KBGO terhadap Host Kinderflix

Jalanhijrah.com-Akhir-akhir ini tisu abis terus.”, “Pengen crt sama Kak N.” Miris! Alih-alih menjadi ruang edukasi untuk balita, akun Kinderflix justru dihujani komentar yang kurang pantas.

Belum lama ini, akun edukasi anak Kinderflix yang tayang di platform Tiktok dan YouTube menjadi topik hangat di dunia maya. Pasalya, tujuan daripada konten tersebut disajikan untuk memberikan pembelajaran yang interaktif dan aman bagi anak usia dini.

Namun, tak ada angin tak ada hujan, mucul komentar-komentar tidak pantas yang menjurus kepada pelecehan seksual di balik citra kebaikan konten tersebut.

Mitos Perlindungan Seksual Melalui Pakaian

Pakaian sering dianggap sebagai faktor pertahanan utama dalam melawan pelecehan seksual. Tradisi lama mengajarkan bahwa pakaian yang menutup aurat adalah benteng pertahanan terhadap pelecehan seksual. Namun, melalui kritik yang mendalam, kita dapat melihat keterbatasan pemikiran ini.

Anggapan menggunakan pakaian yang menutup aurat sebagai langkah perlindungan terhadap pelecehan seksual tampaknya tidak sepenuhnya benar. Hal ini dapat kita lihat dalam konteks pelecehan seksual di platform edukasi anak seperti Kinderflix.

Dengan adanya isu tersebut, argumen bahwa pakaian menutup aurat tidak menjamin keamanan menjadi semakin nyata. Hal ini membuktikan bahwa pandangan yang mengaitkan keamanan dengan pakaian tertentu adalah mitos.

Feminis dan aktivis perempuan secara tegas mengkritik pandangan tersebut. Meletakkan beban keamanan pada korban hanya memperkuat stigma dan tidak membawa perubahan yang signifikan dalam mengatasi pelecehan seksual.

Pemilihan pakaian seharusnya bukanlah satu-satunya fokus, tetapi perlunya perubahan budaya dan penanganan akar masalah seharusnya menjadi skala prioritas. Dampaknya, perempuan dapat merasa aman dan dihormati tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Baca Juga  Reuni 212 Tidak Menggigit dan Malu-Maluin

Lebih jauh lagi, kita perlu melihat pakaian sebagai hak dan kemandirian individu, terutama perempuan. Hak untuk memilih pakaian yang sesuai dengan keyakinan dan kenyamanan adalah aspek penting dari kebebasan berekspresi. Mengekang kebebasan ini dengan menekankan pakaian sebagai satu-satunya tameng melawan pelecehan seksual dapat merugikan dan merendahkan kaum perempuan tentunya.

Oleh karena itu, kita perlu menggeser fokus dari anggapan pakaian sebagai penentu utama keamanan, menuju pembentukan budaya yang menghormati hak-hak individu tanpa menyalahkan korban.

Pelecehan Seksual Online

Pelecehan seksual merupakan suatu realitas yang menyerang integritas individu dan memunculkan dampak yang mendalam, terutama jika terjadi secara sistematis. Fenomena ini tidak terbatas pada satu kelompok atau lapisan masyarakat; sebaliknya, pelecehan seksual dapat terjadi di berbagai lapisan kehidupan dan memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk.

Berdasarkan buku “Psikologi Keselamatan Kerja” karya Tulus Winarsunu, pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku yang berkonotasi seksual dan dilakukan secara sepihak serta tidak dikehendaki oleh korbannya. Kategori dari pelecehan seksual ini dapat berupa ucapan, tulisan, simbol, isyarat, dan tindakan yang berkonotasi seksual.

Dunia maya, sebagai arena interaksi global, memberikan panggung yang begitu kompleks termasuk pelecehan seksual berbasis online. Tindakan yang tidak terpuji tersebut diklasifikasikan sebagai kekerasan gender berbasis online (KGBO).

Merujuk pada data tahun 2022 oleh Komnas Perempuan, kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan paling banyak terjadi dalam ranah siber, mencapai angka 869 kasus. Selanjutnya, terdapat 136 kasus kekerasan yang terjadi di tempat tinggal dan 115 kasus di tempat kerja.

Data ini menyoroti prevalensi kekerasan terhadap perempuan di dunia maya dan menunjukkan urgensi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh perempuan dalam lingkungan daring.

Baca Juga  Ummul Khair binti Al-Huraisy, Pemilik Kata Indah yang Berani

Melihat lebih dekat, komentar warganet yang ditujukan kepada host perempuan Kinderflix seperti “Pengen crt sama Kak N.” dapat menggiring opini yang berkonotasi seksual. Pola perilaku yang meresahkan dan bahasa yang merendahkan menjadi fokus, mengungkap bagaimana komentar tersebut bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan ekspresi kekerasan verbal yang dapat merusak psikologis seseorang.

Stres, kecemasan, dan depresi muncul sebagai konsekuensi yang seringkali diabaikan dari tindakan tersebut.

Dampak Pelecehan Seksual Online

Dalam menjelajahi dampak pelecehan seksual berbasis online, kita harus merentangkan pandangan kedua dimensi kritis: dampak terhadap korban secara pribadi dan dampaknya pada persepsi masyarakat. Adapun dampak dari pelecehan seksual ini tak hanya menyerang fisik saja, tetapi psikologis pun turut andil menjadi dampak dari fenomena ini.

Pelecehan seksual secara online dapat menciptakan perubahan dramatis dalam citra diri korban. Host perempuan yang menjadi target serangan cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, meragukan nilai diri, bahkan mengalami perubahan dalam cara mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Parahnya, dampak ini tidak hanya terbatas pada dunia maya saja, melainkan mampu merusak kesejahteraan mental secara menyeluruh.

Korban seringkali mengalami stres yang konstan, kecemasan, bahkan depresi sebagai akibat dari pelecehan ini. Gangguan tidur, peningkatan ketegangan, dan perasaan isolasi dapat merajalela. Dampak tersebut menciptakan tantangan yang mendalam bagi kesejahteraan psikologis mereka.

Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang dampak ini penting untuk membangun dukungan yang sesuai sehingga mampu memfasilitasi pemulihan korban.

Tidak berhenti sampai disitu, pelecehan seksual berbasis online juga memiliki dampak besar pada persepsi masyarakat. Serangkaian pelecehan ini dapat menciptakan stereotip negatif terhadap korban. Terkadang, korban dihadapkan pada tuduhan atau merasa dituduh secara tidak adil sehingga menciptakan lingkungan dimana para korban enggan melaporkan atau mencari dukungan.

Baca Juga  Saudah binti Zam’ah; Ummul Mukminin yang Humoris

Tanggapan dan Tindakan Pencegahan

Menghadapi realitas kejam pelecehan seksual berbasis online, perlu adanya tanggapan serta tindakan pencegahan yang berkelanjutan. Platform online, sebagai wadah utama interaksi, memiliki peran sentral dalam menanggapi pelecehan seksual.

Mereka harus memiliki mekanisme pengawasan dan moderasi konten yang lebih efektif untuk mengidentifikasi dan menghapus komentar-komentar pelecehan secara cepat. Tanggapan yang tegas dan transparan dari pihak-pihak yang bertanggungjawab menjadi landasan pertama untuk memerangi pelecehan seksual berbasis online ini.

Langkah-langkah pencegahan juga menjadi kunci dalam menanggulangi pelecehan seksual. Pendidikan kesadaran yang terfokus pada pengguna platform, terutama pada pembuat konten, dapat membantu meningkatkan kehati-hatian dan respons terhadap komentar-komentar yang menjurus dalam kategori pelecehan.

Seiring itu, perlunya penguatan hukum dan regulasi dalam menghadapi pelecehan seksual online tidak boleh diabaikan. Langkah-langkah kolaboratif antara platform, pembuat konten, pihak berwenang, serta masyarakat menjadi inti dari respons yang efektif.

Melalui pemahaman bersama dan komitmen terhadap keamanan online, kita dapat membangun lingkungan daring yang mendukung dan aman bagi semua pengguna.

Referensi

Hikmawati, Puteri. (2021). Pengaturan Kekerasan Berbasis Gender Online: Perspektif Ius Constitutum dan Ius Constituendum. Jurnal Negara Hukum, Vol. 12, No. 1.

Nugroho, Riant. (2008). Gender dan Strategi Pengarus-utamaannya di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Winarsunu, Tulus. (2008). Psikologi Keselamatan Kerja. Malang: UMM Press.

Yuni Setiowati

By Redaksi Jalan Hijrah

Jalanhijrah.com adalah platform media edukasi dan informasi keislaman dan keindonesiaan yang berasaskan pada nilai-nilai moderasi dan kontranarasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *