Jalanhijrah.com-Tak sedikit dari kisah hidup para ulama Nusantara yang dapat menginspirasi bagi generasi muda. Salah satunya adalah Kisah Teungku Hasbi Ash-Shiddiqy seorang ulama hadis Nusantara yang berasal dari Aceh.
Biografi Singkat Tengku Hasbi Ash-Shiddiqy
Hasbi Ash-Shiddiqy lahir pada tanggal 10 Maret 1904 di Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara. Beliau terlahir dari keluarga yang memiliki garis keturunan ulama terpandang di daerahnya (Azizah 2020).
Ayahnya merupakan hakim kepala di Lhokseumawe. Hasbi merupakan keturunan ke-37 dari Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, oleh karena itu beliau juga mendapatkan gelar Ash-Shiddiqy (Azizah 2020).
Cobaan di Usia Muda
Walaupun terlahir dari keluarga terpandang, cobaan yang berat terus saja menghampirinya dari waktu ke waktu. Cobaan pertama yang harus beliau hadapi adalah hidup tanpa seorang ibu sejak usia 6 tahun (Riyan 2018).
Tak lama setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi. Hal ini menyebabkannya tidak tinggal bersama sang ayah, melainkan harus tinggal bersama bibi dari keluarga ibunya.
Di usianya yang masih sangat belia ini, Hasbi harus merasakan beratnya hidup tanpa sosok ayah dan ibu.
Selang dua tahun yaitu sekitar tahun 1912 di usianya yang ke-8, Hasbi terpaksa harus kehilangan sosok ibu lagi, dan mengharuskannya untuk tinggal di rumah kakeknya.
Di sinilah beliau mulai belajar banyak ilmu pada dayah-dayah yang berada di pusat Kerajaan Samudra Pasai pada masa itu (Riyan 2018).
Keistimewaan dan Proses Pendidikan
Di tengah-tengah cobaan yang dihadapinya Hasbi telah menunjukkan tanda-tanda keistimewaan dalam belajar sejak kecil. Beliau tumbuh sebagai pemuda yang rajin dan hobi membaca. Beliau juga berhasil mengkhatamkan al-Qur’an pada usia yang masih sangat muda, yakni 8 tahun.
Kendatipun tinggal bersama orang lain sejak kecil, tidak menjadikan hubungan Hasbi dengan ayahnya renggang. Karena sebelum ibunya meninggalpun Hasbi telah banyak menimba ilmu dari ayahnya sendiri.
Sehingga, ketika berusia 9 tahun beliau tetap berguru kepada ayahnya. Yakni mempelajari qira’ah, tajwid, fiqih, dan dasar-dasar ilmu tafsir. Selanjutnya Hasbi berguru kepada dayah-dayah selama 8 tahun (Budiono 2012).
Karena keaktifannya dalam berdakwah dan diskusi sejak kecil sampai usia remaja, Hasbi telah banyak dikenal oleh masyarakat Aceh. Oleh karena itu, beliau dipanggil dengan sebutan Teuku Muda atau Teuku di Lho (Budiono 2012).
Beliau kemudian dijodohkan pada usia 19 tahun dengan kerabatnya yang bernama Siti Khadijah. Namun, di tengah-tengah usia pernikahan yang masih dini, Hasbi harus siap menerima cobaan baru lagi.
Cobaan di Usia Remaja, Rumah Tangga, dan Karir
Tak lama setelah menikah, istrinya meninggal dunia pasca melahirkan anak pertama mereka. Hingga kemudian beliau menikah lagi dengan saudara sepupunya yang bernama Tengku Nyak Asiyah. Alhamdulillah, dengan istri keduanya ini mereka dikaruniai 4 orang anak.
Di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu, Hasbi berkeinginan untuk menyalurkan ilmu yang dimilikinya. Kemudian beliau membangun madrasahbagi anak-anak muslim di Buloh Beureughang, Aceh pada tahun 1924 (Budiono 2012).
Dimulai dari sinilah cobaan bertubi-tubi terus mendatanginya. Madrasahyang dibangun tidak berdiri lama, hanya 2 tahun karena beliau harus berpindah ke Surabaya untuk menimba ilmu lagi di Al-Irsyad.
Dua tahun setelahnya, yakni tahun 1928, beliau mendirikan madrasahlagi di tanah kelahirannya yakni Lhokseumawe bersama gurunya. Madrasahtersebut kemudian diberi nama Al-Irsyad. Namun, MadrasahAl-Irsyad juga tidak bertahan lama (Budiono 2012).
Kemudian beliau mendirikan madrasahbaru dengan dibantu oleh Teungku Ubit dan saudaranya Teungku Luthan. Madrasah ini terletak di Krueg Mane 20 km dari Lhokseumawe dengan nama Al-Huda.
Akan tetapi, sama halnya dengan madrasah-madrasah lain yang beliau dirikan, madrasahini juga harus berhenti karena adanya perselisihan antara Teungku Ubit dan Teungku Luthan.
Beliau kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Lhokseumawe. Malangnya, tidak lama setelah Hasbi kembali kesana, beliau harus berpindah ke Kutaraja karena adanya protes dari tokoh masyarakat sekitar.
Protes tersebut dikarenakan penolakan terhadap bukunya yang berjudul Penoetoep Moeloet. Setelah berkali-kali menemui kegagalan dalam proses perjalanan beliau menyebarkan ilmu yang dimiliki, beliau kemudian memulai karir baru di Kutaraja tersebut (Budiono 2012).
Kesabaran dan Keberhasilannya dalam Mengajar
Semenjak itu, karirnya di dunia pendidikan mulai meningkat. Mulai dari mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mengikuti kursus-kursus, hingga diminta untuk mengajar.
Beliau juga sempat berpindah ke Yogyakarta, Semarang, Surakarta, dan Bandung karena banyak permintaan mengajar dari berbagai instansi pendidikan.
Setelah menemui banyak rintangan, dan walaupun gagal mendirikan madrasah sendiri namun beliau sukses dalam mengajar. Bahkan setelah beliau wafat pun. Karya-karya beliau masih tetap hidup sampai sekarang.
Dapat diambil hikmah dari perjalanan hidup Teungku Hasbi Ash-Shiddiqy tersebut. Sebagai manusia memang sudah wajar apabila kita menemui musibah dalam kehidupan. Namun, yang menjadikan kita berbeda dari orang lain adalah bagaimana menyikapi cobaan itu.
Mengeluh? Ya, memang boleh. Tapi bukan berarti harus mengeluh setiap saat hingga berlarut menjadi dendam, marah, iri, dan penyakit hati lainnya.
Hendaklah kita melihat bagaimana beratnya cobaan yang dihadapi oleh Teungku Hasbi Ash-Shiddiqy dan cara beliau menyikapinya. Beliau selalu menjadikan cobaan sebagai sebuah kekuatan. Mengalihkan kesedihan kepada buku-buku, dan menyibukkan diri dengan belajar.
Walaupun mungkin butuh waktu lama untuk berhasil dan bahagia. Tetapi bertahan dengan sabar dan terus berikhtiaradalah jalan yang beliau yakini akan mendatangkan kebaikan pada akhirnya. Setelah melaluinya, beliau akhirnya menemukan keberhasilan dan kebahagiannya.
Bukankah seharusnya kita juga harus berusaha demikian? Sulit memang, namun menyerah dan berlarut-larut dalam keluh kesah tidak akan merubah apapun. Alihkan pada hal positif dan mulailah perubahan kecil dari sesuatu yang paling ringan.
Referensi
Azizah, I.N., 2020. Metode Pemahaman Hadis di Indonesia : Studi atas Pemikiran T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Budiono, Y., 2012. Mengenal Hasbi Ash-Shiddieqy.
Riyan, M., 2018. Pemikiran Hukum Islam Hasbi Ash-Shiddiqy. Tazkiya: Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan, Vol. 19(1), pp.82–94.






