Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 30 Jun 2022 09:00 WIB ·

Skincare, Kosmetik dan Paket Internet, Apakah Termasuk Nafkah Wajib?


					Skincare, Kosmetik dan Paket Internet, Apakah Termasuk Nafkah Wajib? Perbesar

Jalanhijrah.com-Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi.  Di era sekarang suami seakan dituntut untuk memenuhi kebutuhan istri dalam mempercantik diri, seperti membelikan skincare, kosmetik, make up dan lain-lain.

Di-era sekarang tak ubahnya kepentingan yang sangat sulit dihindari adalah Hp atau Gadget. Otomatis selain memenuhi uang belanja, jalan-jalan dan membelikan kosmetik istri, seorang suami juga dituntut membelikan pulsa istri. baik untuk kepentingan jualan online bagi istri, atau sekedar mengisi boring (bosan) di rumah dengan berselancar di sosmed. Pulsa dan data internet juga berguna untuk interaksi keluarga. Nah, Apakah kosmetik/make up termasuk nafkah yang harus diberikan kepada Istri?

Perlu diketahui, nafkah wajib bagi suami kepada istrinya ada tujuh, yaitu (1) makan pokok, (2) lauk pauk, (3) pakaian, (4) alat untuk kebersihan tubuh istri, (5) peralatan rumah, (6) tempat tinggal, (7) pembantu jika dibutuhkan. Hal tersebut sebagaimana keterangan Sykeh Al-Khatib Al-Shirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj berikut:

والحقوق الواجبة بالزوجية سبعة الطعام والإدام والكسوة وآلة التنظيف ومتاع البيت والسكنى وخادم إن كانت ممن تخد

Artinya, “Hak-hak yang wajib dipenuhi untuk istri ada tujuh, makanan pokok, lauk pauk, pakaian, alat mandi, peralatan rumah, tempat tinggal, pembantu jika sang istri termasuk perempuan yang biasa punya pembantu”. (Sykeh Al-Khatib al-Shirbini, Mughni al-Muhtaj, juz 3., hal 425)

Baca Juga  Tahapan Belajar Fiqih Syafi’i, ala Syeikh Abdul Aziz Asyahawi

Salah satu kewajiban suami yang harus dipenuhi dari diatas adalah alat untuk kebersihan tubuh sang istri. Lebih jelasnya, Syekh Khatib as-Syarbini mengatakan wajib bagi suami (membelikan) alat kebersihan tubuh sang istri dari kotoran yang ada pada tubuhnya. Sementara peralatan untuk berhias dan memperindah tubuh sang istri bukanlah termasuk nafkah wajib bagi suami. Syekh Khatib as-Syarbini mengatakan,

ولا يجب لها عليه كحل ولا طيب ولا خضاب ولا ما تتزين به

Artinya, “Tidak wajib bagi suami terhadap istirnya yaitu celak, parfum, pacar, dan sesuatu yang dijadikan perhiasan”.  (Khatib as-Syarbini, Iqna’, juz 2, hal 486)

Hal serupa diungkapkan oleh imam Abu Ishaq as-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَأَمَّا الْخِضَابُ فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَطْلُبْهُ الزَّوْجُ لَمْ يَلْزَمْهُ، وَإِنْ طَلَبَهُ مِنْهَا لَزِمَهُ ثَمَنُهُ لِاَنَّهُ لِلزِّيْنَةِ وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِعَارِضٍ وَأَنَّهُ يُرَادُ لِاِصْلَاحِ الٰجِسْمِ فَلَا يَلْزَمْهُ

Artinya, Adapun warna pacar sesungguhnya apabila suami tidak menginginkannya maka hal itu tidak diwajibkan atas suami (untuk memberikan). Namun apabila suami menginginkannya dari istri maka wajib atas suami untuk memberikan sesuai harga untuk membelinya karena penggunaan semacam itu termasuk berhias… Hal demikian dibutuhkan karena tuntutan tertentu yang pada dasarnya hanya sebatas memperindah fisik perempuan yang hukum asalnya tidak wajib.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa skincare, kosmetik atau make up Bukan termasuk  kewajiban nafkah yang harus diberikan kepada istri. Sebab barang-barang tersebut dimaksudkan untuk memperindah fisik tubuh perempuan. Sama seperti kosmetik, paket inter-pun bukan termasuk nafkah yang wajib diberikan kepada istri.

Baca Juga  Apakah Tidurnya Seseorang yang Sedang Berpuasa Merupakan Ibadah?

Namun perlu diketahui juga, meski skincare, kosmetik dan paket internat bukan termasuk nafkah wajib, Akan tetapi jika dalam rangka mu’asyarah bil-ma’ruf , menyenangkan istri maka disunnahkan memberikan barang-barang tersebut. Bahkan kalau suami menginginkan istri menggunakan kosmetik atau make up maka harus menyediakanya.

حسن العشرة : يستحب للزوج تحسين خلقه مع زوجته والرفق بها ، وتقديم ما يمكن تقديمه إليها مما يؤلف قلبها، لقوله تعالى : { وعاشروهن بالمعروف }

Artinya, “Bergaul dengan baik: sunnah bagi seorang suami memperbaiki pergaulan dengan istri dan belas kasih kepadanya, (sunnah juga) mendahulukan sesuatu yang membuat hatinya luluh”. (al-Mausu’ah al-Quwaitiyah, juz 24, hal 65)

Demikian penjelasan terkait Skincare, kosmetik dan paket internet dalam fikih rumah tangga. Semoga bermanfaat. Waallahu A’lam. []

Penulis:

Satri di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Penikmat Kajian Keislaman
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian