Jalanhijrah.com – Ramadhan memberikan ‘kehangatan’ yang khas. Di Madinah, kota tempat Nabi berhijrah dan menghabiskan masa hayatnya, kehangatan itu amat kentara dengan adanya tradisi al-tha’ma. Tradisi ini merupakan upaya masyarakat Madinah untuk saling merekatkan diri dalam kehidupan sosial.
Al-tha’ma merupakan kebiasaan tukar-menukar piring yang terus dilestarikan masyarakat kota yang dulu bernama Yatsrib itu hingga masa kini. Tentu saja bukan piring an sich yang kosongan belaka. Namun, piring itu diisi oleh mereka dengan beragam makanan siap santap.
Laporan Arab News menyebutkan bahwa berbagai macam hidangan khas Arab itu menjadi bagian pengisi piring itu, mulai dari sup, samosa, sampai sajian-sajian penutup, seperti qatayef, basboosa, atau puding sagu dipertukarkan.
Tidak hanya makanan itu, warga Madinah juga membagikan minuman yang khas Ramadhan, yakni subia. Minuman ini memang khas dibuat di bulan Ramadhan guna menghilangkan dahaga. Subia terbuat dari rempah-rempah seperti kayu manis, kapulaga, gula, hingga kismis yang sengaja guna memberikan warna merah.
Makanan lain yang disajikan di meja orang Madinah adalah foul, yaitu kacang fava yang dimasak hingga tumbuk. Ada pula tamees, roti tradisional yang dipanggang di tandoor. Sup oat, samosa daging dan keju, serta luqaimat (adonan goreng), minuman Vimto, dan kunafa juga menjadi hidangan bagi orang Saudi secara umum.
Di samping itu, kehangatan lain yang ditunjukkan warga Madinah adalah penyediaan tenda berbuka di Masjid Nabawi. Hal tersebut menjadi oase di tengah kuatnya rasa lapar dan dalamnya dahaga.
Tradisi ini bukan saja merekatkan hubungan sosial antar sesama orang Madinah. Lebih dari itu, kebiasaan unik ini juga menumbuhkan rasa persaudaraan antara sesama umat Islam. Semangat mereka dalam melakukan tradisi baik ini tentu berlipat-lipat di bulan yang penuh dengan keberkahan ini.
Masyarakat Madinah juga menyambut para pengunjung atau peziarah dengan menghias Masjid Nabawi dan menyiapkan hidangan penting. Hal ini juga mencakup ratusan ton zamzam yang disajikan menjadi belasan ribu kontainer air dingin siap minum di dalam masjid.
Selain dengan menyajikan hidangan buka bagi pengunjung Masjid Nabawi, ada juga masyarakat Madinah yang menyambut maghrib dengan mendaras Al-Qur’an di rumah masing-masing. Hal ini juga sebagai upaya mendidik keluarga supaya meneladani hal tersebut.




