Menu

Mode Gelap

Perempuan · 26 Mar 2022 12:00 WIB ·

Neurosexism dan Pengalaman Biologis Perempuan :Bisakah Dinilai sebagai Kemerdekaan Perempuan?


					Neurosexism dan Pengalaman Biologis Perempuan :Bisakah Dinilai sebagai Kemerdekaan Perempuan? Perbesar

Jalanhijrah.comPada abad ke-21 ini, kemerdekaan perempuan di Indonesia tak jarang digaungkan oleh berbagai kalangan. Mulai dari kalangan agama, feminis liberal, sampai dengan feminis pasca modern. Mereka menyuarakan kemerdekaan menurut sudut pandang mereka masingmasing. Dari segiagama misalnya, ada berbagai bentuk penafsiran baru yang adil gender dan mencoba mengangkat kemerdekaan perempuan, seperti yang disuarakan KH. Husein Muhammad, Quraisy Shihab, Faqihhudin Abdul Kodir, dan lainnya. Dari segi kemanusiaan penuh perempuan juga turut dikampanyekan misalnya dari Dr. Nur Rofi’ah Bil. Uzm., Julia Suryakusuma dan masih banyak lagi.

Namun, kemerdekaan perempuan di Indonesia ini sangat jarang menyentuh tataran neurosainsNeurosains atau lebih tepatnya neurosexism yang dipopulerkan oleh neurology Amerika pada1970-an tersebut berhasil membawa penerimaan besar oleh kalangan umum karena melingkupi kehidupan mereka. Seperti laki-laki yang pintar dengan matematika dan perempuan lebih unggul dalam bahasa. Bahwa perempuan lebih cerewet dan laki-laki suka berkompetisi. Bahwa laki-lakisulit mendengar dan perempuan tidak pandai membaca peta. Bahwa ketika laki-laki menyetir, ialebih pandai dibandingkan perempuan karena otak kanan yang cenderung dominan. Akan tetapi karena tidak seimbang maka apabila teerjadi kecelakaan, akibatnya lebih fatal.

Bahwa perempuan karena corpus callosum-nya lebih tebal, maka ia dapat menyeimbangkan otakkanan dan kiri sehingga ia pun mampu melakukan multi tasking. Hal-hal ini acap kali selaras dengan kondisi sosial pada umumnya. Sehingga akan sangat mudah diterima oleh masyarakat umum. Namun, neurosexism ini dianggap selesai karena kajian perbedaan otak laki-laki dan perempuan (neurosexism) sudah disintesis oleh ilmuan-ilmuan lain yang teorinya tidak kalah kuat. Misalnya, Chaterine Vidal seorang neurobiolog Prancis yang menentang neurosexis dengan menegaskan bahawa otak memang organ biologis, tetapi dan terutama, merupakan organ kultural yang dibentuk secara sosial. Atau Gina Rippon profesor dari Aston University yang menganggap bahwa neurosexism disebabkan karena peneliti yang hanya menampilkan data yang mendukung ide perbedaan gender.

Baca Juga  Melihat Bagaimana Website Salafi Mewacanakan Wanita Ideal Muslimah

Padahal jika ditelisik lebih dalam, menurut Larry Cahill seorang ahli saraf California, penyangkalan akan neurosexism itu sendiri akan beresiko mengabaikan perempuan dalam diskusi-diskusi sebagai akibat dari persamaan dengan laki-laki dalam hal perawatan dan jugareaksi terhadap obatobatan. Meskipun ini memang bersifat farmakologi, kedokteran, biologis, namun ternyata hal ini berlaku pula dalam agama yang mana ketika perbedaan tersebut disikapi dengan baik dalam artian tidak perlu disangkal, akan menumbuhkan suatu kemedrekaan, kemerdekaan, dan keadilan bagi perempuan utamanya.

Misalnya apabila disangkutkan dengan QS. Ar-Rum (30): 21 yang menyebutkan bahwa Allah menciptakan pasangan supaya tercapai ketentraman jiwa dengan penuh kasih dan sayang. Nah, keadaan ini dapat diwujudkan dengan cara berfikir, musyawarah, untuk kemudian saling menerima dan memahami antara satu dengan yang lain. penting untuk dipahami, bahwa pemahaman akan perbedaan biologis (fisik) dalam hal ini perbedaan otak (neurosexism) yang menyebabkan perbedaan sifat dan karakter antara laki-laki dan perempuan, bukan berarti perempuan harus direndahkan karena lebih lemah misal dalam hal ide, seni, selalu ribut, bawel, minta diperhatikan, dan lain sebagainya.

Melainkan, tentu Allah menjadikan biologis yang seperti itu adalah sebagai fitrah, supaya antaralaki-laki dan perempuan sebagai pasangan relasi yang saling ridho, menghargai, dan menghormati perbedaan tersebut. Selayaknya relasi yang sama-sama menjadi support system satu sama lain untuk mewujudkan kemaslahatan dan kemanfaatan dengan memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan di dunia ini. Hal ini tentunya juga tak lepas dari kajian Dr. NurRofiah, Bil. Uzm., yang menyuarakan keadilan berdasarkan latar belakang keadaan biologis perempuan yang berbeda jauh dengan laki laki. Yakni perempuan yang mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui yang mana kelima pengalaman ini bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Baca Juga  Melihat Nasib Keluarga yang Terkatung-katung Pasca Dibohongi ISIS

Menstruasi yang setiap bulan dirasakan oleh perempuan dikatakan hampir sama seperti serangan jantung. Hamil seorang perempuan dalam kitab suci Al-Qur’an dikatakan sakit diatas sakit atau lemah yang bertambah-tambah. Belum lagi melahirkan yang sama saja dengan bertaruh nyawa.Kondisi demikianlah yang membuat perempuan mengalami perbedaan pengalaman biologis dengan laki-laki, sehingga pengalaman ini perlu diberikan ruang yang cukup agar perempuan dapat diperlakukan dengan baik, dan memiliki kesempatan yang sama dengan laki laki, bukan justru malah dibatasi ruangnya.

Dengan demikian, perbedaan baik dari segi otak (neurosexism) dan pengalaman biologis bukan merupakan sebuah nilai inferioritas perempuan dibandingkan laki-laki. Justru ketika ada pengalaman-pengalaman yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Kemudian, menyebabkan perempuan dalam kondisi yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Maka perempuan yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan sebagai manusia sepenuhnya harus diperlakukan secara adil, meskipun harus ada kesetaraan yang berbeda dengan laki-laki.

*Penulis: Nur Khazanah (Anggota Puan Menulis)

Artikel ini telah dibaca 56 kali

Baca Lainnya

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

8 Februari 2023 - 12:00 WIB

Kisah Hijrah Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah) ra.

