap kesehatan mental dengan berbagai upaya pencegahan yang direkomendasikan para ulama agar terhindar dari depresi yang membahayakan.
Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.
*Artikel ini telah tayang di Arina.Id. Jika ingin baca aslinya, klik tautan ini: https://arina.id/tren/ar-nIEee/gejala-dan-cara-mengatasi-depresi-menurut-ulama-klasik





