Beranda / Hijrah / Terjebak FOMO: Ketika Tren Mengalahkan Tujuan Hidup

Terjebak FOMO: Ketika Tren Mengalahkan Tujuan Hidup

jalanhijrah.com – Media sosial membuka akses terhadap berbagai informasi dalam waktu singkat. Setiap hari, kita melihat pencapaian, barang baru, tempat wisata, kegiatan, hingga gaya hidup orang lain. Semua itu tampak menarik dan sering mendorong kita untuk ikut. Jika melewatkannya, kita mulai khawatir akan tertinggal.

Fenomena tersebut memiliki istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Istilah ini menggambarkan rasa takut kehilangan kesempatan, pengalaman, atau informasi yang sedang orang lain nikmati. Dalam batas tertentu, perasaan tersebut dapat memacu seseorang untuk berkembang. Namun, FOMO yang berlebihan justru membuat seseorang kehilangan ketenangan dan arah hidup.

Mengapa FOMO Mudah Muncul?

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sering memicu FOMO. Media sosial memperkuat kebiasaan tersebut karena para penggunanya cenderung menampilkan sisi terbaik dalam kehidupan mereka.

Kita melihat keberhasilan seseorang tanpa mengetahui proses panjang yang telah ia jalani. Unggahan liburan orang lain tampak menyenangkan, tetapi kita tidak mengetahui persoalan yang sedang ia hadapi. Akibatnya, seseorang membandingkan seluruh perjalanan hidupnya dengan sebagian kecil kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.

Perbandingan semacam itu dapat melahirkan kegelisahan. Sebagian orang kemudian merasa hidupnya berjalan terlalu lambat, pencapaiannya belum cukup, atau posisinya kalah dari orang lain. Padahal, Allah memberikan waktu, ujian, rezeki, dan jalan hidup yang berbeda kepada setiap manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka.”
(QS. Thaha: 131)

Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak terus memandang kenikmatan orang lain hingga melupakan berbagai karunia dalam kehidupannya sendiri.

Ketika Tren Mengendalikan Keputusan

FOMO tidak hanya muncul saat seseorang menggunakan media sosial. Perasaan tersebut juga dapat memengaruhi keputusan sehari-hari. Seseorang mungkin membeli barang karena sedang viral, menghadiri suatu kegiatan agar tetap mengikuti pergaulan, atau menerima pendapat yang ramai tanpa memeriksa kebenarannya.

Pada akhirnya, gengsi menggantikan pertimbangan kebutuhan. Seseorang tidak lagi bertanya, “Apakah saya membutuhkan ini?”, tetapi justru bertanya, “Apakah orang lain juga memilikinya?” Alih-alih menilai manfaat suatu kegiatan, ia lebih memikirkan pandangan orang terhadap dirinya.

Kondisi tersebut dapat memicu perilaku boros, tekanan sosial, kecemasan, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan. Lebih jauh lagi, seseorang mungkin mengorbankan prinsip karena lebih takut tampil berbeda daripada mengambil keputusan yang salah.

Tidak Semua yang Ramai Harus Kita Ikuti

Banyaknya pengikut tidak selalu membuktikan kebenaran. Sesuatu yang viral belum tentu membawa manfaat. Sebaliknya, perkara yang tidak populer belum tentu mengandung keburukan. Oleh karena itu, seorang muslim perlu menggunakan ilmu dan pertimbangan matang sebelum mengikuti suatu tren.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)

Seorang muslim memiliki pedoman dalam menjalani kehidupan. Popularitas tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Ia perlu mempertimbangkan halal dan haram, manfaat dan mudarat, serta pengaruh setiap pilihan terhadap iman dan kehidupannya.

Keberanian untuk tidak mengikuti arus bukan berarti menolak perkembangan zaman. Islam tidak melarang penggunaan teknologi, hiburan yang halal, atau tren yang bermanfaat. Meski demikian, setiap muslim tetap perlu menjaga prinsip agar tren tidak mengambil alih kendali hidupnya.

Mengubah FOMO Menjadi Semangat Kebaikan

Rasa takut tertinggal sebenarnya dapat membawa manfaat jika seseorang mengarahkannya kepada kebaikan. Kita boleh merasa khawatir saat tertinggal dalam menuntut ilmu, membantu sesama, memperbaiki ibadah, menjaga kesehatan, atau mengembangkan kemampuan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 148)

Islam mendorong umatnya untuk berkompetisi dalam perkara yang bermanfaat. Kerajinan seseorang dalam belajar dapat membangkitkan semangat kita untuk mencari ilmu. Kedermawanan orang lain juga bisa memotivasi kita untuk berbagi. Begitu pula dengan kesungguhan seseorang dalam beribadah yang dapat mengingatkan kita agar kembali mendekat kepada Allah.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar mengikuti atau meninggalkan tren. Hal yang lebih penting ialah menentukan arah yang tepat. Jangan sampai kita selalu mengetahui kabar terbaru, tetapi melupakan kewajiban. Hindari pula kebiasaan mengamati kehidupan orang lain hingga tidak memiliki waktu untuk memperbaiki diri.

Cara Membebaskan Diri dari FOMO

Langkah pertama untuk mengurangi FOMO ialah membatasi penggunaan media sosial. Kita tidak harus mengetahui setiap kabar atau mengikuti semua hal yang sedang ramai. Sebaiknya, pilihlah informasi yang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan.

Sebelum mengambil keputusan, berhentilah sejenak untuk mempertimbangkan alasannya. Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan hal ini? Apa manfaat yang akan saya peroleh? Apakah saya tetap ingin melakukannya jika tidak ada orang lain yang melihat?

Rasa syukur juga membantu hati melawan FOMO. Melalui rasa syukur, seseorang akan lebih mudah menyadari nikmat yang telah Allah berikan daripada terus mengejar milik orang lain. Selain itu, lingkungan yang baik dapat membantu kita menetapkan prioritas serta menjaga diri dari arus pergaulan yang tidak sehat.

Kembali Menentukan Arah Hidup

Hidup bukan perlombaan untuk mendapatkan semua hal yang orang lain miliki. Kita tidak harus hadir dalam setiap kesempatan, mencoba semua tren, atau mencapai sesuatu pada waktu yang sama dengan orang lain. Melewatkan suatu tren bukan berarti gagal. Terkadang, keputusan untuk berhenti, menolak, atau berjalan lebih lambat justru melindungi kita dari pilihan yang tidak bermanfaat.

Pada akhirnya, jangan hanya bertanya, “Apa yang sedang ramai hari ini?” Ajukan pertanyaan yang lebih penting: “Apakah pilihan ini membawa saya menuju kehidupan yang lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah?” Tren akan terus berubah, sedangkan waktu tidak akan kembali. Karena itu, jangan habiskan hidup untuk mengejar sesuatu yang sementara hingga kita melupakan tujuan yang sebenarnya.

Tag: