Beranda / Perempuan / Helen Keller, Perempuan Tunanetra-Tunarungu yang Melihat Dunia Melalui Tangan

Helen Keller, Perempuan Tunanetra-Tunarungu yang Melihat Dunia Melalui Tangan

John Lennon melalui lagu Imagine (1971) bersenandung mengajak pendengarnya untuk membayangkan semua orang hidup hanya untuk hari ini, saling berbagi, tanpa negara, tanpa surga, dan tanpa neraka. Melupakan segala identitas yang menempatkan manusia pada kotak-kotak. Pikiran yang sangat menarik. Namun, sepertinya sulit untuk mewujudkan hal demikian karena dunia adalah tempat berkumpulnya kontradiksi, begitu terus-menerus sampai kelak bumi ini roboh.

Hal itu sama sulitnya untuk membayangkan kebahagiaan manusia jika tanpa mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran). Pasti hidup terasa gelap, sunyi, dan menakutkan, begitu kira-kira anggapan orang yang akrab dengan lima indra. Tapi siapa bisa mengira bahwa tiadanya mata dan telinga justru membuat seorang perempuan asal Amerika menemukan kebahagiaan sejati dan dikenal publik sebagai sosok yang berhasil menaklukkan dunia.

Gadis itu bernama Helen Keller. Ia lahir pada tanggal 27 Juni 1880, di Tuscumbia, sebuah kota kecil di barat laut Alabama, Amerika Serikat. Awalnya ia lahir seperti kebanyakan bayi pada umumnya, namun tiba-tiba sebuah penyakit menyerang saat ia menginjak usia 19 bulan. Penyakit itu merenggut penglihatan dan pendengarannya untuk selama-lamanya. Dunia yang kemudian ia hadapi adalah gelap dan tanpa suara.

Ia tidak bisa membedakan apakah sedang terjaga atau tidur, berpikir atau bermimpi. Semua seperti berjalan secara bersamaan karena perbedaan diantara keduanya begitu tipis. Semuanya berdiri pada pijakan yang sama: gelap. Hellen pernah berkisah dalam bukunya bahwa sebelum bertemu dengan gurunya, ia merasa tidak mengenal siapa dirinya. Baginya tidak ada kehendak maupun akal budi. Semua berjalan begitu saja tanpa perlu dipikir dan dirasakan.

Ketika ia mulai mendapat bimbingan dari Anne Sullivan, Helen Keller berhasil menemukan makna dalam hidupnya. Berkat kerja keras dan ketekunanya, ia berhasil mencapai prestasi luar biasa yang membuat mata dunia tercengang. Pada tahun 1900, ia menjadi mahasiswa buta-tuli pertama yang diterima di Radcliffe College. Tiga tahun berselang, lahir buku autobiografinya bertajuk The Story of My Life yang mendapat sambutan masyarakat dunia. Buku itu diterjemahkan lebih dari lima puluh bahasa dan masih banyak dibaca hingga saat ini.

Pada tahun 1904, ia juga berhasil meraih gelar diploma. Menjelang 1910, ia memberanikan diri untuk mempelajari olah vokal agar suaranya bisa didengar oleh orang lain. Alhasil, pada tahun 1913, Helen berdiri di depan publik Montclair, New Jersey, memberikan pidato pertamanya. Sejak itu, kakinya menginjakkan banyak negara. Sosoknya menjadi ikon yang belum tergantikan dalam upaya melampaui batasan-batasan raga.

Hal paling menarik dalam diri Hellen Keller adalah kemampuannya dalam ‘melihat’ dan ‘mendengar’ dunia melalui sentuhan dan penciumannya dengan amat detail. Kepekaan dari tangan dan hidungnya membawa ia berhasil membangun dunia dengan imajinasinya. Penghayatan gadis itu dalam memaknai cara kerja dunia melampaui manusia pada umumnya berkali-kali lipat.

Setiap hari bagi gadis itu adalah ketakjuban ketika tangannya merasakan jenis lekuk, tekstur, dan getaran. Ia menuliskan dalam salah satu bukunya: “Keindahan matahari terbenam yang dilihat oleh kawanku, yang melintasi bukit-bukit lembayung, memang luar biasa. Namun matahari terbenam di dalam mata batinku membawa suka cita yang lebih murni, karena itu merupakan perpaduan dari berbagai keindahan yang kita ketahui dan hasrati.” Jiwanya melampaui batasan-batasan raga.

Melalui buku bertajuk Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi (Kayla Pustaka, 2010) karangan Helen Keller, penerjemah Dita Sylvana, gadis itu mengisahkan pengalamannya melihat dunia melalui tangannya. Baginya kenikmatan surgawi bisa diperoleh melalui sentuhan. Karena di dalam sentuhan terdapat cinta kasih dan akal budi. Melalui tangan ia bisa merasakan aneka gairah, energi ketegangan, dan keramahtamahan: “Tangan bukan hanya mudah dibaca seperti wajah, tapi bahkan mengungkapkan rahasia secara lebih terbuka dan tanpa disadari.”

Ia menukilkan beberapa pengalamannya ketika menjalin komunikasi dengan orang lain melalui sentuhan. Jemarinya mengingat tangan besar Bishop Brook yang penuh kelembutan dan sukacita dari seorang pria yang kuat. Ketika memegang tangan Mark Twain, ia bisa merasakan karakter penuh selera humor yang cerdas dan ganjil, sosok itu bisa memberikan perubahan rasa dari perasaan lucu menjadi simpatis dan rasa melindungi.

Film The Miracle Worker (1962) garapan Arthur Penn bisa menjadi salah satu rujukan untuk mengenal lebih jauh sosok Helen Keller bersama Anne Sullivan, gurunya. Perjalanan yang penuh perjuangan dan lika-liku panjang ditampilkan dalam film tersebut dengan amat apik. Penonton bisa ikut merasakan gejolak emosi yang dirasakan Keller semasa berjuang menghadapi keterbatasannya.

Hal menarik lainnya yang bisa digaris bawahi adalah kemampuan Helen Keller dalam memaknai dan mempergunakan indra miliknya dengan sungguh-sungguh. Hal serupa juga terjadi pada tokoh fiktif Jean-Baptiste Grenouille dalam novel Perfume: The Story of a Murderer (Dastan Books, 2006) gubahan Patrick Suskind. Grenouille memaknai dunia melalui indra penciuman dan perasaannya.

Helen Keller dan Jean-Baptiste Grenouille adalah orang-orang yang berhasil melihat dunia dengan ketulusan hati dan memaksimalkan sungguh-sungguh alat perasa yang dimiliki. Mereka mengajarkan bahwa sipa pun manusia yang melihat ke dalam batinnya pada akhirnya akan menemukan luas dan makna semesta.

 

Yulita Putri

Bergiat di Bilik Literasi dan Kamar Kata Karanganyar.

 

Sumber: https://arina.id/mozaik/ar-DJ0q4/helen-keller–perempuan-tunanetra-tunarungu-yang-melihat-dunia-melalui-tangan