Jemaah haji gelombang I asal Indonesia mulai melakukan ziarah ke beberapa tempat di Madinah. Salah satunya, di Bukit Uhud, tempat perang Uhud pada masa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di area bukit uhud, mulai Masjid syuhada Uhud, Jabal Rummah (tempat para pasukan pemanah pada perang uhud, dan makam para syuhada uhud).

Berikut beberapa panduan berkunjung ke Uhud bagi para jemaah haji asal Indonesia:

Gunakan atribut jemaah haji

Jemaah Haji asal Indonesia memiliki ciri khas husus selain seragamnya ada juga beberapa tambahan atribut dari KBIH KBIH yang ada di Indonesia. Dengan adanya atribut tersebut, teman satu rombongan bisa lebih mudah mengenali meskipun berada di tengah keramaian.

Selain atribut tersebut, para jamaah juga wajib membawa tas paspor yang biasanya dikalungkan di leher, serta ID Card yang telah diberikan dari embarkasi. Dua hal ini sangat penting sebagai tanda pengenal, khususnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama berada di Uhud, seperti tersesat dan ketinggalan rombongan. Dengan adanya ID Card, petugas juga bisa dengan mudah mengenali dan mengantarkan ke hotel jemaah.

Tidak Berjalan Sendirian

Jemaah haji disarankan untuk tidak jalan sendirian atau terpisah dari rombongan. Hal ini penting agar tidak tersesat dan terpisah dari rombongan. Selain itu, juga untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan, seperti ditipu oknum penjual dan yang lain sebagainya.

Baca Juga  Tiga Cara Melaksanakan Shalat Witir Menurut Para Ulama

Usahakan lapor ketua rombongan dan mengajak teman ketika ingin ke kamar kecil, atau keperluan lain yang mengharuskan berpisah dari rombongan. Para jamaah juga tidak disarankan untuk jalan sendirian saat mengikuti ziarah.

Tidak Berdoa dan Berdzikir dengan keras saat berziarah ke Makam Syuhada Uhud

Jemaah haji perlu sadar bahwa saat ini sedang menjadi tamu di negara lain. Seyogyanya tamu mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh tuan rumah. Sehingga, jika ada aturan tuan rumah yang mungkin berbeda dengan kebiasaan di tanah air, maka sebaiknya diikuti dan tidak melawan.

Saat kami berziarah ke makam Syuhada Uhud, penjaga makam sempat menegur beberapa orang jemaah haji asal Indonesia karena berdoa dan berzikir dengan keras.

“Ya Hajj, mamnu (tidak boleh),” tegas penjaga makam Syuhada Uhud.

Syekh Salih, salah satu penjaga makam Syuhada Uhud menyampaikan kepada kami agar berbicara kepada jemaah Indonesia terkait hal ini.

Oleh karena itu, jika ingin tetap berdoa, tawasul, atau amalan lain di makam para syahid Uhud, sebainya membaca doa atau dzikir dengan pelan atau lirih. Biasanya, jika ada jemaah yang berzikir atau berdoa dengan keras, sang penjaga makam akan menegur, bahkan tidak segan mengusir pengunjung. Oleh karena itu, sebaiknya diikuti saja aturan tersebut, karena sebenarnya kita masih bisa berdzikir dengan lirih. Jika diusir, jemaah juga yang akan rugi sendiri karena tidak bisa menyelesaikan dzkir atau doanya.

Baca Juga  3 Anjuran Nabi Saat Ingin Melaksanakan Shalat Jumat

Hindari mencorat-coret

Saat kami naik ke Jabal Rummah, terdapat beberapa coretan nama orang pada batu-batu yang ada di tempat tanggalnya gigi Rasul SAW ini. Hal ini tentu dapat merusak keindahan situs sejarah Rasul dan para sahabat yang mulia. Oleh karena itu, jika jemaah hendak mengukir kenangan di Uhud, cukuplah dengan foto bersama atau doa-doa yang dipanjatkan. Jangan pernah berfikir untuk mengukir nama pada bebatuan Jabal Rummah. Apalagi sampai disebutkan asal negaranya. Hal ini bukan hanya memalukan diri sendiri, tetapi bangsa dan negara. Naudzubillah.

“Mencoret-coret sangat dilarang, dan tidak ada manfaatnya bagi yang mencorat-coret,” terang Syeh Salih, salah satu penjaga makam Syuhada Uhud.

 

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *