Menu

Mode Gelap

Fikih Harian · 2 Jul 2022 09:00 WIB ·

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah


					Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah Perbesar

Jalanhijrah.com-Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menetapkan bahwa awal bulan Zulhijah 1433 H jatuh pada tanggal 1 Juli 2022. Itu artinya hari raya Idul Adha akan jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Perlu diketahui bahwa bulan Zulhijah adalah bulan yang sangat istimewa, karena dalam bulan ini terdapat ibadah utama seperti haji, puasa dan hari raya Idul Adha. Namun demikian 10 hari pertama bulan Zulhijah ini juga memiliki keutamaan yang luar biasa. Dan berikut keutamaan 10 Hari Bulan Zulhijah.

Diantara salah satu tanda keutamaan 10 hari pertama bulan Zulhijah adalah dijadikan sumpah oleh Allah dalam Al-Quran. Allah berfirman

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ  وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Artinya: “Demi waktu fajar. Demi sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Demi hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan demi hari raya Qurban” (QS al-Fajr: 1-3)

Nabi Muhamad sendiri dalam hadisnya menyebutkan bahwa beribadah di 10 hari pertama bulan Zulhijah ini memiliki keistimewaan. Diantara pahalanya lebih utama daripada jihad. Nabi Muhammad bersabda

مَا مِنْ أيّامٍ الْعَمَلُ الصّالِحُ فيهَا أحَبُّ إلَى الله مِنْ هَذِهِ الأيّامِ يَعْني أيّامَ الْعَشْرِ قالُوا: يَا رَسُولَ الله وَلاَ الْجِهَادُ في سَبِيلِ الله؟ قالَ وَلاَ الْجِهَادُ في سَبِيلِ الله إلاّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ (رواه البخاري وأحمد والترمذي وأبو دود وابن ماجه

Artinya: “Tidak ada hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama daripada jihad di jalan Allah?”. Rasulullah menjawab. “Termasuk lebih utama dibandingkan jihad di jalan Allah kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan sesuatu apapun dari jiwa dan hartanya karena ia mati syahid di medan jihad” [HR. Bukhari]

Baca Juga  Bolehkah Sholat Tahajud Dengan Rakaat Dua Kali Jumlah Anak?

10 hari pertama bulan Zulhijah ini memiliki banyak kemuliaan, yuk perbanyak ibadah dengan membaca Al-Quran, puasa, sedekah, haji dan umrah dan ibadah lainnya di waktu ini. Wallahu A’lam Bishowab

Penulis:Ahmad Khalwani

Penikmat Kajian keislaman
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Baca Lainnya

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

9 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Pentingnya Menjaga Akidah Saat Terjadi Gerhana

Hukum Mencium Tangan Penguasa dan Orang Alim, Bolehkah?

8 Agustus 2022 - 15:00 WIB

Harakatuna.com – Salah satu hal yang biasa dilihat adalah banyaknya masyarakat yang mencium tangan orang alim atau penguasa saat bertemu. Hal ini telah menjadi kewajaran, namun demikian apakah mencium tangan orang alim dan atau penguasa ini diperbolehkan dalam Islam? Islam sebagai agama yang kaffah tentu telah mengatur hal apapun secara detail termasuk hukum mencium tangan orang Alim. Dan berikut hukum mencium tangan orang Alim. Dalam hadis Nabi ditemukan beberapa riwayat tentang sahabat yang mencium tangan Rasulullah عَنْ زَارِعٍ وَكَانَ فِيْ وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِيْنَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَهُ – رَوَاهُ أبُوْ دَاوُد Artinya: “Dari Zari’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata, Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi SAW. (HR Abu Dawud). وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ ” قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده BACA JUGA Berdoa Ibarat Mengetuk Pintu, Ikut Campur Setelahnya adalah Hal yang Melampaui Batas Artinya: “Hadits Usamah bin Syuraik, ia berkata: Kami berdiri ke arah Nabi, lalu kami cium tangan beliau” Dari hadis ini menjadi jelas bahwa mencium tangan orang alim atau penguasa itu diperbolehkan. Terkait hadis ini, Syekh Al-Hashkafi menerangkan bahwa mencium tangan orang alim dan penguasa yang adil itu diperbolehkan وَلَا بَأْسَ بِتَقْبِيلِ يَدِ الرَّجُلِ الْعَالِمِ) وَالْمُتَوَرِّعِ عَلَى سَبِيلِ التَّبَرُّكِ، (والسُّلْطَانِ الْعَادِلِ). Artinya: “Dan tidak apa-apa mencium tangan orang alim dan orang wara’ untuk tujuan mendapatkan keberkahan. Begitu pula kepada penguasa yang adil.” Imam Nawawi sendiri bahkan memberikan hukum sunah mencium tangan orang Alim وَأَمَّا تَقْبِيْلُ الْيَدِ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُوْرِ الدِّيْنِيَّةِ، فَمُسْتَحَبٌّ Artinya: “Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan pemilik tangan dan kebaikannya, atau karena ilmunya, kemuliaannya, keterjagaannya, dan sebagainya; berupa urusan-urusan agama, maka disunahkan” Demikian hukum mencium tangan orang alim dan penguasa, Wallahu A’lam Bisowab

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

7 Agustus 2022 - 13:00 WIB

Ini 6 Amal Ibadah Utama di Hari Asyura

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

6 Agustus 2022 - 10:00 WIB

Benarkah Nikah Beda Agama Sebagai Ungkapan Toleransi?

Menggunakan Kaos Kaki Saat Shalat, Sahkan Shalatnya?

3 Agustus 2022 - 12:40 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir

2 Agustus 2022 - 12:00 WIB

Hukum Azan Di Telinga Bayi Yang Baru Lahir
Trending di Fikih Harian