Beranda / Mujadalah / Mengisahkan Pemilu dalam Potongan Puisi Bersuara

Mengisahkan Pemilu dalam Potongan Puisi Bersuara

Jalanhijrah.com – Pada awal abad XX, Sarekat Islam (SI) muncul dan tumbuh menjadi perkumpulan besar. Pemerintah kolonial sadar kekuatan bakal mengubah tanah jajahan. Sekian perkumpulan memilih bersaing dan merecoki Sarekat Islam. Sejarah pun mencatat SI pecah. Pada babak berbeda terbit PSII. Konon, kekuatan umat Islam dalam berpolitik terus menggebu saat zaman berteriak revolusi. PSII turut dalam Pemilu 1955, bersikap atas corak kekuasaan Soekarno dan bermisi memuliakan Islam.

SI mengingatkan HOS Tjokroaminoto. PSII mengingatkan Harsono Tjokroaminoto. Di buku susunan Soebagijo IN berjudul Harsono Tjokroaminoto: Mengikuti Jejak Perjuangan Ayah (1985), kita membaca masalah PSII dan Pemilu 1955: “… pemilihan umum berhasil dapat dilaksanakan dengan aman, tertib, dan selamat. Betul-betul adil dan lancar. Tidak ada tekanan-tekanan yang datang dari pihak penguasa. Rakyat merasa benar-benar dapat mempergunakan haknya dengan langsung, umum, bebas dan rahasia, tanpa adanya intimidasi dari pihak lurah, koramil atau kepala kantor.” PSII turut dalam pemajuan demokrasi.

Ingatan terpenting: “Apalagi adanya manipulasi suara, tentu segera akan dapat diketahui dan disiarkan surat kabar-surat kabar, yang tentu akan menimbulkan protes dari kontestan lainnya. Karenanya, dalam pemilu pertama itu pihak yang menang merasa bahwa suara yang masuk memilih partainya adalah suara yang diperolehnya dengan segala kejujuran, sesuai dengan peraturan yang ada. Sedangkan, sebaliknya, pihak yang kalah merasa bahwa kekalahannya merupakan kekalahan yang terhormat, bukan karena dipecundangi oleh lawan politiknya.”

Penjelasan dan kenangan itu berbeda dengan pemilu-pemilu masa Orde Baru. Beragam peraturan diadakan tapi tuduhan-tuduhan curang dan manipulasi terus terjadi. Pemilu disengat ragu. Kemenangan dan kekalahan jarang terjelaskan dengan sempurna. Pemilu-pemilu tetap diselenggarakan berkedok janji demokratisasi.

Pada 1998, rezim Orde Baru ambruk. Segala kenangan ditulis kaum intelektual dan pengarang. Sejarah disusun dalam ribuan halaman. Ingatan-ingatan dicatat tak selalu dalam garapan teks ilmiah. Teks-teks sastra pun turut mengurusi pemilu berlatar Orde Baru.

Puisi penting tapi lupa dibacakan atau disajikan sebagai kutipan bagi orang-orang meributkan Pemilu 2024. Kita membaca lagi puisi gubahan Taufiq Ismail (1998) tapi berkepentingan menguak aib dan bobrok pemilu masa Orde Baru. Puisi panjang mengandung lucu dan ironi. Kita bakal terkesima setelah khatam puisi berjudul “Kotak Suara”.

Taufiq Ismail moncer dengan suguhan rekaman 1965-1966. Pada babak sejarah 1998, ia tetap memberi puisi berhak terbaca sepanjang masa. Ia menulis: Di sebuah kerajaan dilangsungkan pemilihan/ Di sebuah pemilihan dilakukan penghitungan/ Di sebuah penghitungan berlangsung keajaiban/ Di sebuah keajaiban semua mata ditutupkan//. Ia mengerti demokrasi dan mengalami pemilu-pemilu selama Orde Baru. Pada 1998, ia memberanikan diri mengajukan kritik dan marah dari babak-babak kelam demokrasi di Indonesia. Pemilu memang diselenggarakan tapi curang-curang diterapkan tanpa malu dan jemu.

Puisi itu tak cukup kondang tapi istimewa dalam mengisahkan pemilu, terutama jumlah suara pemilih dalam raihan kemenangan di DPR. Taufiq Ismail melanjutkan: Berbagai ilmu diterapkan mentabulasinya/ Matematika, statistika dan retorika/ Berbagai aplikasi adalah bukti sofistikasi/ Komputerisasi, telekomunikasi dan stikerisasi//. Bait tampak bercanda istilah-istilah tapi mengarahkan ke pembukaan tabir misteri pemilu masa Orde Baru selalu dimenangkan Golkar.

Kita diajak tertawa ketimbang marah-marah. Puisi sengaja berselera lelucon tapi memberi hantaman atau tendangan keras atas demokrasi picisan pada masa kekuasaan Soeharto. Taufiq Ismail tak sedang melawak tapi meminta perhatian atas keajaiaban-keajaiban: Di akarnya ada angka sejuta/ naik ke batang jadi setengah juta/ terus ke ranting jadi seratus ribu/ sampai di puncak tinggal seribu saja/ Ajaib, ke mana menguap itu angka// Di akarnya ada angka seribu/ naik ke batang jadi seratus ribu/ terus ke ranting jadi setengah juta/ sampai di puncak jadi sejuta/ Ajaib, angka-angka beranaknya luar biasa//.

Dulu, model atau cara penghitungan suara terlalu meragukan meski terjadi pembenahan dan penggunaan teknologi-teknologi terbaru. Orang-orang telanjur sebal dan curiga dengan sandiwara pemilu cap Orde Baru.

Kita kembali ke masa 1950-an saja agar tak kebablasan marah. Herbert Feith dalam buku berjudul Pemilihan Umum 1955 di Indonesia (1999) memberi keterangan-keterangan penting saat Indonesia memiliki hajatan demokrasi setelah keruntuhan rezim Orde Baru. Pemilu 1999 diharapkan berbeda dengan sandiwara Orde Baru. Herbert Feith mengingatkan: “Kalau pemilu Orde Baru sering disebut pemilu semu karena hasilnya praktis sudah diketahui sebelumnya, maka Pemilu 1955 lain.” Kita menemukan pembenaran dari lakon Harsono Tjokroaminoto dalam keterlibatan dalam Pemilu 1955 melalui PSII.

Pemilu 1955 itu “eksperimen demokrasi”. Indonesia sedang menanggung seribu masalah tapi masih bergairah menegakkan demokrasi. Herbert Feith menerangkan: “Memang sedikit saja orang yang berani memperkirakan hasil pemilihan umum itu. Semua mengharapkan kejutan. Walaupun demikiran harapan-harapan mereka mengandung banyak persamaan.

Agaknya rangkaian asumsi mengenai perimbangan kekuatan partai keliru sama sekali…” Pemerolehan suara partai politik dalam kejutan-kejutan. Tata cara sederhana memungkinkan penghitungan suara tanpa kecurangan dan manipulasi. Sekian partai politik tampil sebagai pemenang tanpa keributan besar. Sekian partai politik kalah tapi mengerti lakon demokrasi.

Masa lalu itu sangat berbeda dengan Orde Baru. Kita mengetahui penjelasan dalam buku William Liddle berjudul Pemilu-Pemilu Orde Baru: Pasang Surut Kekuasaan Politik (1992). Intelektual asing itu berani mengungkapkan: “Pemilu-pemilu Orde Baru adalah pengukur yang tidak sempurna kehendak politik rakyat.

Pemilihan-pemilihan itu mencerminkan proses elektoral yang dikelola serta dikontrol sangat ketat hasil rancangan pemerintah – yang kekuasannya terutama berasal dari dukungan angkatan bersenjata – untuk memperlihatkan keabsahannya kepada rakyatnya dan dunia luar…” Pemilu itu semu. Pemilu itu wajib mendapat seribu ragu. Orde Baru berhasil mengadakan pemilu dan pemerolehan suara terbesar milik Golkar, tak bisa diganggu gugat.

Kita kembali ke puisi gubahan Taufiq Ismail. Puisi berkelakar tapi bentuk kritik pedas atas pemilu bentukan Orde Baru. Ia berbagi keseruan: Di dalam kotak suara/ Angka-angka saling bertanya asal-usul satu dan lainnya/ Mereka berselisih pendapat dan berkelahi sesamanya/ Angka-angka sikut-menyikut, pukul-memukul/ Angka-angka tampar-menampar, gebuk-menggebuk// Mereka berkelahi berhari-hari/ Kotak itu bergoyang ke kanan dan ke kiri/ Angka-angka capek, tergeletak kini//. Pada 2024, Taufiq Ismail sudah sepuh, tak ada kabar gubahan puisi baru atau melanjutkan puisi lama agar pemilu tak lagi semu.