Beranda / Live / Berjihad dalam Senyap: Catatan dari Frankfurt Jerman

Berjihad dalam Senyap: Catatan dari Frankfurt Jerman

Jalanhijrah.com – Pagi ini, Ahad, 10 Maret 2024, suhu turun drastis hingga minus 1 derajat Celcius. Padahal, semalam masih cukup hangat dengan suhu 5 derajat. Penghangat ruangan yang terpasang di sudut seakan tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Dering suara adzan dari aplikasi keislaman di handphone membangunkan saya untuk segera mengambil air wudhu. Tentu saja dengan air hangat di kamar mandi.

Sekilas, saya sempat membayangkan bagaimanakah rasanya mereka para penduduk atau pendatang Muslim setiap hari harus bangun subuh dalam keadaaan mbediding seperti ini. Terlebih, dengan biaya hidup yang mahal belum tentu mereka memiliki fasilitas air panas untuk berwudhu. Bahkan saya berpikir mereka mau shalat saja sudah ‘alhamdulillah’.

Jangan membayangkan kehidupan keberagamaan di Eropa seperti di tanah air, dengan suhu yang relatif stabil, dengan suara adzan yang berkumandang saling bersahutan; plus jika di perdesaan dilanjutkan dengan suara puji-pujian. Ya, di desa-desa di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kita bisa mendengarkan suara berbagai pepujian mulai dari Alamate Anak Soleh sampai Syiir Abu Nawas komplit bahkan sepuluh kali putaran sebelum iqamah terdengar keras dari Toa masjid dan langgar terdekat.

Di Frankfurt, Jerman dan di belahan Eropa Barat lainnya, jangan berharap mendengarkan puji-pujian khas santri Indonesia. Kumandang adzan pun hampir mustahil terdengar; yang terdengar hanyalah alunan lonceng dari gereja-gereja yang sudah mulai sepi ditinggalkan jemaat.

Saya sama sekali tidak bermaksud menyamakan suara adzan dengan suara lonceng gereja. Namun, secara awam keduanya adalah ‘panggilan sakral’ bagi umat yang mengimaninya. Bagi saya suara adzan tak tertandingi dengan seruan atau panggilan apa pun, bahkan saya pun hampir pasti menghentikan berbicara  jika tengah berkesempatan mengisi suatu forum. Penghentian berbicara ini saya lakukan demi menghormati kemuliaan suara adzan.

Uniknya lagi, di Indonesia, karena jarak antara mushala dan masjid-masjid saling berdekatan maka kumandang adzan pun bergantian hingga bisa 20 menit belum juga usai. Akhirnya, dengan sangat berat hati saya mengikuti ijtihad para ulama untuk hanya mengikuti suara adzan yang pertama atau yang berijtihad suara adzan yang paling dekat dengan lokasi kita. Dan artinya saya pun ‘dengan sengaja menisbikan’ panggilan yang sangat mulia ini  dan meneruskan berbicara (Semoga Allah swt mengampuni).

Meskipun melewati suasana berbeda dari kemeriahan beri-Islam di Indonesia, umat Islam di Frankfurt begitu bersemangat dalam menjalankan ibadah. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana semangat atau ghirrah kaum Muslim di Frankfurt berbondong-bondong datang ke satu-satunya masjid Indonesia di Frankfurt Selatan. Dari penjuru Kota Frankfurt, mereka datang  tanpa menunggu dan mendengar adzan, sehingga dengan tepat waktu mereka dapat menjalankan ibadah shalat Jumat.

Di sisi lain dentuman lonceng gereja yang setiap hari menggema ternyata tidak berdampak pada masyarakat Jerman untuk datang ke gereja. Mereka justru lebih banyak memilih tidak beragama atau bahkan Atheis. Saya melihat upaya mereka untuk mempertahankan eksistensi cukup serius. Di tempat-tempat strategis banyak orang yang membagikan majalah dan selebaran tentang Bible dalam berbagai bahasa.

Lalu saya berpikir apa korelasi antara ‘suara panggilan sakral’ dengan tingkatan keimanan seseorang?

Tentu sebagai umat beragama saya meyakini bahwa agama adalah solusi bagi mereka yang meyakini, karena di dalamnya berisi petunjuk arah menuju kabaikan. Saya khawatir fenomena sepinya tempat beribadah di Eropa bisa saja merembet di Asia Tenggara atau bahkan di Indonesia. Naudubillah mindzalik.

Jangan sampai terjadi agama hanya dijadikan sekadar sebagai simbol dan gegap gempita yang hampa tanpa makna. Jangan sampai kita umat Islam tak lagi menganggap suara adzan adalah Panggilan Allah yang harus kita dengarkan dengan khusuk. Jangan sampai lantunan tadarusan Al-Qur’an tak lagi sakral apalagi membuat hati bergetar, karena kita mendengarkannya dengan sambil lalu disela-sela aktivitas dan hiruk pikuk keduniawian.

Terkadang hati ini rasanya ingin berteriak: ”Mana yang katanya kita memuliakan Al-Quran?” Sementara kita hanya mendengarkan sekadarnya saja. Terlebih jika ada yang melantunkan dengan tidak fasih dan suara yang fals. Belum lagi bagaimana perasan saudara-saudara kita yang tidak mengimani bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Ilahi karena dilantukan dengan suara fals.

Memang betul Nabi Muhammad Saw yang mengajarkan kita untuk bisa bermuamalah dan berinteraksi dengan sesama manusia dengan penuh salam dan saling menghormati. Bahkan, prinsip Lakum dinukum waliyadin sudah tertanam dalam diri kita. Artinya, kita tidak mau mencampuri dan mengurusi keyakinan orang lain, karena keimanan itu adalah prerogratif Allah Swt. Lantas kenapa kita ‘memaksakan’ orang lain untuk mendengarkan apa yang ia tak mau dengar?

Saya mendambakan jika ada aturan yang mengatur kapan dan siapa siapa saja yang berhak mengumandangkan ayat suci Al-Qur’an di ruang publik, maka harus memenuhi kualifikasi tertentu agar Al-Qur’an benar benar ‘terjaga’ kemuliaan, kesakralan, dan keagungannya. Lantunan Al-Qur’an yang demikian itu bisa menjadi media ‘diplomasi’ dan show case tentang Islam di mata orang-orang yang haus akan religiusitas dan mampu menggetarkan jiwa-jiwa umat Islam  yang mendengarkannya.

Sikap tawasuth dalam beragama memang harus betul-betul dapat diaplikasikan dalam lelaku sehari-hari dengan berpikir dan bertindak moderat dalam beragama. Jika tidak mau dicubit ya jangan mencubit, dan jika ingin dihargai ya harus menghargai .

Sejenak ber-Islam di Frankfurt mengajarkan kepada saya bahwa beragama itu adalah ranah personal antara mahluk dan Khaliknya, seperti halnya orang dimabuk cinta sedang memadu kasih yang tak perlu aba-aba apalagi gegap gempita.

Untuk para sahabat Muslim yang berada di Eropa, tetap semangat dalam berjihad dalam senyap. Langkah tangguhmu terbukti dan teruji tak beku dalam dinginnya salju, dan tak pudar dalam panasnya sengatan sang surya.

Dari pinggir Sungai Main di Frankfurt saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa untuk seluruh sahabatku di Indoneisa. Mari muliakan Al-Qur’an dengan mengkaji makna dan hikmahnya dan mensyiarkannya dengan penuh kekhusyukan, serta menempatkan Al-Qur’an di ‘ruang-ruang yang mulia’.

HM Zahrul Azhar AsumtaWakil Rektor Unipdu Jombang, Ketua GNAN MUI Jatim.