Home / Uncategorized / Pengalaman Para Gus dan Ning Belajar Moderasi Beragama

Pengalaman Para Gus dan Ning Belajar Moderasi Beragama

GUS

Jalanhijrah.com – Salah satu gebrakan baru dari Gus Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, adalah penguatan moderasi beragama dengan wawasan internasional untuk para kiai dan nyai muda. Kiai dan nyai muda yang biasa disebut Gus dan Ning ini merupakan para pengasuh pondok pesantren yang sangat menguasai kajian keislaman dengan berbagai macam variasi keilmuannya.

Untuk meningkatkan wawasan internasional, Kementerian Agama bekerja sama dengan dua perguruan tinggi di Jerman, yakni Goethe University of Frankfurt dan Marburg University. Di dua universitas itu, mereka mengikuti workshop tentang toleransi dan kehidupan damai bersama sejumlah guru besar. Di antaranya Prof. Edith Franke, Prof. Albrecht Fuess, Prof. Arndt Graf, dan Dr. Susanne Rodermeier.

Selain itu, mereka juga berdialog dengan pimpinan komunitas Yahudi, Kristen, dan Islam Jerman. Dalam dialog, para Gus dan Ning serta perwakilan komunitas itu berbagi tentang kondisi keagamaan negara masing-masing. Informasi timbal balik itu dilakukan agar mereka saling memahami dan menghormati satu sama lain.

Tak hanya berada dalam ruangan, Gus dan Ning juga diajak mengunjungi tempat-tempat ibadah dari berbagai agama yang ada di Jerman. Selain itu, selama berada di Jerman, Gus dan Ning juga ditugasi menyampaikan materi moderasi dalam bentuk pengajian di beberapa kota kepada warga Indonesia yang ada di negara itu.

Pengembangan Wawasan Moderasi Beragama
Program yang diadakan pada tanggal 22 Januari-2 Februari 2024 untuk gelombang I dan 28 Februari sampai dengan 9 Maret 2024 untuk gelombang II ini mendapatkan sambutan positif dari para Gus dan Ning.

“Program ini sangat berarti bagi kalangan pesantren. Sebab, selama ini kami hanya mengetahui dari kitab kuning tentang keagamaan, khususnya moderasi beragama dan lain-lain. Kegiatan ini membuka dan memperluas wawasan, berpikir lebih maju, dan mengerti kebutuhan dan tantangan santri di masa depan,” kata Gus Dalail dari Pondok Pesantren Darussa’adah Banyumas yang menjadi salah satu peserta program itu.

Kesan mendalam juga dirasakan Ning Arma Mareta dari Pondok Pesantren Jambi. Kata dia, program ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang moderasi beragama, tetapi memungkinkan dia berinteraksi dengan para peserta dari berbagai pesantren, memperluas jaringan internasional, dan memperdalam tantangan global dalam konteks keberagaman agama.

Dari pengalaman itu, ia yakin akan bisa membantu dalam memperjuangkan toleransi dan perdamaian di Indonesia. Pengalaman itu, menurut dia, juga akan digunakan untuk kolaborasi lintas-batas dalam mewujudkan visi keberagamaan yang inklusif dan harmonis.

Gus Qowwam dari PP Pandanaran Yogyakarta juga punya kesan yang hampir sama. Kata dia, pengalaman yanga paling berkesan selama di Jerman adalah saat mengunjungi kota Marburg. Di kota itu, ia sangat terkesan pada kehidupan yang harmonis antar komunitas Yahudi, Kristen dan Islam.

Gus Qowwam memberi contoh. Saat para peserta mengunjungi Gereja Elizabet, kota Marburg. Saat berada di kota itu, pastor gereja mengizinkan rombongan melakukan salat di rumahnya.

Gus Hamid Hodir dari Yayasan Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, juga punya kesan menarik. Saat mengunjungi beberapa tempat ibadah, dia merasakan bagaimana moderasi beragama, khususnya toleransi dan pengakuan atas eksistensi umat beragama, sangat diperhatikan di Jerman.

“Saat mengunjungi Central Mosque di Collogne (Koeln), saya takjub mendengar sejarah pembangunan dan perizinan masjid tersebut. Walaupun (masyarakat) Islam itu minoritas di situ, tetapi diizinkan untuk membangun masjid yang besar dan tempatnya strategis,” kata dia.

Bahkan, saat masjid itu dibangun, lanjut Gus Hamid Hodir, sebagian non-Muslim juga turut menggalang dana. “Pemerintah setempat pun mengizinkan azan dikumandangkan di masjid tersebut,” ujar dia.

Sikap yang sangat positif ini kemungkinan besar didasarkan pada penerapan human rights di sana. Salah satu dari penerapan human rights adalah menyangkut tentang jaminan kebebasan beragama. Ini sejalan dengan pemikiran Gus Menag pada acara ‘Dialog Antaragama’ di Bonn, Jerman tanggal 2 Maret 2024.

Dalam sambutan tertulisnya, Gus Menag mengatakan, “For us, strengthening the culture of tolerance and maintaining an open, pluralistic society are the route that leads to nurturing democracy and ensuring human rights.” (Bagi kami, memperkuat budaya toleransi dan menjaga masyarakat yang terbuka dan majemuk merupakan jalan menuju terpeliharanya demokrasi dan terjaminnya hak asasi manusia).

Program ini tidak hanya memberikan wawasan mendalam tentang moderasi beragama, tetapi memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan para peserta dari berbagai pesantren, memperluas jaringan internasional dan memperdalam tantangan global dalam konteks keberagaman agama.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa pengalaman ini akan membantunya dalam memperjuangkan toleransi dan perdamaian di Indonesia, serta memperluas jejaring dan kolaborasi lintas-batas dalam mewujudkan visi keberagamaan yang imklusif dan harmonis.

Sahiron Syamsuddin, Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga dan Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Hikmah Yogyakarta.