Menu

Mode Gelap

Milenial · 18 Mar 2023 12:00 WIB ·

Memoar Giri Kedaton: Kerajaan Para Ulama di Pulau Jawa


					Memoar Giri Kedaton: Kerajaan Para Ulama di Pulau Jawa Perbesar

Jalanhijrah.com-Giri Kedaton adalah salah satu kerajaan yang unik di pulau jawa. Pasalnya, tidak hanya sebagai kerajaan namun juga pusat pendidikan Islam atau pesantren. Sebuah kerajaan para ulama dengan tujuan menyebarkan ajaran agama Islam di pulau jawa dengan strategi politik.

Istana tersebut dinamakan Giri Kedaton karena didirikan di daerah Giri oleh salah satu Walisongo, yaitu Raden Paku (Sunan Giri). Kedaton berasal dari kata Datu yang berarti raja, yang diberi imbuhan menjadi Ke-daton dan berubah makna menjadi tempat raja.

Raden Paku adalah putra dari Dewi Sekardadu yang merupakan putri semata wayang dari Prabu Menak Sembuyu dari kerajaan Blambangan (sebuah kerajaan yang ada di Banyuwangi), sedangkan ayahnya adalah Maulana Ishaq seorang ulama dari Jeddah yang pada abad ke 15 bermukim di Malaka atau Pasai.

Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardadu lantaran ia berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu yang terkena wabah pagebluk. Namun setelah itu, keberadaan Maulana Ishaq kurang disukai di Kerajaan Blambangan lantaran ia berbeda keyakinan. Setelah kelahiran Raden Paku pada tahun 1442 M, menjadikan para patih Blambangan iri karena urung menikahi Dewi Sekardadu.

Masa Kecil Raden Paku

Singkat cerita, Raden Paku pada saat masih bayi dibuang oleh kakeknya, Prabu Menak Sembuy. Sebab ia adalah anak yang dipercaya sebagai ancaman bagi kakeknya dan para petinggi kerajaan Blambangan, karena ayahnya berhasil menyebarkan Islam di Blambangan. Maulana Ishaq pun akhirnya pergi dari kerajaan Blambangan dan pulang ke Pasai untuk melanjutkan dakwahnya.

Dalam Buku Serat Centhini Latin I, disebutkan bahwa penghanyutannya di Selat Bali hingga tiba di Pelabuhan Gresik kemduian ditemukan oleh saudagar perempuan yang bernama Nyi Ageng Pinatih atau Nyai Samboja. Dari peristiwa itulah, ibu angkatnya ini memberikan nama Jokok Samudro. Pada usianya yang ke 12 tahun, Nyi Ageng Pinatih membawanya ke Pesantren Ampel Denta milik Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya.

Baca Juga  Guru PAI Menangkal Radikalisme di Lingkup Pendidikan, Wajib!

Nyi Ageng Pinatih menceritakan yang sebenarnya kepada Sunan Ampel dan memperlihatkan peti tempat Raden Paku dibuang. Sunan Ampel langsung mengetahui bahwa ciri-ciri peti tersebut mirip dengan peti milik raja Blambangan dan ia yakin bahwa anak tersebut merupakan sepupunya yang tak lain adalah putra dari Maulana Ishaq. Sebab ia sempat menerima kabar bahwa putra pamannya dibuang ke laut oleh mertuanya. Kemudian Sunan Ampel memberitahu kepada Maulana Ishaq.

Raden Paku kecil adalah sosok santri yang cerdas dengan sorotan mata yang meyakinkan. Oleh karena itu, Sunan Ampel memberi nama Muhammad Ainul Yaqin. Kecerdasan yang memancar itu menghadirkan kekuatan makrifat dalam pribadi Sunan Giri. Ia belajar di Ampel Denta bersama dengan putra Sunan Ampel, yaitu Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

***

Disebutkan dalam buku Nyarkub: Menyulam Silam karya M. lutfi Ghozali, terdapat sebuah kisah dimana Sunan Giri menghadap Sunan Ampel untuk memohon izin menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Sunan Ampel memintanya untuk menemui ayahnya atau Maulana Ishaq terlebih dahulu di Pasai.

Selama berbulan-bulan Raden Paku belajar ilmu agama di Pasai dengan ayahnya. Sang ayahpun  memerintahkan Raden Paku untuk mendirikan pesantren dan tak lupa untuk memberitahu cara menentukan tempat yang strategis yang kelak dalam jangka panjang akan menjadi istananya. Raden Paku dibekali segenggam tanah untuk mencari tanah yang serupa dengan tanah dari Pasai tersebut.

Setelah mendapat perintah untuk mendirikan pesantren, Raden Paku kembali ke Gresik ditemani dua orang utusan ayahnya, yaitu Syekh Grigis dan Syekh Koja. Mereka menemui Sunan Ampel untuk membicarakan perihal segenggam tanah tersebut.

Raden Paku melakukan napak tilas menyusuri tebing dan mendaki gunung. Hingga akhirnya ia menemukannya di tahun 1481 M di sebuah wilayah bernama Giri yang mana masih termasuk dalam wilayah otonom kerajaaan Majapahit.

Baca Juga  Satgas BNPT Akan Gunakan “Smart Approach” untuk Selesaikan Terorisme

Mendirikan Pesantren Giri dan Penyematan Gelar Sunan Giri

Pada saat itu, Majapahit sedang dalam masa kegelapan dengan melepas satu-persatu negeri taklukannya. Dengan mendirikan pesantren Giri maka ia disebut Sunan Giri.

Sebagai seorang ulama, Ia juga menuliskan buku yang mengangkat enam puluh persoalan agama yang berjudul Sittina. Tidak hanya itu, dia juga membuat beberapa tembang dolanan untuk mengenalkan nilai-nilai Islam. Sunan Giri juga dikenal sebagai Mursyid Tarekat Syatariyah, yang mana sanadnya terhubung dari Syekh Maulana Ishaq atau ayahnya hingga Rasulullah Saw.

Bentuk Giri Kedaton layaknya sebuah bukit yang dibuat berundak-undak dengan bagian atas yang semakin mengecil. Bangunan tersebut bertingkat tujuh dan disebut Tundha Pitu lengkap dengan taman air (taman sari) yang indah.

Sunan Giri beserta santrinya membangun beberapa infrastruktur, salah satu di antaranya adalah sebuah telaga. Pada saat itu, wilayah Giri sedang mengalami krisis air. Oleh karena itu, Sunan Giri beserta santrinya membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Pegat. Sebab keberadaannya memisahkan dua buah bukit, yaitu Bukit Bagung dan Patriman.

Tidak hanya itu, pada saat yang sama Sunan Giri juga menggali mata air yang letaknya agak jauh dari pesantren Giri dan berada di sebuah desa yang bernama Desa Suci.

Dalam hal ini, Sunan Giri tidak hanya mengajarkan teori saja kepada santrinya namun mengajarkan bakti sosial agar keberadaan para santri bisa dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat sekitar.

Sejak saat itu, keberadaan pesantren Giri membuat wilayah Giri mengalami perkembangan yang pesat. Pesantren Giri juga telah mengungguli pesantren Ampeldenta. Sejak saat itu, Sunan Giri memiliki kemampuan untuk memutus keotoriteran dan feodalisme Majapahit dengan membentuk kerajaan, dengan kata lain melalui kekuatan politik.

Pusat Kekuatan Politik

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Abdullah Hafidz dalam penelitiannya (2021), bahwa Giri Kedaton mulanya adalah sebuah tempat belajar agama yang kemudian mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat sehingga dapat dijadikan pusat kekuatan politik.

Baca Juga  Meninjau Tensi Politik “Terpanas” Pertama dalam Sejarah Peradaban Islam

Hingga pada tahun 1470 M, didirikannya pusat pemerintahan Giri Kedaton yang dipimpin langsung oleh Sunan Giri berkat dukungan dan dorongan dari pembesar Jawa Dwipa yang tidak bisa ditolak. Beliau resmi dikukuhkan sebagai raja Giri Kedaton dengan gelar Kanjeng Sunan Prabu Satmata pada 12 Rabiul Awal 894H atau 9 Maret 1487 M. Sunan Giri sebagai raja sekaligus ulama dalam bahasa Jawa disebut Pandito Ratu.

Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Majapahit, maka kerajaan Giri semakin menujukkan kejayaannya. Giri Kedaton tetap eksis sepanjang pemerintahan Sunan Giri yang wafat pada 1506. Hingga pemerintahan ini dilanjutkan secara turun temurun kepada Sunan Dalem, Sunan Seda ing Margi, Sunan Prepen, Sunan Kawis Guwa, Panembahan Ageng Giri, Panembahan Mas Witana, hingga Pangeran Puspa Ita.

Kerajaan ini mengalami puncak kejayaan di masa pemerintahan Sunan Prapen (1548-1605). Dimana pada saat itu, Giri Kedaton menjadi pusat dakwah Islam yang sangat menonjol di Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan para santri yang diasuh Sunan Prapen banyak yang menjadi imam besar. Mereka tersebar di Nusantara dan wilayah Giri menjadi makmur dibawah kekuasaannya.

Keruntuhan Giri Kedaton

Hingga pada masa Sunan Prapen wafat pada 1605 dan digantikan oleh Sunan Kawis Guwa. Sejak itulah Giri Kedaton mulai menampakkan sinyal-sinyal keruntuhannya. Dimulai dengan mendapat serangan dari Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung yang ingin memperluas wilayahnya. Terlebih saat Giri Kedaton terlibat dalam pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram, kehancuran telah menunggunya.

Meskipun Giri Kedaton sudah tiada, namun tradisi yang dilahirkan masih tetap terjaga hingga sekarang. Tradisi itu di antaranya; Rebo Wekasan, Malem Selawe, Damar Kurung, Kolak Ayam dan lain sebagainya.

Hilda Rizqy Elzahra

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Tantangan dan Solusi Menangkal Radikalisme di Indonesia

31 Maret 2023 - 15:00 WIB

Tantangan dan Solusi Menangkal Radikalisme di Indonesia

Gagalnya U-20 di NKRI: Bukti Kedaulatan atau Menangnya Radikalisme?

31 Maret 2023 - 12:21 WIB

Gagalnya U-20 di NKRI: Bukti Kedaulatan atau Menangnya Radikalisme?

Menelaah Keislaman Bangsa Indonesia Menjelang Tahun Pemilu

30 Maret 2023 - 12:00 WIB

Menelaah Keislaman Bangsa Indonesia Menjelang Tahun Pemilu

Ketika Nafsu Tegakkan Khilafah Menghilangkan Pahala Puasa

29 Maret 2023 - 15:00 WIB

Ketika Nafsu Tegakkan Khilafah Menghilangkan Pahala Puasa

Kelas Menengah Muslim dan Kebangkitan Simbol Islam Indonesia

29 Maret 2023 - 10:00 WIB

Kelas Menengah Muslim dan Kebangkitan Simbol Islam Indonesia

Mengantisipasi Partai Teroris, Mencegah Ancaman untuk NKRI

28 Maret 2023 - 15:00 WIB

Mengantisipasi Partai Teroris, Mencegah Ancaman untuk NKRI
Trending di Milenial