Jalanhijrah.com-Hari Raya Iduladha kita kenal dengan Hari Kurban. Pada hari besar Islam ini, umat muslim berbondong-bondong mempersembahkan kurban sesuai kemampuan. Pada hari raya ini, menjadi pemandangan yang lumrah daging bertebaran di mana-mana. Tepat pada Hari Raya Iduladha sampai minimal tiga hari setelahnya daging masih tersedia, dalam artian stoknya masih banyak. Tiga hari setelah Iduladha pun menjadi hari yang terlarang berpuasa. Hari tersebut dinamakan Hari Tasyrik. Pelarangan ini berdasarkan hadis dari Aisyah dan Ibnu Umar Ra. dia berkata: “Tidak diizinkan untuk berpuasa pada hari-hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban.” (H.R. Bukhari). Di hadis lain yang riwayat Muslim, dari Nubaisyah al-Hudzali ra. dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum serta dzikrullah.”
Ibadah kurban pertama kali disyariatkan pada masa Nabi Ibrahim As. Di mana yang menjadi kurban saat itu adalah Nabi Ismail dan kemudian Allah Swt. ganti dengan seekor domba. Walau pertama disyariatkan pada masa Nabi Ibrahim, sesungguhnya ibadah kurban telah dilakukan pada masa Nabi Adam As. Di mana diceritakan Habil dan Qabil mempersembahkan kurban di atas gunung dengan persembahan kurban terbaik dari hasil usahanya. Namun, yang diterima adalah kurban dari Habil disebabkan yang ikhlas memberikan kurban adalah Habil dengan pemilihan hasil tanaman dan buah-buahannya yang terbaik. Di sini bisa dilihat pula bahwa persembahan kurban haruslah ikhlas sehingga bisa diterima di sisi Allah Swt.
Yang menarik untuk dibahas pula adalah proses kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Perintah kurban datang melalui mimpinya. Di dalam mimpi tersebut dia mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Sebagai seorang nabi, tentu mimpi mereka bukanlah hanya sebagai bunga tidur belaka, melainkan punya maksud dan tujuan tertentu, juga itu sebagai wahyu dari Allah swt. Setelah mendapatkan perintah ini, Nabi Ibrahim mengomunikasikan dengan putranya Ismail, apa pendapatnya mengenai perintah tersebut. Nabi Ismail kemudian membenarkan mimpi tersebut dan dengan penuh kerelaan hati menyuruh ayahnya untuk segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Percakapan ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah as-Shaffat ayat 102:
“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Kerelaan Nabi Ismail untuk disembelih menjadi menarik untuk dibahas. Mengapa bukan penolakan ataupun alasan bahwa mimpi tersebut barangkali datang dari bisikan Iblis jikalau saja Nabi Ismail ingin mempertahankan egonya. Bagaimana mungkin dengan sekejap dan terasa mudah saja kalimat persetujuan keluar dari lisannya padahal yang dikabarkan adalah perintah untuk menyembelih dirinya, yang berarti nyawanya akan melayang tentu dia akan berpisah dengan ibu dan ayahnya.
Seorang anak remaja yang baru saja disatukan kembali bersama dengan ayahnya setelah ditinggal hanya berdua dengan ibundanya di padang pasir tak berpenghuni sejak ia baru dilahirkan, bagaimana mungkin semudah itu memberikan persetujuan? Bisa saja ia akan mengiba kepada ayahnya dengan mengatakan “Ayah, bagaimana munkin ayah rela menyembelih saya anakmu yang baru saja dipersatukan kembali denganmu setelah sekian lama kita berpisah?”.
Atau sebaliknya Nabi Ibrahim sendiri sosok ayah yang telah diuji sejak pertama kelahiran Ismail harus rela berpisah dengan anak yang diimpikan sekian lama, ditinggalkan di padang pasir tandus nan sepi. Namun, tiba saatnya bersatu kembali, dia harus mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya. Hati bapak mana yang rela dengan ikhlas untuk menyembelih anaknya sendiri. Mungkin pula sang istri, Siti Sarah akan memberikan protes kepada Ibrahim, mengapa anaknya harus disembelih, setelah dulu mereka ditinggalkan kini harus disembelih lagi. Ibu mana yang akan tega melihat anaknya disembelih, merelakan kepergiannya untuk selamanya setelah dulu ia berusaha seorang diri menghidupi anaknya di tengah padang pasir yang kering keronta itu.
Namun, hebatnya tidak semua dari pihak ayah, anak maupun ibu memberikan respon demikian. Mengapa ini bisa terjadi? Penulis menyoroti satu sisi yakni, didikan keluarga yang mencintai Allah. Keluarga yang tumbuh dalam aliran darahnya pengagungan kepada Allah. Tiada yang didahulukan kecuali taat kepada Allah. Satu sama lain saling mendukung untuk bertakwa kepada Allah. Menyepikan dan menyisihkan ego pribadi, kesenangan diri, hanya untuk memenuhi seruan Ilahi, taat dalam keadaan rela maupun berat, sempit maupun lapang.
Ismail adalah anak dari seorang ibu yang ketika Ismail masih bayi telah ditinggalkan di padang pasir, asing hanya berteman anaknya. Suasana liar padang pasir membuatnya ketakutan. Pertanyaan dilontarkan kepada sang suami, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” “Ya” Jawab Ibrahim. “Kalau begitu, sungguh Dia tidak akan menelantarkan kami”. Sikap ibu yang sangat yakin kepada Allah, taat dan patuh pada perintah Allah, maka bukanlah suatu yang mengherankan ketika Nabi Ismail, anaknya, melakukan hal demikian pula ketika mendapatkan berita dari Allah bahwa ia akan disembelih. Ia telah dibesarkan dari tangan seorang ibu yang patuh dan taat kepada Allah, dari seorang nabi yang digelari kekasih Allah. Nabi Ibrahim yang mendapatkan julukan kekasih Allah pun disebabkan karena ia yang lebih mengutamakan perintah Allah dari pada perintah selain-Nya.
Hal ini menjadi pelajaran, betapa keluarga yang dibangun dalam nuansa cinta kepada Allah akan membantu kita taat kepada Allah. Perintah Allah akan mudah dilaksanakan karena mendapat dukungan dari keluarga yang telah tertanam cinta kepada Allah dalam dirinya. Tiada rasa keberatan di dalam diri-diri mereka jikalau itu berkenaan dengan Allah. Tiada kesungkanan, atau merasa bersalah karena menemukan sikap keluarga yang memberikan respon yang tambah memberatkan untuk melaksanakan perintah.
Selayaknya, sikap ini yang dapat kita contoh dalam kehidupan. Mulai dari membangun keluarga sejak awal, memilih pendamping yang taat kepada Allah, hingga bisa melahirkan anak-anak yang taat pula kepada Allah. Mendidik dan membina keluarga dalam mahligai cinta kasih karena Allah. Menanamkan ruh-ruh keberimanan sejak kecil dan mendoakan menjadi keluarga yang melaksanakan syari’at Allah. Seperti do’a nabi Ibrahim untuk keturunannya yang tertera dalam QS. Ibrahim ayat 40, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”.
Inilah salah satu nilai dari pelaksanaan perintah kurban. Kurban yang mengandung nilai pengorbanan yang tiada berkesudahan jika itu titah dari Tuhan. Proses dari suatu perintah menjadi menarik untuk diperhatikan guna mengambil hikmah dan manfaat di dalamnya. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.






