Mengapa Dakwah Nabi Lebih Mudah Diterima Dibanding Dakwah Mereka?

Jalanhijrah.com-Dakwah merupakan aktivitas yang pernah Nabi Muhammad lakukan pada masa itu. Dakwah beliau, seperti disinggung dalam beberapa literatur, dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi kemudian dakwah secara terang-terangan.

Tahapan dakwah yang dilalui Nabi mengisyaratkan pentingnya dalam menguasai metode berdakwah yang baik. Nabi memulai dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi disebabkan beliau belum memiliki pengikut yang kuat, sehingga Nabi mengumpulkan pengikut terlebih dahulu sebelum melangkah pada dakwah secara terang-terangan.

Dimulainya dakwah secara tersembunyi ternyata membuahkan hasil yang gemilang untuk menjadikan ajaran Islam mendapat pengakuan di tengah masyarakat. Ada beberapa yang masuk Islam karena dakwah beliau, di antaranya, Siti Khodijah, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan masih banyak yang lainnya.

Begitu pengikut Nabi bertambah banyak, Nabi mulai berdakwah secara terang-terangan. Nabi masuk kota Mekkah di mana di sana masyarakat dalam keadaan jahiliyah. Mereka sangat mahir dalam disiplin pengetahuan, termasuk dalam bidang sastra Arab. Tapi, mereka masih jahiliyyah alias belum mendapatkan cahaya hidayah. Mereka masih menuhankan tuhan selain Allah.

Kali pertama berdakwah di Mekkah, Nabi belum berhasil. Banyak penolakan masyarakat yang harus Nabi terima, bahkan sampai beliau direndahkan martabatnya. Meski begitu, Nabi tetap tegar dan tidak pernah kecil hati. Karena, Nabi tahu bahwa masyarakat Mekkah berbuat begitu karena belum tahu. Seandainya mereka tahu orang yang mereka hadapi adalah utusan Allah, niscaya mereka akan tunduk dan berserah diri.

Baca Juga  Menyoal HAM, Islam, Prinsip Keadilan dan Kebebasan Beragama

Penolakan keras masyarakat Mekkah membuat Nabi berpikir untuk hijrah ke Madinah. Sebenarnya Nabi sangat berat meninggalkan tanah kelahirannya itu. Pahit yang dirasakan tetapi tetapi beliau telan, karena beliau yakin suatu saat nanti manisnya bersabar akan jauh lebih terasa daripada pahitnya meninggalkan tanah air.

Tak dikira, sesampainya di Madinah Nabi mendapat sambutan yang cukup menggembirakan. Masyarakat Madinah atau yang lebih akrab disebut “kaum Anshar” sangat menerima kedatangan beliau. Di tempat inilah Nabi berdakwah disertai berpikir mencari metode yang baik untuk mengetuk hati masyarakat Mekkah.

Metode dakwah bakal dipakai untuk menghadapi masyarakat Mekkah disebutkan dalam surah an-Nahl ayat 125: Berdakwahlah atau ajaklah ke jalan Allah dengan hikmah, tutur kata yang indah, dan diskusi yang paling baik. Ath-Thabary menyebutkan, bahwa hikmah adalah wahyu Allah atau Al-Qur’an.

Tiga metode dakwah yang digunakan oleh Nabi pada ayat tersebut, meliputi: Pertama, hikmah atau Al-Qur’an dalam pandangan ath-Thabary melambangkan ilmu pengetahuan. Maksudnya, pendakwah hendaknya memiliki bekal ilmu yang dapat disampaikan kepada pendengarnya. Nabi telah dibekali ilmu lewat wahyu Al-Qur’an yang diterimanya.

Pentingnya peran ilmu dalam berdakwah adalah untuk mengontrol si pendakwah dari kesesatan berpikir. Sebut saja, kesesatan dalam memahami term jihad sebatas perang melawan orang yang tidak sepemikiran dan sekeyakinan, apalagi sampai memahami jihad dengan aksi-aksi terorisme; dan kesesatan memahami term hijrah dengan berangkat ke Suriah dan memilih bergabung dengan organisasi teroris internasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Baca Juga  Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Lautan Ilmu dari Madinah

Kedua, tutur kata yang lembah lembut. Nabi tidak pernah mencela kepercayaan umatnya, meski itu jelas-jelas berseberangan dengan kepercayaan beliau. Hal ini membuktikan, bahwa Nabi berdakwah dengan lemah lembut. Berbeda dengan dakwah beberapa ustadz di era sekarang yang sedikit-sedikit menyesatkan orang lain sepemikiran dan sekeyakinan. Bukan hanya itu, mereka dikafirkan.

Padahal, Nabi sangat melarang mencela, apalagi mengkafirkan orang lain. Perbuatan mencela ini akan berpotensi negatif, yaitu timbulnya perbuatan yang serupa terhadap si pendakwah. Begitu pula, mengkafirkan orang lain sangat dilarang dalam Islam. Karena, orang yang mengkafirkan orang lain, sementara ia tidak kafir, maka si pengucap yang kafir sendiri.

Ketiga, melakukan diskusi dengan cara yang paling baik. Metode yang ketiga ini penting dilakukan bilamana dua metode sebelumnya belum membuahkan hasil. Diskusi ini penting dilakukan untuk mempertemukan dua pendapat yang berbeda. Di situ si pendakwah dan si pendengar akan saling mendapatkan titik temu yang dapat diterima satu sama lain.

Dengan tiga metode dakwah tersebut menjadi bukti dakwah Nabi lebih mudah diterima di tengah-tengah masyarakat. Pendakwah hendaknya meniru Nabi dalam berdakwah. Nabi adalah teladan yang paling baik. Dengan meniru Nabi, pendakwah akan selamat dari beberapa hal yang dilarang dalam Islam, meliputi: ujaran kebencian (hate-speech), kafir-mengkafirkan, dan aksi-aksi terorisme.[] Shallallah ala Muhammad.

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *