Menu

Mode Gelap

Milenial · 10 Okt 2021 12:00 WIB ·

Teroris, Guncangan BNPT, dan Talibanisasi Indonesia


					Teroris, Guncangan BNPT, dan Talibanisasi Indonesia Perbesar

Jalanhijrah.com-Bom 35 Kg berhasil dilunakkan Densus. Bom yang memiliki daya ledak besar itu, telah diledakkan di gunung Ceremai. Karena kedahsyatannya telah menimbulkan getaran yang hebat hingga terjadi longsor, pecahan batu, dan ternganganya tanah di area gunung Ceremai.

Imam Mulyana, jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) adalah pemilik Bom 35 Kg itu. Bahkan ketika melihat getaran, dia merasa berdosa dan menangis. Menurutnya apa jadinya jika bom 35 Kg meledak di tengah kerumunan manusia. Jelas darah, pepesan kulit, dan empasan dagingnya bertabur ke mana-mana. Seperti yang terjadi di Bali, pecahan daging-daging manusia menempel di atap langit dan kulit bangunan.

Tapi begitulah teroris. Baru tersadar atas perbuatan kejinya saat setelah ia melakukannya. Sangar di awal namun menyesal kemudian. Tapi penyesalan itu tak berfungsi apa-apa. Setelah semua hancur tinggal puing-puing dan deritanya.

Teroris Pemilik Bom 35 Kg dan Kefanatikan Agama

Imam Mulyana, diringkus saat Jokowi menghadiri acara penutupan kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) ke IX pada 2017 lalu di tanah Gua Sunyaragi. Waktu itu, sebelum 3 jam Jokowi mendarat, Densus menemukan gerak-gerik seseorang pemuda di dekat bandara Cakrabuana, Cirebon. Dan pemuda itu ditangkap. Karena TIM menemukan sebuah koper berisi anggur, airsoft gun, buku ajakan jihad dan beberapa benda mencurigakan.  Pada saat itu, Imam juga ingin merampas senjata anggota kepolisian yang mangamankan Jokowi.

Baca Juga  Filosofi Shalat: Karena Shalat Tak Hanya Sekadar Ritual

Penangkapan kedua itu terjadi, karena Imam masih tetap di jalan yang sama: mengajak jihad. Para teroris ini terinspirasi terhadap teroris di Timur Tengah yang dalam beberapa babak memenangkan medan pertandingan perang. Bahkan kemenagan Taliban menjadi inspirasi mereka hari ini. Meski secara ideologi mereka berbeda antara teroris Indonesia dengan Taliban.

Namun kesamaannya adalah Taliban teranggap punya jalan jihad agama yang sama, di mana Taliban bergerak di jalan rel Tuhan. Taliban berani menghancurkan musuh-musuhnya atas nama jihad agama. Lalu secara tegar, dia berani memproklamirkan Afgahnistan sebagai negara berbasis hukum Islam.

Disitulah sebenarnya keinginan teroris Indonesia. Ingin menegakkan sistem Islam di negara Indonesia bahkan di seluruh dunia. Karena, bagi mereka, sistem yang berjalan hari ini tidak suci, penuh kemaksiatan, zalim, toghut, dan tidak bersih.

Teroris berpandangan hanya sistem Islamlah yang mampu menjembatani kemaruknya dunia. Mereka mencontohkan sistem di era Rasulullah dan era para Sahabat serta setelahnya. Bagi mereka, tidak ada alasan lain untuk menegakkan sistem Islam, karena hal demikian telah dicontohkan bahkan direstui oleh Tuhan.

Propaganda Taliban dan Goyangan BNPT

Mereka meromantisasi diri atas keagungan zaman Islam lalu. Di mana intelektualnya cerdas, kreatif, tidak dekat pada kekuasaan dan berani dicap ateis, atau musuh Tuhan sekalipun. Hari ini, tak mungkin sama dengan dulu, karena intelektualnya tumbuh dan dikekang oleh kakuasaan. Intelektual Indonesia tumpul, karena hasil akhir ada di tangan pejabat negara. Bisa terbilang, intelektual lebih rendah daripada politisi. Dan ia mengangguk ketika di hadapan pejabat-politisi.

Baca Juga  Relevansi Pandangan Mohammed Arkoun tentang Tantangan Umat dalam Menjawab Modernisme

Jadi, sangat ngigau betul jika hari ini mengharapkan zaman keemasan Islam. Apalagi ditambah keagamaannya cenderung penuh keegoisan dan tidak menampakkan kedamaian. Jadi, jika keinginan menegakkan negara Islam, hanya berdasar pada modal kemenangan Taliban atau dalam tingginya fanatiknya keagamaan, sangat rapuh dan tidak bertenaga.

Yang ada hanyalah kemenangan Taliban menjadi inspirasi teroris untuk membunuh dan membombardir negara yang aman-damai seperti Indonesia. Seperti penjelasan Densus (CNN, 05/10/2021), sejak Taliban menang, Jemaah Islamiyah tampak mendapati semangat yang tinggi untuk terus istikamah jihad menegakkan negara Islam. Namun hal itu diisukan bahwa Densus atau BNPT hanya memancing Islamofobia. Atas itu, BNPT disuruh dibubarkan.

Maka, disitulah bahayanya: Taliban dijadikan role model teroris di Indonesia. Sejak Januari hingga Agustus 2021, sudah ada 335 orang yang ditangkap terkait dugaan terorisme. Hampir rata-rata semuanya mendukung dan menginginkan Indonesia sama seperti pemerintahan Taliban. Taliban menjadi propaganda bagi warga Indonesia.

Sampai di sini, kita mungkin sangsi melihat dinamika umat muslim mutakhir. Mundur kenak dan apalagi maju. Daripada itu mereka harus berdiri di tengah. Dan tengah itu adalah Pancasila. Itulah satu-satunya wahyu Tuhan yang diperas oleh manusia Indonesia untuk menjadikan Indonesia aman, berdaulat, dan bersatu. Hanya yang tidak mau pada persatuan, yang anti terhadap Pancasila. Itu.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

UIY Official, Ismail Yusanto, dan Pengedar Narasi HTI

8 Desember 2021 - 16:00 WIB

UIY Official, Ismail Yusanto, dan Pengedar Narasi HTI

Relevansi Pandangan Mohammed Arkoun tentang Tantangan Umat dalam Menjawab Modernisme

8 Desember 2021 - 07:00 WIB

Relevansi Pandangan Mohammed Arkoun tentang Tantangan Umat dalam Menjawab Modernisme

Nyunnah: Istilah Baru Para Dai Salafi-Wahhabi untuk Menipu Umat Islam di Indonesia

7 Desember 2021 - 12:00 WIB

Nyunnah: Istilah Baru Para Dai Salafi-Wahhabi untuk Menipu Umat Islam di Indonesia

Menerka Kompleksitas Masyarakat Madura: Antara Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial

5 Desember 2021 - 16:00 WIB

Menerka Kompleksitas Masyarakat Madura: Antara Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial

Bagaimana Sebenarnya Kerukunan dalam Islam (Bagian-I)

5 Desember 2021 - 12:00 WIB

Bagaimana Sebenarnya Kerukunan dalam Islam (Bagian-I)

Reuni 212: Bukti Kekalahan Kelompok Elit dan Wajah Islam yang Buruk

5 Desember 2021 - 07:00 WIB

Reuni 212: Bukti Kekalahan Kelompok Elit dan Wajah Islam yang Buruk
Trending di Milenial