Ada ungkapan yang sederhana tetapi sebenarnya salah makna. Misalnya, Ah lega, udah shalat. Biasanya hal ini diucapkan ketika mau istrahat ternyata masih ada kewajiban shalat. Ungkapan ini menyiratkan bahwa ibadah sebagai beban. Seolah setelah ibadah menjadi lega dan tidak ada beban lagi yang wajib dilakukan.
Apakah ibadah, semisal shalat, adalah kebutuhan Tuhan yang dibebankan kepada manusia? Apakah Tuhan butuh ibadah seorang hamba? Jika kita sudah ibadah seolah melepas beban yang diberikan Tuhan kepada kita?
Pertama harus ditegaskan anda tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah ketika menganggapnya hanya sebagai beban hidup. Anda hanya akan menjalani ibadah sebagai ritual formal untuk membebaskan tanggungan anda selama menjalani aktivitas hidup.
Ibadah hanyalah sarana. Tujuan hidup seorang hamba adalah mengabdi kepada Tuhan. Mengabdi bukan tugas, tetapi tujuan. Begitu pula, ibadah bukan tugas manusia, tetapi cara mencapai tujuan hidup. Apa makna hidup di dunia bagi manusia? Apa tujuan sebenarnya hidup di dunia?
Apakah anda cukup bahagia dengan memiliki segalanya dalam hidup. Rumah besar, perlengkap yang mewah, mobil super canggih, jabatan tinggi dan dihormati semua orang. Sudahkah itu membuatmu bahagia? Sudahkah itu sudah menjadi capaian akhir dari diri seorang manusia?
Lalu di mana kebahagiaan itu ketika dalam sekejap bisa hancur, hilang dan musnah? Jabatan hilang karena kasus korupsi, rumah, mobil dan sebagainya disita atau hancur ditelan bencana. Kesehatan menjadi semakin menurun dan tidak bisa menikmati apapun yang dimiliki. Di mana kebahagiaan berbasis material itu akan dibanggakan? Lalu apa tujuan hidupnya sudah tercapai dengan kata Bahagia?
Allah menyebutkan dalam Qs Adz-dzariyat : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Ayat ini menegaskan sesungguhnya manusia di bumi ini untuk mengagungkan Tuhan. Tujuan utama adalah menyembah kepada Tuhan.
Maka dengan tegas Tuhan mengajarkan kepada manusia : Katakanlah “ Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta”. Al-An’am : 162. Puncak kebahagian manusia adalah ketika menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Bukan hanya persoalan ibadah, tetapi hidup dan mati hanya untuk Allah.
Apakah berarti Tuhan membutuhkan ibadah kita? Tidak sama sekali. Bahkan jika semua penduduk di muka bumi ini kufur dan ingkat, hal itu tidak mempengaruhi keagungan Tuhan. Bahkan ibadah sekalipun tidak mempengaruhi keagungan Tuhan. Rukuk, sujud, zakat, daging kurban dan sebagainya, semuanya tidak mempengaruhi keridhaan Tuhan.
Jadi, ibadah itu bukan beban hidup manusia, tetapi kebutuhan hidup manusia. Ibadah adalah cara manusia berhubungan Tuhan sebagai sarana mencapai ketenangan hati, kebahagiaan hidup bersama sang Pencipta. Tujuan ibadah mendidik manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhan sedikitpun tidak pernah butuh ibadah manusia.
Ibadah itu hanya bagian kecil dari ekspresi manusia tentang pengakuannya sebagai makhluk yang terbatas kepada Yang Maha Tak Terbatas. Ibadah hanya sebagian ekspresi ketergantungan total makhluk yang banyak kekurangan kepada Sang Maha Kaya. Ibadah hanya salah satu cara kecil manusia untuk mendapatkan tempat perlindungan kepada Sang Maya Penolong.
Ibadah tertinggi adalah ketakwaan. Sikap hati dan perilaku yang merasakan ketergantungan sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika mencapai level takwa ini, sebenarnya ibadah kita sangat kecil dan belum ada apa-apanya dengan kebesaran anugerah yang telah diberikan Allah kepada dirinya. Ketika mencapai level takwa sesungguhnya ia hanya akan memandang dunia sebagai dimensi perantara untuk menuju kehidupan abadi di masa depan.










