Home / Opini / Dari Metamorfoshow Hingga Next Level Activism: Trik Kamufalse Pengasong Khilafah

Dari Metamorfoshow Hingga Next Level Activism: Trik Kamufalse Pengasong Khilafah

Setelah dibubarkan sebagai organisasi, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sepertinya memang tidak pernah kehilangan akal. Program kaderisasi, rekrutmen dan indoktrinasi terhadap generasi muda terus berlanjut dan digalakkan. Caranya tentu saja, melepaskan keterkaitan dengan jubah organisasi, tetapi tetap memainkan subtansi yang sama.

Kali ini kegiatan The Next Level Activism : We Aspire, We Enggage & We Stand for Islam Kaffah yang diselenggarakan oleh Jaringan Aktivis dan Lembaga Muslimah Muda (JAM) for Islam Kaffah, katanya, sukses diselenggarakan secara meriah. Buktinya, memang kegiatan ini diselenggarakan secara serentuk dengan panggung utama yang berada di Yogyakarta.

Anak-anak muda, katanya, sangat antusias dengan acara tersebut yang diisi dengan orasi dan  pembacaan puisi seputar kritik demokrasi, kapitalisme dan kesenjangan ekonomi di negeri ini. Problematika kebangsaan dikulik dari seputar korupsi, bullying hingga persoalan lainnya. Solusinya? Ya tentu saja, tidak akan jauh dari mindset HTI. Khilafah dan kebangkitan khilafah dengan penerapan Islam Kaffah adalah brand paten dari gerakan ini.

Tentu ini bukan kali pertama, namun sudah berulang. Masih ingat tentang acara Metamorfoshow di berbagai daerah juga, yang dulu sempat viral dengan penyelenggaraan di Taman Mini Inonesia Indonesia (TMII), Jakarta. Dengan topeng pelaksanaan Isra Mikraj, kegiatan tersebut juga memiliki konten dan nafas yang sama untuk rekrutmen dan kaderisasi perjuangan penegakan khilafah.

Strategi ini tentu saja merupakan pola dari gerakan ini pasca pembubaran tahun 2017 yang lalu. Strategi membungkus kegiatan dengan gaya milenial dengan konten yang tetap sama seputar perjuangan penegakan khilafah. Pergantian nama organisasi sayap di berbagai lini juga masif dilakukan. Jaringan untuk perempuan, pemuda, dan anak-anak juga mempunyai basis sendiri.

Belum lagi jika kita berbicara tentang jaringan media kelompok ini. Banyak sekali media online (website dan media sosial) kelompok ini dengan nama yang cukup beragam. Semua dilakukan kelompok ini dengan tanpa jubah organisasi lama. Namun, secara subtansi kelompok ini tetap bermain pada perjuangan penegakan khilafah.

Acara The Next Level Activism, yang katanya sukses digelar memiliki semangat yang sama. Ini bagian dari jaringan perempuan yang terafiliasi untuk merekrut Muslimah-muslimah yang dalam bahasa mereka adalah aktivis dakwah. Khilafah sebagai komoditi dalam gerakan mereka masih terus nampak sebagai penyelesaian akhir.

Acara semacam ini tentu tidak akan pernah berhenti. Mereka akan terus menggemakan perjuangannya melalui berbagai trik dan strategi yang dapat merekrut anak-anak muda. Kita tunggu bentuk apalagi yang akan datang dari kelompok ini yang akan merayu dan menggoda anak-anak muda muslim dan Muslimah dalam jaringan dakwah khilafah mereka.