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

5 Februari 2023 - 14:00 WIB

Ibu dan Peran Urgennya Memberantas Radikalisme

Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masaakin

4 Februari 2023 - 10:00 WIB

Harmonisasi yang diperoleh dari toleransi atau tasamuh antar umat beragama sangat diharapkan bagi setiap bangsa di dunia termasuk Indonesia. Toleransi bukannya membebaskan seseorang melakukan sesuatu sekehendak hati, dan untuk menghindari ini, sangat diperlukan aturan dan batasan dalam menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya. Implementasi dari toleransi terdapat hal yang sangat penting tidak bisa di toleransikan, yaitu menyangkut ibadah dan akidah. Kenyataan di masyarakat sikap toleransi seringkali ditemui tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal dalam ajaran Islam mengakui adanya berbagai macam perbedaan warna kulit, suku bangsa, budaya, bahasa, adat-istiadat dan agama. Dalam hadis Ibnu Abbas dalil mengenai tasamuh ini dijelaskan “Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. ditanya, “Agama mana yang paling dicintai Allah?” Nabi menjawab, “Semangat kebenaran yang toleran (al-hanfiyyat al-samhah).” (HR. Imam Ahmad). Meski di dalam Al Qur’an secara eksplisit mengenai sikap toleransi tidak dijelaskan, namun beberapa ayat seperti surat Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan perbedaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” Adanya perbedaan dalam kehidupan manusia, tidak menjadi penghambat hubungan antara manusia dengan manusia, kecuali hubungan manusia dengan Sang Khalik Nya. Ajaran Islam mengakui perbedaan agama masing-masing dengan karateristik dan keberagamannya, kecuali menyangkut ibadah dan akidah yang telah digariskan melalui surat Al Kafirun ayat 6 yaitu Lakum Diinukum Wa Liya Diin, artinya “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” Sikap toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin, ‘tolerare’ yang artinya sabar dan menahan diri. Sementara secara terminologi, toleransi berarti sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antar sesama manusia yang bertentangan dengan diri sendiri. Ajaran Islam memperbolehkan adanya toleransi antar umat beragama tetapi toleransi terkait ibadah dan akidah terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan, anatara lain : Hendaknya setiap umat Islam selalu berbuat baik kepada sesama sepanjang tidak terkait dengan hal ibadah dan aqidah. Prinsipnya, kebaikan dan keadilan itu bersifat universal termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim karena agama dengan menekankan kebebasan dan toleransi beragama dan tidak mengusir kaum muslim dari kampung halaman, karena kaum muslim termasuk yang beriman kepada Allah SWT yang sangat mencintai umat Nya berlaku adil tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Hal ini sesuai dengan (QS. Al Mumtahanah: 8-9), yang artinya bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Berbuat baik dan adil kepada setiap agama Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang hukum meremehkan akhlak orang lain, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Saling menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari No. 2363 dan Muslim No. 2244). Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non muslim. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua. Tetap berbuat baik kepada orang tua dan saudara Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat bahwa “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari No. 5978). Boleh memberi hadiah pada non muslim Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata “Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi Muhammad SAW “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi Muhammad SAW pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari No. 2619). 7. Jangan mengorbankan agama Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425). 8. Prinsip Lakum Diinukum Wa Liya Diin Islam mengajarkan kita toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Karena Islam mengajarkan prinsip “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS. Al Kafirun: 6). 9.Tidak berhubungan dengan acara maksiat Sifat ‘ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman juga tidak menghadiri acara yang di dalamnya mengandung maksiat. Perayaan natal bukanlah maksiat biasa, karena perayaan tersebut berarti merayakan kelahiran Isa yang dianggap sebagai anak Tuhan. Sedangkan kita diperintahkan Allah Ta’ala berfirman menjauhi acara maksiat lebih-lebih acara kekufuran, “Dan orang-orang yang tidak memberikan menghadiri az zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72). Yang dimaksud menghadiri acara az zuur adalah acara yang mengandung maksiat. Jadi, jika sampai ada kyai atau keturunan kyai yang menghadiri misa natal, itu suatu musibah dan bencana. 10.. Toleransi sebatas wilayah mu’amalah Toleransi atau juga dikenal dengan istilah tasamuh adalah hal yang menjadi prinsip dalam agama islam. Dengan kata lain, islam itu menyadari dan menerima perbedaan. Namun demikian, dalam praktik toleransi islam juga memiliki kerankan atau batasan toleran itu. Toleran dalam islam dibatasi pada wilayah mu’amalah dan bukan pada wilayah ubudiah. Toleransi tidak berkenaan dengan aqidah dan ibadah Islam adalah agama yang menyadari pentingnya interaksi, maka dalam Islam hubungan dengan mereka yang non-muslim bukan hanya diperbolehkan namun juga didorong. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Ilmu adalah bagian dari mu’amalah. Maka aspek-aspek muamalah misalnya perdagangan, kehidupan sosial, industri, kesehatan, pendidikan dan lain lain, diperbolehkan dalam Islam. Dan yang dilarang adalah berkenaan dengan aqidah serta ibadah. Seyogyanya sikap toleransi saling menghargai keyakinan agama lain dengan tidak bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya antara yang hak dan yang batil. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam sebagaimana terdapat pada Iman, Islam, dam Ihsan.

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

1 Februari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Waraqah binti Al-Harits ra., Imam para Shahabiyah

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

30 Januari 2023 - 10:00 WIB

Ummu Aiman ra., Ibu Asuh Rasulullah saw. yang Pemberani

Konten Kreator Perempuan dan Peluru Perdamaiannya di Media Digital

29 Januari 2023 - 12:00 WIB

Remaja Palestina Tembak Dua Warga Israel di Yerusalem Timur
Trending di Perempuan