Beranda / Mujadalah / Hidup Tak Selalu Mudah, Tetapi Istiqamah Adalah Jalan Keselamatan

Hidup Tak Selalu Mudah, Tetapi Istiqamah Adalah Jalan Keselamatan

Jalanhijrah.com – Prof. Quraish Shihab pernah mengisahkan dalam program Shihab dan Shihab tentang sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah SAW: “Apakah hal yang paling berat dalam hidup?”

Pertanyaan itu tampak sederhana. Padahal, jika melihat perjalanan hidup Nabi, beliau menghadapi berbagai ujian yang luar biasa berat. Beliau dicaci, diusir dari tanah kelahirannya, diperangi oleh musuh-musuhnya, bahkan berkali-kali berada dalam ancaman pembunuhan.

Namun menariknya, Rasulullah tidak menyebut penghinaan, pengusiran, atau peperangan sebagai hal yang paling berat. Beliau justru mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang sekilas tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit dijalankan.

Beliau menjawab:

اسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.”

Jawaban ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Hud ayat 112 yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya untuk tetap teguh berada di jalan yang benar tanpa melampaui batas.

Pesan Al-Qur’an ini terasa sangat relevan dengan kehidupan manusia. Banyak orang mampu memulai sesuatu dengan penuh semangat. Mereka menyusun target, membuat rencana besar, dan memiliki cita-cita yang tinggi. Ada yang ingin menghafal Al-Qur’an, menyelesaikan pendidikan, membangun usaha, menulis buku, atau memperbaiki kualitas dirinya.

Namun seiring berjalannya waktu, semangat itu sering kali memudar. Kesibukan datang silih berganti. Kegagalan mulai dirasakan. Hasil yang diharapkan belum juga terlihat. Perlahan, tujuan yang dahulu diperjuangkan mulai ditinggalkan. Bukan karena mustahil dicapai, melainkan karena tidak cukup lama dipertahankan.

Di sinilah letak beratnya istiqamah. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa istiqamah berarti terus berjalan pada satu arah tanpa menyimpang ke kanan maupun ke kiri. Dengan kata lain, seseorang tidak hanya dituntut untuk bergerak, tetapi juga memastikan bahwa langkahnya tetap berada di jalan yang diperintahkan Allah.

Karena itu, istiqamah bukan sekadar konsisten melakukan suatu aktivitas. Lebih dari itu, istiqamah adalah kemampuan untuk terus bertahan di jalan yang benar. Banyak orang sanggup bertahan, tetapi tidak semua mampu memastikan bahwa arah yang ditempuhnya tetap sesuai dengan tuntunan Allah. Ada yang penuh semangat, tetapi salah tujuan. Ada pula yang teguh memegang prinsip, namun prinsip tersebut justru menjauhkannya dari kebenaran.

Pandangan serupa disampaikan Imam Al-Baghawi. Menurut beliau, istiqamah berarti teguh menjalankan agama, mengamalkannya, dan mengajak orang lain kepadanya sebagaimana diperintahkan Allah. Karena itu, istiqamah tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Ia berkaitan dengan bagaimana sebuah komunitas atau umat tetap berada di jalur yang benar.

Menariknya, dalam psikologi modern terdapat konsep yang memiliki kedekatan makna dengan istiqamah, yaitu grit. Psikolog Angela Duckworth mendefinisikan grit sebagai ketekunan dan gairah dalam mengejar tujuan jangka panjang. Orang yang memiliki grit mampu bertahan menghadapi kegagalan, kesulitan, dan lambatnya kemajuan tanpa kehilangan komitmennya.

Dalam perspektif ini, keberhasilan bukanlah perlombaan singkat yang mengandalkan kecepatan sesaat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan daya tahan. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena berhenti terlalu cepat.

Hal senada pernah diungkapkan oleh Umar bin Al-Khaththab RA. Beliau menjelaskan bahwa istiqamah adalah keteguhan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya tanpa bersiasat atau berkelok-kelok seperti seekor rubah yang licik. Dengan demikian, istiqamah bukan hanya soal kerajinan, tetapi juga soal kejujuran dan kewaspadaan terhadap penyimpangan.

Lalu bagaimana cara menjaga istiqamah?

Menurut Prof. Quraish Shihab, langkah pertama adalah memiliki ilmu. Seseorang tidak akan mampu mengetahui posisi yang lurus jika tidak memahami batas-batas penyimpangan di kanan dan kirinya. Tanpa pengetahuan yang memadai, seseorang bisa saja merasa berada di jalan yang benar, padahal sesungguhnya telah menjauh dari keseimbangan yang diajarkan agama.

Namun ilmu saja belum cukup. Istiqamah juga memerlukan kemampuan mengendalikan diri. Angela Duckworth bersama James J. Gross menjelaskan bahwa self-control merupakan kemampuan mengatur perhatian, emosi, dan perilaku ketika berhadapan dengan berbagai godaan.

Sebab tidak sedikit penyimpangan yang lahir bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan emosi. Ada yang berlebihan dalam beribadah, ada yang terlalu keras dalam membela agama, dan ada pula yang sibuk mengoreksi orang lain tetapi lalai memperbaiki dirinya sendiri.

Karena itulah Allah tidak hanya memerintahkan istiqamah, tetapi juga menutup ayat tersebut dengan peringatan:

وَلَا تَطْغَوْا

“Janganlah kalian melampaui batas.”

Pesan ini mengajarkan bahwa istiqamah memerlukan dua hal sekaligus: kejernihan ilmu dan kematangan emosi. Ilmu menjaga seseorang dari kesalahan berpikir, sedangkan pengendalian diri melindunginya dari sikap berlebihan.

Pada akhirnya, istiqamah bukanlah tentang seberapa hebat seseorang memulai perjalanan, melainkan tentang kemampuannya bertahan di jalan Allah hingga akhir. Ketika semangat mulai menurun, ketika jalan terasa berat, dan ketika hawa nafsu mengajak untuk berpaling, di situlah ujian istiqamah sesungguhnya dimulai.

Sebab yang paling sulit bukanlah memulai langkah. Yang paling berat adalah tetap lurus hingga garis akhir.

Tag: