Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 28 Okt 2021 12:00 WIB ·

Apakah Saksi Nikah Harus Mengerti Bahasa Arab?


					Apakah Saksi Nikah Harus Mengerti Bahasa Arab? Perbesar

Jalanhijrah.com-Salah satu syarat akad nikah dinilai sah adalah harus dihadiri oleh dua saksi. Tetapi, tidak semua orang bisa untuk menjadi saksi nikah. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi saksi nikah.  Lantas, apakah memahami bahasa arab juga merupakan syarat menjadi saksi nikah?

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, menyebutkan setidaknya ada sembilan syarat untuk menjadi saksi nikah.

Pertama, berakal normal. Kedua, baligh. Ketiga, al-Ta’addud atau berjumlah minimal dua orang. Keempat, semua saksi harus laki-laki. Kelima, merdeka (Tidak berstatus budak atau hamba sahaya). Keenam, harus adil atau secara lahir terlihat sebagai orang yang taat menjalankan aturan agama. Ketujuh, beragama Islam. Kedelapan, bisa melihat. Kesembilan, dua saksi harus mendengar dan paham terhadap ijab dan qabul.

Sebagaimana disebutkan dalam syarat yang kesembilan, kedua saksi diharuskan untuk mendengar sekaligus memahami terhadap ijab dan qabul yang dikatakan oleh aqidain atau wali dan orang yang sedang menerima akad nikah. Sehingga, apabila kedua orang yang berakad menggunakan ijab Kabul dengan menggunakan Bahasa arab, maka dua saksi diharuskan untuk memahami teks arab tersebut. Sebagaimana dalam keterangan kitab Hasyiah i’anatut thalibin, juz 3, halaman 319 berikut,

(قوله: والشاهدان) معطوف على كل، أي وفهمها الشاهدان أيضا،

Artinya : Kalimat “asy-syaahidaani” bertaut ke kalimat “kullu” yang ada sebelumnya, yang maksudnya termasuk dua saksi pun harus memahami redaksi ijab Kabul.

Baca Juga  Membayar Hutang Atau Sedekah, Mana Yang Didahulukan?

Namun demikian, sebagaimana dalam aqidain, kedua saksi tidak diharuskan memahami secara mendalam mengenai arti dari masing-masing teks ijab Kabul, melainkan hanya perlu tahu bahwa teks tersebut memang digunakan untuk meng-ijab dan meng-qabul akad nikah. Sebagaimana dalam keterangan kitab Fathul mu’in berikut,

ولو عقد القاضي النكاح بالصيغة العربية لعجمي لا يعرف معناها الاصلي بل يعرف أنها موضوعة لعقد النكاح صح – كذا أفتى به شيخنا، والشيخ عطية – وقال في شرحي الارشاد والمنهاج: أنه لا يضر لحن العامي – كفتح تاء المتكلم، وإبدال الجيم زايا، أو عكسه.

Artinya : Bila seorang qodli melakukan akad nikah dengan seorang ‘ajam, qodli dengan bahasa arab dan ‘ajamy dengan bahasanya sendiri, tetapi si ‘ajamy memahami bahwa maksud dari redaksi yang dilontarkan qodli adalah untuk menikahkan, maka akad seperti ini dihukumi sah. Demikian menurut syaikhuna dan syaikh ‘athiyyah. Dalam kitab al-irsyad dan al-minhaj dikatakan: bahwa kesalahan pelafalan bahasa arab oleh orang awam tidak sampai menjadikan rusaknya akad.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa kedua saksi diharuskan untuk mendengar sekaligus memahami terhadap ijab dan qabul. Sehingga, apabila kedua orang yang berakad menggunakan ijab Kabul dengan menggunakan Bahasa arab, maka dua saksi diharuskan untuk memahami teks arab tersebut. Tetapi, kedua saksi tidak diharuskan memahami secara mendalam mengenai arti dari masing-masing teks ijab Kabul, melainkan hanya perlu tahu bahwa teks tersebut memang digunakan untuk meng-ijab dan meng-qabul akad nikah.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian