mandi besar

Jalanhijrah.com-Salah satu ibadah yang harus dikuasai ilmunya oleh setiap orang Islam adalah mandi wajib. Mandi wajib adalah mandi yang dilakukan untuk membersihkan diri dari keadaan hadis besar. Perlu diketahui bahwa salah satu hal yang harus diperhatikan saat mandi wajib adalah takmimul badan.

Dalam fikih Islam, ada dua rukun orang yang akan mandi besar. Tanpa melakukan kedua rukun ini mandi besar yang akan dilakukan tidak sah. Dan mengakibatkan ibadah yang membutuhkan kesucian tidak sah untuk dilakukan. Kedua rukun tersebut adalah niat dan takmimul badan atau meratakan air keseluruh tubuh.

Takmimul badan itu artinya meratakan air keseluruh tubuh termasuk anggota badan yang agak sulit terjangkau. keterangan kewajiban takmimul badan ini seperti yang diterangkan Syaikh Syatho

وإنما وجب تعميمه لما صح من قوله صلى الله عليه وسلم أما أنا فيكفيني أن أصب على رأسي ثلاثا ثم أفيض بعد ذلك على سائر جسدي ولأن الحدث عم جميع البدن فوجب تعميمه بالغسل

Artinya: “Wajib meratakan air (pada seluruh permukaan tubuh) berdasarkan hadits shahih. “Adapun aku, cukup bagiku menuangkan air sebanyak 3 kali di atas kepalaku, kemudian aku menuangkannya setelah itu ke seluruh tubuhku. Dan berdasarkan kenyataan bahwa hadats itu mengenai seluruh tubuh secara merata sehingga wajib diratakan dengan air melalui basuhan.” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatho Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz I, halaman 91).

Baca Juga  Internalisasi Prinsip Nasional-Religius Syekh Hasan Besari dalam Menghadapi Intoleransi di Indonesia

Syaikh Shatho menambahkan anggota badan wajib dibasuh adalah seluruh permukaan tubuh, rambut/bulu yang tumbuh pada permukaan tubuh, kemaluan perempuan saat berjongkok, termasuk kulit di balik kuku, kulit yang pecah pada luka, dan permukaan di balik kulup laki-laki.

Saat takmimul badan pastikan seluruh anggota tubuh bebas dari hal yang menghalangi masuk air ke kulit seperti cat, lilin dan sebagainya.

قوله (تعميم ظاهر بدن) فلو لم يصل الماء إليه لحائل كشمع أو وسخ تحت الأظفار لم يكف الغسل وإن أزاله بعد فلا بد من غسل محله

Artinya: “’Wajib meratakan (air) pada seluruh permukaan tubuh.’ Kalau air terhalang pada kulit oleh sesuatu penghalang seperti lilin atau kotoran di balik kuku. Niscaya mandi tersebut tidak memadai (tidak sah). Kalau seseorang membersihkan kotoran itu setelah mandi, maka tempat kotoran tersebut perlu dibasuh,” (Lihat Sayyid Bakri, 2005 M/1425-1426 H: I/91).

Demikianlan keterangan hal yang  wajib dilakukan saat mandi wajib, Wallahu A’lam Bishowab.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *